Komplikasi yang terjadi akibat Bell’s palsy sangat bergantung pada kerusakan saraf yang terjadi. Kebanyakan penderita Bell’s palsy akan pulih dengan sendirinya dalam jangka waktu sembilan hingga sepuluh bulan. Tapi komplikasi jangka panjang bisa terjadi terutama jika Anda:

  • Berusia lebih dari 60 tahun.
  • Mengalami rasa sakit parah ketika gejala pertama muncul.
  • Mengalami lumpuh wajah total pada salah satu sisi wajah.
  • Mengalami kerusakan saraf wajah yang parah.
  • Memiliki penyakit hipertensi atau penyakit diabetes.
  • Sedang hamil.
  • Tanda-tanda pemulihan hanya mulai setelah dua bulan.
  • Tidak mengalami tanda-tanda pulih setelah menderita selama empat bulan.

Beberapa penderita Bell’s palsy akan mengalami kembali penyakit tersebut di masa mendatang pada sisi wajah lainnya. Kondisi ini biasanya terjadi apabila Bell’s palsy terkait dengan faktor genetik atau turunan.

Berikut ini beberapa komplikasi jangka panjang yang bisa disebabkan oleh Bell’s palsy:

  • Kelemahan wajah. Sekitar dua hingga tiga dari sepuluh orang penderita Bell’s palsy akan mengalami kelemahan wajah permanen. Beberapa anak terlahir dengan lumpuh wajah dan sebagian lainnya menderita kelemahan wajah setelah mengalami cedera pada saraf wajah.
  • Gangguan bicara. Kondisi ini muncul sebagai akibat dari kerusakan pada otot-otot wajah penderita Bell’s palsy.
  • Mata kering dan ulkus kornea. Ulkus kornea bisa muncul karena kelopak mata terlalu lemah untuk bisa menutup sepenuhnya. Akibatnya, lapisan pelindung mata menjadi tidak berfungsi dengan baik. Kondisi ini bisa menyebabkan kebutaan dan infeksi mata.
  • Indera perasa berkurang atau hilang. Kondisi ini bisa terjadi jika kerusakan saraf tidak bisa kembali pulih dengan baik. Sebagian juga sering mengeluarkan air mata saat makan.
  • Kontraktur wajah. Kondisi ini terjadi ketika otot-otot wajah mengalami ketegangan secara permanen. Cacat wajah, mata mengecil, pipi menebal, dan garis antara hidung dan mulut bertambah dalam sebagai akibat dari kontraktur otot-otot wajah.
  • Sinkinesis mata dan mulut. Kondisi ini muncul ketika saraf wajah tumbuh kembali dengan cara yang berbeda. Ketika makan, tertawa, atau tersenyum, mata bisa berkedip. Pada kondisi yang parah, mata akan tertutup sepenuhnya ketika makan.