Penyebab emosi tidak stabil bisa sangat beragam, mulai dari stres sehari-hari hingga masalah kesehatan mental yang lebih serius. Kondisi ini tidak hanya membuatmu merasa lelah secara emosional, tetapi juga dapat memengaruhi hubunganmu dengan orang lain dan menurunkan produktivitas sehari-hari. 

Emosi adalah reaksi alami tubuh terhadap pengalaman, situasi, atau pikiran dalam kehidupan sehari-hari. Ini bisa berupa rasa bahagia, sedih, marah, cemas, atau takut. Keberadaan emosi ini sangat penting karena membantu manusia beradaptasi, mengambil keputusan, membangun relasi sosial, sekaligus menjadi sinyal terhadap sesuatu yang menyenangkan maupun mengkhawatirkan di sekitar kita.

14 Penyebab Emosi Tidak Stabil yang Penting untuk Diketahui - Alodokter

Pada keadaan tertentu, perubahan emosi secara tiba-tiba bisa terjadi, misalnya saat mendapat kabar mengejutkan, menghadapi tekanan, atau beradaptasi dengan lingkungan baru. Meski begitu, hal ini masih tergolong normal kok. 

Namun, jika perubahan emosi terasa sangat intens, sering, dan sulit diatur hingga mengganggu aktivitas atau hubungan dengan orang lain, kondisi ini tentu patut diwaspadai. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui penyebab emosi tidak stabil agar kamu bisa mengelola emosi dan menjalani hidup dengan lebih seimbang.

Beragam Penyebab Emosi Tidak Stabil yang Sering Terjadi

Berikut ini adalah beberapa faktor utama yang sering menyebabkan emosi seseorang menjadi tidak stabil, baik bersifat sementara maupun kronis:

1. Stres 

Stres adalah reaksi alami tubuh saat menghadapi tekanan, baik dari pekerjaan, tugas sekolah, masalah keluarga, ataupun hubungan sosial. Ketika stres tidak dikelola dengan baik, hormon stres, seperti kortisol, akan meningkat dan mengganggu keseimbangan kimiawi di otak. Akibatnya, emosi pun bisa tidak stabil, seperti cepat marah, mudah menangis, atau tiba-tiba merasa cemas tanpa sebab yang jelas. 

2. Kurang tidur

Kurang tidur bukan hanya membuat tubuh terasa lelah, tetapi juga dapat menjadi penyebab emosi tidak stabil. Pasalnya, saat tubuh tidak mendapatkan waktu tidur yang cukup, proses pemulihan otak terganggu sehingga menyebabkan kemampuan mengatur emosi, konsentrasi, dan respon stres menurun drastis. 

Oleh karena itu, orang yang kurang tidur cenderung lebih mudah tersinggung, sulit mengendalikan amarah, sering merasa sedih, atau bahkan mudah menangis dalam situasi ringan.

3. Perubahan hormon

Perubahan hormon biasanya terjadi pada beberapa fase kehidupan, seperti masa pubertas, menstruasi, kehamilan, atau menopause. Nah, ketika kadar hormon tertentu di tubuh mengalami perubahan, hal itu dapat memicu perubahan suasana hati secara tiba-tiba, misalnya menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, atau marah tanpa alasan yang jelas. 

4. Premenstrual syndrome

Perubahan hormon yang terjadi saat menjelang haid bisa memicu terjadinya premenstrual syndrome (PMS), yaitu kumpulan gejala fisik dan psikologis yang dialami wanita pada 1–2 minggu sebelum menstruasi dimulai. Nah, salah satunya yaitu emosi tidak stabil.

Kondisi ini bisa terjadi karena perubahan hormon menjelang haid menyebabkan fluktuasi zat kimia otak yang mengatur emosi, sehingga menyebabkan perubahan emosi, mulai dari mudah menangis, cemas, hingga kesulitan mengendalikan amarah walaupun pada masalah kecil. 

Meski begitu, setiap wanita dapat mengalami gejala PMS dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Beberapa bahkan merasa kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari atau sulit berinteraksi dengan orang lain selama periode ini.

