Anak lebih sering mengonsumsi minuman manis daripada air mineral? Hati-hati, Bunda, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan yang merugikan Si Kecil.

Jarang makan cokelat, permen, ataupun kue bukan berarti konsumsi gula sudah terkontrol. Coba teliti kembali kadar gula dalam minuman-minuman yang sering dikonsumsi anak. Jangan-jangan jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang didapatkan dari makanan utama.

Bunda Perlu Tahu Risiko Kesehatan Minuman Manis untuk Anak - Alodokter

Ada Berapa Sendok Gula dalam Minuman Anak?

Selain berperan penting dalam menambah rasa, gula sebenarnya menghasilkan energi untuk kerja otot. Namun, seringkali minuman manis mengandung lebih banyak gula dari yang dibutuhkan. Para ahli menyarankan anak mengonsumsi tidak lebih dari 226 gram gula atau kurang dari 6 sendok makan gula per minggu. Sementara satu kaleng soda 350 ml saja sudah mengandung gula lebih dari itu.

Gula dalam kadar berlebih ini bisa ditemukan tidak hanya dalam minuman ringan, tapi juga dalam minuman olahraga, teh, kopi, minuman bervitamin, minuman mineral dengan rasa tertentu, hingga jus buah dalam kemasan.

Berikut beberapa jenis minuman dan kandungan gula di dalamnya:

  • 1,5 liter minuman cola dapat mengandung 15-18 sendok teh gula.
  • 600 ml minuman ringan dapat mengandung 16 sendok teh gula.
  • 600 ml minuman olahraga bisa mengandung 11,5 sendok teh gula.
  • 300 ml susu kaya lemak kurang lebih mengandung 7 sendok teh gula.
  • 250 ml jus jeruk mengandung 5 sendok teh gula.
  • 200 ml jus buah lain dapat mengandung 4,5 sendok teh gula.
  • 250 ml minuman berenergi mengandung hampir 7 sendok teh gula.
  • 600 ml minuman olahraga mengandung 9 sendok teh gula.

Dalam label kemasan, Bunda perlu cermat karena gula dalam minuman anak-anak tidak selalu ditulis sebagai “gula.” Bunda dapat mengenali berbagai nama lain seperti: gula jagung, brown sugar, sirup jagung, fruktosa, glukosa, dextrose, madu, laktosa, sirup malt, maltose, molasses, gula mentah, atau sukrosa.

Efek Pahit Minuman Manis untuk Kesehatan Anak

Minuman manis memang tinggi energi tetapi sangat kecil nutrisinya. Ada pula minuman dengan pemanis buatan yang tidak menambah berat badan, namun tetap saja membuat anak menjadi terbiasa untuk mengonsumsi lebih banyak minuman manis.

Di bawah ini, Bunda dapat menyimak efek negatif terlalu banyak minum minuman manis, antara lain:

  • Anak yang terlalu banyak minum minuman yang mengandung gula lebih sulit mengontrol berat badan.
  • Anak berisiko mengalami gigi berlubang jika sering minum minuman manis dan asam.
  • Anak juga cenderung menjadi pemilih makanan (picky eating), kurang nafsu makan, serta dapat mengalami gangguan buang air besar.
  • Anak yang sering mengonsumsi minuman manis juga lebih berisiko mengalami gangguan pencernaan, seperti diare, sehingga tidak mendapatkan nutrisi dan energi yang cukup.
  • Anak yang terbiasa minum soda hampir pasti akan lebih banyak lagi minum soda setelah dewasa. Selain gula, soda juga sering mengandung kafein yang tidak dibutuhkan anak.
  • Anak yang mengonsumsi terlalu banyak gula lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan seperti hipertensi, kegemukan, hingga penyakit jantung saat dewasa.

Mengingat banyak efek negatif gula dalam minuman seperti di atas, kini saatnya Bunda untuk membiasakan anak minum minuman yang lebih sehat.

Memberi Minuman yang Sehat untuk Anak

Jika anak sudah terbiasa minum minuman manis, perlu waktu untuk membatasi konsumsi minuman ini. Berikut panduan yang dapat diterapkan:

  • Berikan ASI

ASI adalah minuman terbaik untuk anak di bawah satu tahun. Setelah itu Bunda dapat memberikan air mineral dan susu.

  • Beri susu setelah usia 2 tahun

Setelah usia 2 tahun, susu yang diberikan dapat berupa susu dengan lemak terbatas. Susu tanpa rasa lebih baik dibanding susu manis yang pasti dengan kadar gula tinggi. Ada baiknya Bunda memberikan susu rendah lemak (1%) atau susu tanpa lemak. Selain itu, biasakan juga anak untuk minum air mineral atau air putih.

  • Hindari kebiasaan memberi susu botol

Sebaiknya Bunda tidak membiasakan susu botol sebagai sarana penenang bayi. Selain itu sebaiknya bayi sudah tidak lagi minum dari susu botol setelah melewati usia setahun.

  • Biasakan anak mengonsumsi buah dan sayuran segar

Daripada minum jus buah dalam kemasan, biasakan anak untuk makan buah dan sayuran segar. Selain kaya serat, makan buah dan sayur dapat mengajarkan anak akan rasa dan tekstur berbeda, dan dapat menjadi alternatif makanan ringan yang sehat. Jika anak tidak suka makan buah dan memang perlu minum jus, Bunda dapat memastikan jus dibuat dari buah dan sayuran segar dan bersih, dengan tambahan gula yang secukupnya saja.

  • Batasi minuman soda

Sebaiknya tidak melarang anak untuk minum minuman soda sama sekali. Ini justru akan membuat minuman soda menjadi semakin menarik untuk dicoba. Batasi saja agar dikonsumsi sesekali, seperti saat pesta ulang tahun, dalam kadar minimal.

  • Sport drink hanya diberikan bila dianjurkan dokter

Minuman olahraga dapat menggantikan cairan, elektrolit dan gula yang hilang saat melakukan aktivitas fisik yang membuat berkeringat. Tetapi hindari memberikan minuman ini berlebihan pada anak-anak, karena kadar kandungan nutrisinya belum tentu sesuai untuk konsumsi anak-anak, sehingga berisiko menyebabkan sakit perut dan jantung berdebar. Konsultasikan terlebih dahulu pada dokter mengenai keamanan anak dalam mengonsumsi minuman ini.

Hal yang tak kalah penting, membatasi anak mengonsumsi minuman manis berarti Bunda juga perlu menerapkan hal yang sama. Dengan terbiasa mengonsumsi minuman sehat dan juga pola makan sehat, Bunda dapat memberi contoh dan mendidik kebiasaan makan dan minum yang sehat pada anak, sehingga dapat mengurangi risiko terjadinya penyakit berbahaya di kemudian hari.