Untuk mengetahui apakah seorang pasien menderita penyakit asma, dokter perlu melakukan sejumlah tes. Namun sebelum tes dilakukan, dokter biasanya akan mengajukan pertanyaan seputar gejala yang dirasakan, misalnya apakah pasien suka mengalami sesak napas, nyeri dada, mengi, sulit bicara, dan kondisi bibir atau kuku berubah warna menjadi kebiruan.

Jika jawabannya positif, maka selanjutnya dokter akan bertanya mengenai waktu kemunculan gejala tersebut. Misalnya apakah ketika malam hari atau dini hari, ketika berolahraga, ketika merokok, ketika berada di dekat binatang berbulu, ketika tertawa, ketika merasa stres, atau tidak bisa diprediksi. Selain itu, dokter juga perlu menanyakan apakah pasien memiliki keluarga yang memiliki riwayat penyakit asma atau alergi.

Jika seluruh keterangan yang diberikan oleh pasien mengarah pada penyakit asma, maka selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik dan tes laboratorium.  Tes laboratorium bisa dilakukan untuk memperkuat bukti. Tes yang paling sering dilakukan adalah spirometri. Di dalam tes ini, pasien akan diminta dokter untuk menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secepat mungkin ke sebuah alat yang dinamakan spirometer. Tujuan tes ini adalah untuk mengukur kinerja paru-paru dengan berpatokan kepada volume udara yang dapat pasien embuskan dalam satu detik dan jumlah total udara yang diembuskan.  Adanya hambatan pada saluran pernapasan yang mengarah kepada asma dapat diketahui oleh dokter setelah membandingkan data yang didapat dengan ukuran yang dianggap sehat pada orang-orang seusia pasien. Selain berpatokan pada ukuran sehat, asma juga bisa dideteksi melalui spirometri dengan cara membandingkan data awal dengan data setelah pasien diberikan obat inhaler. Jika setelah diberikan inhaler hasilnya menjadi lebih bagus, maka pasien kemungkinan besar menderita asma.

Tes berikutnya yang bisa dipakai untuk mendiagnosis asma adalah tes kadar arus ekspirasi puncak.  Di dalam tes yang dibantu dengan alat bernama peak flow meter (PFM) ini , kecepatan udara dari paru-paru dalam sekali napas yang bisa diembuskan oleh pasien akan diukur guna mendapatkan data tingkat arus ekspirasi puncak (PEFR). Dokter biasanya menyarankan pasien untuk membeli sebuah PFM untuk digunakan di rumah, serta membuat sebuah catatan PEFR tiap harinya. Selain itu, pasien juga akan disarankan untuk mencatat tiap gejala yang muncul agar dokter bisa mengetahui kapan asma memburuk.

Jika pasien merasa bahwa gejala gangguan pernapasan kerap pulih ketika sedang tidak bekerja, kemungkinan pasien mengidap asma yang berkaitan dengan kondisi pekerjaan. Kemungkinan di tempat pasien bekerja terdapat zat-zat yang memicu kambuhnya gejala asma.  Hal ini biasanya terjadi pada orang-orang yang berprofesi sebagai perawat, pegawai pabrik pengolahan bahan kimia, staf laboratorium, tukang cat, tukang las, pekerja pengolahan kayu, pengurus hewan, dan pekerja pengolahan makanan. Untuk mendukung diagnosis, biasanya dokter akan meminta pasien melakukan tes aliran ekspirasi puncak (PEFR) dengan menggunakan peak flow meter (PFM), baik di tempat bekerja maupun di luar lingkungan kerja. Dari data yang didapat, dokter bisa memperkirakan apakah pasien mengidap asma akibat pekerjaan.

Jika Anda terdiagnosis mengidap asma akibat paparan zat di lingkungan pekerjaan, informasikan hasil diagnosis tersebut kepada perusahaan tempat Anda bekerja, terutama pada bagian layanan kesehatan kerja. Perusahaan memiliki tanggung jawab untuk menjamin kesehatan karyawan.

Contohnya, apabila asma Anda dipicu kandungan zat yang ada pada bahan baku produksi, maka minta perusahaan untuk memberi Anda perlengkapan yang dapat melindungi diri dari paparan zat tersebut atau memindahkan Anda ke divisi lain yang tidak melibatkan pengolahan secara langsung. Hal ini bisa coba Anda ajukan apabila perusahaan tidak memungkinkan untuk mengganti bahan-bahan produksi tersebut dengan bahan-bahan yang lebih aman.

Jika dalam waktu setahun Anda tetap sering terkena asma ketika berada di tempat kerja, maka pertimbangkan untuk mencari pekerjaan baru.

Tes lainnya

Selain spirometri dan tes kadar arus ekspirasi puncak, beberapa tes lainnya mungkin dibutuhkan pasien untuk memperkuat dugaan asma atau membantu mendeteksi penyakit-penyakit selain asma. Contoh-contoh tes tersebut adalah:

  • Tes untuk melihat adanya peradangan pada saluran napas. Dalam tes ini, dokter akan mengukur kadar oksida nitrat dalam napas ketika pasien bernapas. Jika kadar zat tersebut tinggi, maka bisa jadi merupakan tanda-tanda peradangan pada saluran pernapasan. Selain oksida nitrat, dokter juga akan mengambil sampel dahak untuk mengecek apakah paru-paru pasien mengalami radang.
  • Tes responsivitas saluran napas (uji provokasi bronkus). Tes ini digunakan untuk memastikan bagaimana saluran pernapasan pasien bereaksi ketika terpapar salah satu pemicu asma. Dalam tes ini, pasien biasanya akan diminta menghirup serbuk kering (mannitol). Setelah itu pasien akan diminta untuk menghembuskan napas ke dalam spirometer untuk mengukur seberapa tinggi tingkat perubahan FEV1 dan FVC setelah terkena pemicu. Jika hasilnya turun drastis, maka dapat diperkirakan pasien mengidap asma. Pada anak-anak, selain mannitol, media yang bisa dipakai untuk memicu asma adalah olah raga.
  • Pemeriksaan status alergi. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah gejala-gejala asma yang dirasakan oleh pasien disebabkan oleh alergi. Misalnya alergi pada makanan, tungau, debu, serbuk sari, atau gigitan serangga.
  • CT Scan. Pemeriksaan ini bisa dilakukan oleh dokter apabila mencurigai bahwa gejala sesak napas pada diri pasien bukan disebabkan oleh asma, melainkan infeksi di dalam paru-paru atau kelainan struktur rongga hidung.
  • Pemeriksaan rontgen. Tujuan dilakukannya pemeriksaan ini sama seperti pemeriksaan CT Scan, yaitu untuk melihat apakah gangguan pernapasandisebabkan oleh kondisi lain.