5. Gangguan kecemasan

Gangguan kecemasan adalah kondisi ketika perasaan cemas, takut, atau khawatir muncul berlebihan dan berlangsung lama. Seseorang dengan gangguan kecemasan sering merasa pikirannya dipenuhi kekhawatiran, sehingga sulit tenang atau santai. Hal ini membuat emosi menjadi tidak stabil atau mendadak panik bahkan dalam situasi sehari-hari yang sebetulnya tidak berbahaya.

Selain menjadi penyebab emosi tidak stabil, kecemasan yang tidak tertangani juga dapat memicu gejala fisik, seperti jantung berdebar, sulit bernapas, hingga gangguan tidur. 

6. Gangguan bipolar

Gangguan bipolar adalah gangguan suasana hati yang ditandai dengan perubahan emosi yang ekstrem, dari fase mania (sangat bahagia) ke fase depresi (sangat sedih) secara tiba-tiba. Pergantian fase ini bisa berlangsung dalam hitungan hari, minggu, atau bulan, dan membuat emosi sulit diprediksi serta sering kali terasa di luar kendali.

7. Depresi

Depresi merupakan gangguan suasana hati berikutnya yang menjadi penyebab emosi tidak stabil. Ketika kondisi ini terjadi, seseorang akan merasakan perasaan sedih yang mendalam dan kehilangan minat terhadap kegiatan sehari-hari untuk waktu yang lama. 

Pada sebagian orang, depresi juga bisa membuatnya jadi lebih sensitif, mudah marah, atau cepat menangis. Mereka juga bisa merasa kosong, tidak berharga, dan sulit bangkit walau dibantu orang sekitar. Bahkan, perubahan emosi ini dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas. 

Selain gejala psikologis, depresi juga bisa menyebabkan keluhan fisik, seperti gangguan tidur, penurunan nafsu makan, dan kelelahan berlebihan. Jika tidak segera diatasi, depresi dapat memburuk dan memengaruhi seluruh aspek kehidupan.

8. Gangguan kepribadian

Gangguan kepribadian, khususnya borderline personality disorder (BPD), menyebabkan cara berpikir, berperilaku, dan berinteraksi dengan orang lain terganggu. Nah, hal ini membuat emosi penderita BPD sangat mudah berubah, bisa dari sedih ke marah dalam waktu singkat tanpa pemicu yang jelas. 

Selain itu, penderita BPD juga kerap merasa kosong, takut ditinggalkan, serta mengalami kesulitan membentuk hubungan yang stabil. Perubahan emosi yang intens dan sering tiba-tiba ini dapat membuat penderita kesulitan menjalani rutinitas harian, beresiko melukai diri sendiri, atau melakukan tindakan impulsif.

9. Efek samping obat-obatan

Beberapa obat-obatan, seperti obat antidepresan, obat kortikosteroid, obat tidur, obat penenang, hingga pil kontrasepsi, juga bisa menjadi penyebab emosi tidak stabil. Soalnya, obat-obatan tersebut dapat mengubah kadar neurotransmitter di otak atau hormon dalam tubuh, sehingga mood dan emosi pun ikut terpengaruh. 

Nah, efek samping yang bisa muncul antara lain perubahan suasana hati tiba-tiba, mudah marah, merasa gelisah atau bahkan depresi. Oleh karena itu, bila Anda merasakan perubahan emosi setelah mengonsumsi obat-obatan tertentu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.

10. Efek konsumsi alkohol atau narkoba

Alkohol dan narkoba dapat memengaruhi sistem saraf pusat sehingga mengganggu keseimbangan zat kimia di otak yang bertanggung jawab terhadap emosi. Konsumsi kedua zat ini dapat membuat suasana hati berubah drastis, mulai dari euforia berlebihan hingga rasa cemas, marah, atau putus asa setelah efeknya hilang. 

Dalam jangka panjang, penggunaan alkohol atau narkoba justru akan memperburuk ketidakstabilan emosi dan meningkatkan risiko ketergantungan serta masalah mental lain, seperti emotional numbness atau mati rasa emosional.

