Detak jantung 50 apakah normal sering menjadi pertanyaan, terutama jika hasil pemeriksaan menunjukan hasilnya lebih rendah dari angka acuan umum. Temuan ini memang bisa membuat Anda khawatir, apalagi bila dibarengi dengan rasa lemas atau keluhan lainnya.
Denyut jantung seseorang secara alami dapat bervariasi, tergantung pada usia, tingkat aktivitas, dan kondisi fisik. Detak jantung pada orang dewasa sehat umumnya berkisar antara 60–100 kali per menit. Maka tidak heran jika pertanyaan detak jantung 50 apakah normal sering muncul dan menjadi kekhawatiran banyak orang.

Beberapa orang memang bisa memiliki detak jantung di bawah kisaran tersebut, tetapi tidak selalu berarti mengalami gangguan kesehatan. Berbagai faktor, seperti kebiasaan olahraga rutin, waktu tidur, hingga penggunaan obat tertentu, juga dapat memengaruhi kecepatan detak jantung.
Penjelasan Detak Jantung 50 Apakah Normal
Detak jantung 50 per menit disebut bradikardia, yaitu kondisi ketika denyut jantung bekerja lebih lambat dari kisaran normal. Pada sebagian orang, kondisi ini masih dapat dianggap wajar, terutama bila tidak menimbulkan keluhan atau gangguan aktivitas sehari-hari.
Pada individu yang sangat aktif atau atlet, detak jantung 50 umumnya normal. Latihan fisik intens membuat jantung lebih efisien memompa darah, sehingga tidak perlu berdetak lebih cepat. Kondisi ini biasanya tidak disertai gejala yang mengganggu.
Detak jantung juga bisa melambat secara alami saat tidur. Pada fase istirahat tersebut, denyut jantung dapat turun hingga 40–60 kali per menit dan hal ini termasuk respons tubuh yang normal selama tidak ada keluhan lain.
Namun, detak jantung 50 perlu diwaspadai bila disertai gejala lain, seperti pusing, mudah lelah, lemas, nyeri dada, sesak napas, atau pingsan. Gejala tersebut bisa menandakan adanya gangguan irama jantung atau masalah kesehatan lain, terutama pada lansia atau penderita penyakit jantung.
Jadi, detak jantung 50 apakah normal atau tidak tergantung pada penyebabnya. Memahami penyebabnya penting agar Anda dapat membedakan kondisi yang masih wajar dari yang perlu diperhatikan lebih lanjut.
Penyebab Detak Jantung Lebih Rendah dari Normal
Detak jantung yang lebih rendah dari kisaran normal dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang bersifat formal maupun terkait masalah kesehatan tertentu.
Berikut ini adalah beberapa kondisi yang dapat membuat detak jantung turun hingga mencapai sekitar 50 kali per menit:
1. Aktivitas fisik dan olahraga teratur
Olahraga rutin membuat jantung bekerja lebih efisien sehingga tidak perlu berdetak secepat biasanya. Pada orang yang aktif, detak jantung 50 per menit bisa merupakan adaptasi tubuh yang sehat.
Latihan fisik jangka panjang juga dapat memperkuat otot jantung, sehingga volume darah yang dipompa tiap denyut meningkat. Kondisi ini menyebabkan jantung dapat memenuhi kebutuhan tubuh dengan detakan yang lebih sedikit.
2. Pengaruh obat-obatan
Obat-obatan tertentu, seperti beta blocker, obat tekanan darah, dan obat penenang dapat memperlambat sinyal listrik jantung. Efek ini dapat menurunkan detak jantung, terutama pada dosis yang lebih tinggi.
Pada sebagian orang, kombinasi beberapa obat dapat semakin menurunkan denyut nadi. Karena itu, evaluasi obat sangat penting jika detak jantung turun terlalu rendah atau menimbulkan keluhan.
3. Gangguan listrik jantung (bradikardia sinus, blok AV)
Masalah pada sistem penghantar listrik jantung dapat membuat sinyal yang mengatur detak menjadi lebih lambat. Hal ini dapat menyebabkan bradikardia yang menimbulkan gejala lain, seperti pusing atau mudah lelah.
Pada kondisi tertentu, hambatan pada jalur listrik jantung dapat mengganggu komunikasi antara bilik atas dan bawah jantung. Hal ini bisa memerlukan penanganan medis, termasuk pemasangan alat pacu jantung.
4. Gangguan tiroid (hipotiroidisme)
Kurangnya hormon tiroid memperlambat metabolisme tubuh, termasuk kecepatan jantung. Hipotiroidisme dapat menyebabkan detak jantung lebih rendah dari normal, terutama bila tidak terdiagnosis.
Selain menurunkan detak jantung, hipotiroidisme juga dapat menyebabkan kelelahan, berat badan meningkat, dan intoleransi terhadap udara dingin. Pemeriksaan darah dibutuhkan untuk memastikan diagnosisnya.
5. Gangguan keseimbangan elektrolit
Ketidakseimbangan elektrolit, seperti rendahnya kalium, natrium, atau kalsium dapat memengaruhi impuls listrik jantung. Kondisi ini dapat menyebabkan detak jantung melambat dan irama menjadi tidak stabil.
Elektrolit yang terganggu dapat terjadi akibat dehidrasi, diare berat, penyakit ginjal, atau penggunaan obat tertentu. Koreksi kadar elektrolit biasanya membantu mengembalikan irama jantung ke kondisi normal.
Selain itu, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya detak jantung di bawah normal, antara lain:
- Berusia lanjut
- Menderita tekanan darah tinggi (hipertensi)
- Mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan
- Memiliki kebiasaan merokok
- Menyalahgunakan NAPZA
- Mengalami stres atau gangguan kecemasan
Jika detak jantung 50 terjadi tanpa keluhan dan Anda aktif berolahraga, kondisi ini umumnya masih tergolong normal. Namun, Anda perlu waspada bila Anda mengalami gejala lain, seperti mudah lelah, pusing, sesak napas, nyeri dada, penglihatan kabur, atau sering pingsan.
Segera lakukan pemeriksaan ke dokter bila mengalami gejala tersebut. Pemeriksaan dan penanganan lebih awal perlu dilakukan agar komplikasi akibat bradikardia bisa dicegah.
Selain itu, menjaga pola hidup sehat dan memantau denyut jantung secara berkala juga penting dilakukan, apalagi jika Anda memiliki riwayat penyakit jantung, tekanan darah rendah, atau faktor risiko lainnya. Rutin berolahraga, tidur cukup, serta mengelola stres dapat membantu menjaga kesehatan jantung.
Jika Anda masih ragu mengenai detak jantung 50 apakah normal atau tidak, Anda bisa mengonsultasikannya ke dokter melalui Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER. Dengan konsultasi ini, Anda akan mendapatkan informasi awal secara cepat.