Bell’s palsy disebabkan oleh saraf yang mengendalikan otot atau saraf wajah yang mengalami peradangan atau terhimpit. Dari otak, saraf wajah melewati celah sempit di dekat rahang bagian atas. Ketika saraf wajah ini terhimpit atau mengalami peradangan, sinyal yang dikirimkan otak menuju ke otot wajah akan terganggu. Gangguan inilah yang menghambat pasokan darah dan oksigen menuju ke sel-sel saraf, akibatnya terjadi kelemahan atau kelumpuhan pada wajah.

Penyebab iritasi saraf ini masih belum diketahui secara jelas, namun virus herpes diduga kuat menjadi penyebab utama masalah ini. Ada dua jenis virus herpes yang diduga dapat menyebabkan iritasi saraf pada waja, yakni:

  • Virus herpes simpleks (HSV). Ada dua jenis virus herpes simpleks yang diduga mampu mengiritasi saraf wajah, yakni HSV tipe 1 yang menyebabkan cold sore (lepuhan pada daerah bibir) dan HSV tipe 2, yang menjadi penyebab herpes genitalis.
  • Virus varisela zoster. Jenis virus ini yang menyebabkan cacar air dan cacar api. Virus ini lebih jarang menyebabkan Bell’s palsy, tapi bisa menyebabkan kondisi yang lebih serius, yakni sindrom Ramsay-Hunt

Selain virus herpes, beberapa kondisi infeksi virus lain juga diduga mampu menyebabkan Bell’s Palsy, antara lain:

  • Penyakit Lyme. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang disebarkan oleh kutu.
  • Sifilis. Penyakit ini disebabkan oleh virus Treponema pallidum.
  • Virus Epstein-Barr. Virus jenis ini menyebabkan demam kelenjar.
  • Cytomegalovirus. Virus ini termasuk dalam kelompok virus herpes. Virus ini bisa menyebabkan gejala yang mirip seperti flu, demam kelenjar, sakit tenggorokan, dan pembengkakan kelenjar.

HIV dan diabetes juga berpeluang menyebabkan Bell’s palsy, meski hingga kini alasannya belum diketahui dengan pasti. Infeksi saluran pernapasan atas juga bisa menjadi faktor yang meningkatkan risiko mengalami Bell’s palsy.

Pada wanita yang sedang dalam kondisi hamil dan memasuki semester ketiga juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami Bell’s palsy. Penyakit ini bisa terjadi pada minggu pertama wanita yang baru saja melahirkan. Selain itu, faktor keturunan juga berpengaruh dalam meningkatkan risiko mengalami Bell’s palsy. Dengan kata lain,seseorang lebih berisiko mengalami Bell’s palsy jika ada anggota keluarganya dengan kondisi tersebut.