11. Trauma atau pengalaman buruk

Mengalami peristiwa traumatis, seperti kehilangan orang terdekat, perceraian, kekerasan, atau perundungan, dapat dapat meninggalkan luka batin yang mendalam. Luka ini dapat membuat seseorang menjadi lebih sensitif dan sulit mengendalikan emosi sehingga emosi tidak stabil, bahkan untuk waktu yang lama. 

12. Kekurangan nutrisi tertentu 

Zat besi, magnesium, dan vitamin B kompleks adalah nutrisi yang sangat penting untuk otak. Pasalnya, ketiga nutrisi tersebut berperan penting dalam pembentukan neurotransmitter yang mengatur suasana hati.

Nah, ketika ketiga kadar nutrisi tersebut dalam darah rendah, hal itu tentu dapat menyebabkan kadar neurotransmitter di otak juga ikut rendah. Hal ini kemudian menyebabkan kemampuan otak dalam mengendalikan emosi berkurang, sehingga emosi pun tidak stabil.

13. Gangguan tiroid

Tiroid adalah kelenjar di leher yang mengatur banyak proses metabolisme melalui pelepasan hormon tiroid. Bila tiroid bekerja terlalu cepat (hipertiroidisme) atau terlalu lambat (hipotiroidisme), keseimbangan hormon dalam tubuh tentu menjadi terganggu. Nah, hal ini kemudian bisa menyebabkan perubahan emosi, seperti mudah marah, sedih berlebihan, gelisah, dan cemas.

14. Penyakit atau gangguan kesehatan tertentu

Beberapa kondisi medis lain dapat memengaruhi keseimbangan kimia otak dan menjadi penyebab emosi tidak stabil, misalnya gangguan metabolisme, demensia, atau penyakit saraf, seperti multiple sclerosis dan penyakit Parkinson.

Oleh karena itu, apabila kamu merasakan emosi tidak stabil disertai gejala fisik lain, seperti berat badan turun drastis, detak jantung tidak teratur, atau tangan gemetar, jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter.

Risiko dan Dampak Emosi Tidak Stabil

Emosi tidak stabil yang berlangsung lama bisa berdampak pada beragam aspek kehidupanmu. Berikut beberapa risikonya:

  • Lebih mudah mengalami konflik dengan orang terdekat atau rekan kerja
  • Kesulitan untuk fokus, yang kemudian bisa menurunkan prestasi belajar maupun kerja
  • Berisiko mengalami gangguan mental lain, seperti depresi atau mati rasa emosional (emotional numbness)
  • Lebih mudah terdorong untuk menggunakan alkohol atau zat tertentu sebagai pelarian

Jika dibiarkan tanpa penanganan, emosi tidak stabil juga berpotensi dapat merusak hubungan dengan orang lain, menurunkan kepercayaan diri, hingga menimbulkan luka batin yang lebih dalam.

Tips Mengelola Emosi Tidak Stabil

Mengelola emosi memang tidak mudah, tetapi kamu dapat mencoba beberapa cara berikut untuk membantu menstabilkan emosi:

  • Jaga waktu dan kualitas tidur agar tubuh dan pikiran cukup istirahat.
  • Lakukan teknik relaksasi, seperti pernapasan dalam, meditasi, atau olahraga ringan.
  • Berikan ruang untuk diri sendiri, misalnya dengan mengambil jeda singkat saat merasa kewalahan.
  • Ceritakan perasaanmu pada orang yang dipercaya atau tuliskan dalam jurnal.
  • Batasi konsumsi alkohol serta hindari penggunaan narkoba.

Perubahan emosi yang sangat tidak stabil bukanlah sesuatu yang bisa diwajarkan. Oleh karena itu, bila emosimu atau orang terdekat tidak stabil, cari tahu penyebab emosi tidak stabil tersebut dan coba atasi dengan beberapa cara yang telah disebutkan di atas. 

Namun, bila cara tersebut tetap tidak mampu mengontrol emosimu, bahkan sering muncul tanpa sebab yang jelas atau sudah mengganggu aktivitas dan hubungan dengan orang lain, jangan ragu untuk chat psikolog atau psikiater lewat aplikasi ALODOKTER. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan penanganan yang tepat sesuai dengan penyebab emosi tidak stabil yang kamu alami.