Alpentin adalah obat yang bermanfaat untuk menangani kejang pada penderita epilepsi. Obat ini juga bisa digunakan untuk meredakan sindrom kaki gelisah atau nyeri saraf yang muncul akibat herpes. Alpentin mengandung bahan aktif gabapentin.

Kandungan gabapentin di dalam Alpentin termasuk dalam kelompok obat antikonvulsan atau antikejang. Obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf yang berlebihan sehingga gejala kejang dan nyeri saraf mereda. Namun, perlu diketahui bahwa obat ini hanya membantu meredakan gejala epilepsi, bukan menyembuhkan penyakit tersebut.

Alpentin

Alpentin hadir dalam 2 sediaan, yaitu kapsul dengan kandungan 100 mg gabapentin dan kapsul yang berisi 300 mg gabapentin. 

Apa Itu Alpentin

Bahan aktif Gabapentin
Golongan Obat resep
Kategori Antikonvulsan
Manfaat Menangani kejang
Meredakan nyeri saraf setelah herpes
Mengatasi sindrom kaki gelisah
Dikonsumsi oleh Dewasa dan anak-anak
Alpentin untuk ibu hamil Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada ibu hamil.
Obat ini hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.
Alpentin untuk ibu menyusui Alpentin umumnya aman dipakai oleh ibu menyusui selama digunakan sesuai anjuran dokter. Namun, disarankan untuk berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu terkait penggunaan obat ini.
Bentuk obat Kapsul

Peringatan sebelum Mengonsumsi Alpentin

Sebelum mengonsumsi Alpentin, Anda perlu memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Beri tahu dokter mengenai riwayat alergi yang Anda miliki. Alpentin tidak boleh digunakan oleh orang yang alergi terhadap gabapentin.
  • Informasikan kepada dokter jika Anda pernah atau sedang menderita penyakit ginjal, gangguan pernapasan, diabetes, depresi, myasthenia gravis, atau penyalahgunaan alkohol maupun NAPZA.
  • Diskusikan dengan dokter terkait penggunaan Alpentin jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan.
  • Informasikan kepada dokter jika Anda sedang menggunakan obat lain, termasuk suplemen atau produk herbal. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi terjadinya interaksi antarobat.
  • Diskusikan dengan dokter perihal manfaat dan risiko penggunaan Alpentin pada lansia. Pengguna lansia rentan mengalami efek samping berupa linglung dan cedera karena jatuh.
  • Jangan langsung mengemudi atau melakukan aktivitas lain yang memerlukan kewaspadaan setelah mengonsumsi Alpentin. Obat ini dapat menyebabkan pusing dan kantuk.
  • Segera temui dokter jika mengalami reaksi alergi obat setelah menggunakan Alpentin.

Dosis dan Aturan Pakai Alpentin

Berikut ini adalah dosis umum penggunaan Alpentin berdasarkan usia dan kondisi  pasien:

Kondisi: Kejang akibat epilepsi

  • Dewasa: 300 mg 1 kali sehari pada hari pertama, 300 mg 2 kali sehari pada hari kedua, dan 300 mg 3 kali sehari pada hari ketiga. Dosis harian umumnya 300–600 mg, 3 kali sehari. Dosis maksimal 3.600 mg per hari, dibagi dalam 3 dosis terpisah.
  • Anak usia ≥3 tahun: Dosis awal 10–15 mg/kgBB. Dosis dapat ditingkatkan setiap 3 hari hingga mencapai dosis yang efektif. Dosis maksimal 50 mg/kgBB.

Kondisi: Nyeri saraf setelah herpes

  • Dewasa: 300 mg 1 kali sehari pada hari pertama, 300 mg 2 kali sehari pada hari kedua, dan 300 mg 3 kali sehari pada hari ketiga. Dosis dapat ditingkatkan sesuai respons pasien sampai maksimal 600 mg 3 kali sehari.

Kondisi: Sindrom kaki gelisah

  • Dewasa: 600 mg, 1 kali sehari. Obat ini sebaiknya diminum pada pukul 5 sore bersama makanan.

Cara Mengonsumsi Alpentin dengan Benar

Alpentin dapat dibeli di apotek dengan resep dokter. Ikuti anjuran dokter dan baca informasi yang tertera pada label kemasan obat sebelum mengonsumsi obat ini. Jangan mengurangi atau menambah dosis tanpa persetujuan dokter.

Berikut ini adalah cara menggunakan Alpentin dengan benar:

  • Konsumsilah obat ini sebelum atau sesudah makan.
  • Telan kapsul Alpentin secara utuh dengan segelas air. Jangan membuka, menghancurkan, atau mengunyah kapsul sebelum ditelan.
  • Konsumsilah Alpentin pada jam yang sama setiap harinya agar mendapat manfaat maksimal obat. Jika Anda minum Alpentin 3 kali sehari untuk mengendalikan kejang, pastikan jarak waktu antardosis tidak lebih dari 12 jam.
  • Jika Anda mengonsumsi obat yang mengandung aluminium atau magnesium, seperti antasida, beri jarak minimal 2 jam sebelum mengonsumsi Alpentin.
  • Jangan berhenti mengonsumsi obat ini secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan dokter karena dapat membuat kondisi kambuh atau memburuk. Tetaplah minum Alpentin meski kondisi sudah membaik, kecuali jika diarahkan oleh dokter. 
  • Jika Anda lupa mengonsumsi Alpentin, segera minum obat ini begitu teringat. Namun, bila waktu minum obat berikutnya sudah dekat, abaikan dosis yang terlewat dan jangan menggandakan dosis selanjutnya. 
  • Simpan Alpentin di tempat bersuhu ruangan dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak.

Interaksi Alpentin dengan Obat Lain

Kandungan gabapentin dalam Alpentin dapat menyebabkan interaksi obat jika digunakan bersama obat-obat tertentu. Efek interaksi obat yang dapat terjadi bisa berupa:

  • Penurunan efektivitas Alpentin jika digunakan berbarengan atau dalam waktu dekat dengan antasida yang mengandung aluminium atau magnesium.
  • Peningkatan risiko terjadinya kantuk berat dan gangguan sistem pernapasan jika digunakan dengan obat pereda nyeri jenis opioid, seperti tramadol; antihistamin (antialergi), seperti loratadine; antidepresan, seperti fluoxetine; atau antiansietas, seperti alprazolam.
  • Peningkatan risiko terjadinya efek samping jika digunakan dengan obat batuk atau flu yang dijual bebas.

Untuk mencegah terjadinya efek interaksi obat, diskusikan dengan dokter jika Anda berencana menggunakan Alpentin bersama obat, suplemen, atau produk herbal apa pun.

Efek Samping dan Bahaya Alpentin

Mengingat Alpentin mengandung gabapentin, ada efek samping yang mungkin terjadi setelah minum obat ini, antara lain:

  • Pusing
  • Kantuk 
  • Sakit kepala
  • Mual atau muntah
  • Penglihatan buram
  • Diare
  • Sembelit 
  • Perut kembung
  • Demam 

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika keluhan di atas tidak segera mereda atau makin berat. Segera cari pertolongan medis jika mengalami reaksi alergi obat atau efek samping yang lebih serius, seperti:

  • Kantuk yang sangat berat atau penurunan kesadaran
  • Linglung
  • Lemah atau lemas
  • Gangguan gerak dan keseimbangan
  • Sakit perut yang tidak kunjung hilang
  • Pembengkakan pada tangan atau kaki
  • Depresi
  • Keinginan untuk mencelakakan diri sendiri atau orang lain
  • Sesak napas