Interferon adalah protein alami yang diproduksi tubuh sebagai respon tubuh dalam melawan senyawa berbahaya, seperti virus, bakteri, atau kanker. Interferon juga tersedia dalam bentuk obat. Interferon dalam bentuk obat bekerja dengan meningkatkan respon kekebalan tubuh dan menghambat pertumbuhan virus, bakteri, atau kanker.

Pada dasarnya interferon terbagi lagi dalam 3 kelompok besar, yakni Alfa, Beta, dan Gamma. Masing-masing kelompok tersebut memiliki tipe obat dengan fungsi, merk dagang, dan dosis yang berbeda-beda. Di Indonesia, terdapat 4 tipe interferon, yakni:

  • Interferon Alfa-2a: Digunakan untuk mengatasi Leukemia jenis sel berambut dan myeloid kronis, sarkoma Kaposi terkait AIDS, hepatitis C kronis, hepatitis B kronis, kanker ginjal, melanoma, serta limfoma jenis sel-T kutaneus dan folikular.
  • Interferon Alfa-2b: Digunakan untuk mengatasi condyloma acuminata (kutil kelamin), Leukemia sel berambut, Leukemia myeloid kronis, Hepatitis C kronis, Hepatitis B kronis aktif, melanoma, sarkoma Kaposi terkait AIDS, tumor karsinoid, limfoma folikular, dan multiple myeloma.
  • Interferon Beta-1a: Digunakan untuk mengatasi multiple sclerosis.
  • Interferon Beta-1b: Digunakan untuk mengatasi multiple sclerosis kambuhan.

Interferon-alodokter

Peringatan:

  • Jangan menggunakan interferon bila pernah atau sedang menderita hepatitis autoimun, gagal hati, gagal ginjal, atau depresi berat.
  • Harap berhati-hati bagi yang mengidap gangguan jantung, kejang-kejang, gangguan ginjal yang parah, gangguan mental (misalnya depresi), diabetes, epilepsi, gangguan hati, trombositopenia, serta anemia.
  • Hati-hati dalam menggunakan interferon bila pernah atau sedang menderita gangguan jantung, kejang, hipotiroidisme, hipertiroidisme, diabetes, gangguan paru, gangguan pembekuan darah, atau gangguan mental.
  • Beri tahu dokter jika tengah menerima obat-obatan lain, termasuk suplemen dan produk herba.
  • Segera temui dokter apabila terjadi reaksi alergi atau overdosis.

Efek samping dari penggunaan interferon berbeda-beda, tergantung jenis dan tipe obat. Efek samping yang dapat terjadi, meliputi:

  • Sakit kepala
  • Demam
  • Nyeri otot

Penggunaan Interferon pada Ibu Hamil dan Menyusui

Interferon Alfa-2a dan Alfa-2b serta interferon Beta-1a dan Beta-1b masuk dalam kategori C untuk ibu hamil. Itu menandakan bahwa studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.

Lalu, bagi ibu menyusui, keempat tipe interferon tersebut belum diketahui dapat diserap ke dalam ASI atau tidak. Maka dari itu, diskusikan kembali dengan dokter terkait manfaat dan risiko penggunaan interferon.

Dosis interferon

Interferon tersedia dalam bentuk suntik. Pemberian interferon dapat dilakukan melalui suntik intramuskular (otot) atau subkutan (bawah kulit). Dokter akan menyesuaikan metode pemberian obat dengan kondisi pasien serta tipe obat yang digunakan.

Secara umum, interferon hanya diresepkan bagi orang dewasa. Pemberian dosis interferon pun berbeda-beda, tergantung tipe obat serta kondisi kesehatan pasien. Berikut adalah dosis umum penggunaan interferon:

Jenis Obat Merk Dagang Kondisi Dosis
Interferon Alfa-2a Pegasys Leukemia sel berambut 3 juta unit/hari, selama 16-24 minggu. Dosis pemeliharaan adalah 3 juta unit, 3 kali/minggu.
    Sarkoma Kaposi terkait AIDS Dosis bertahap, 3 juta unit untuk 3 hari awal, lalu menjadi 9 juta unit untuk 3 hari selanjutnya, dan 18 juta unit 3 hari setelahnya, hingga 36 juta unit/hari.
    Hepatitis C kronis Dosis awal adalah 3-6 juta unit, 3 kali/minggu selama 6 bulan.
    Kanker ginjal Dosis bertahap, 3 juta unit, diberikan 3 kali/minggu, selama 1 minggu. Lalu 9 juta unit, 3 kali/minggu 1 minggu berikutnya. Kemudian 18 juta unit, 3 kali/minggu, selama 3-12 bulan.
    Limfoma sel-T kuteneus Masa penggunaan obat selama 12 minggu, dengan dosis obat adalah 3 juta unit/hari selama 3 hari awal, 9 juta unit/hari selama 3 hari kemudian, dan 18 juta unit/hari setelahnya hingga masa pengobatan selesai.
    Leukemia myeloid kronis Dosis bertahap, 3 juta unit/hari selama 3 hari awal, 6 juta unit/hari selama 3 hari kemudian, dan 9 juta unit/hari setelahnya.
    Hepatitis B kronis 2,5-5 juta unit/m2 luas permukaan tubuh, 3 kali/minggu selama 4-6 bulan.
    Limfoma folikular 6 juta unit/m2 luas permukaan tubuh/hari pada hari ke 22-26 dari dalam 28 hari siklus kemoterapi.
    Melanoma 3 juta unit, 3 kali/minggu selama 18 bulan.
Interferon Alfa-2b Peg intron Condyloma acuminata (kutil kelamin) Tiap luka/benjolan diinjeksikan 1 juta unit, 3 kali/minggu selama 3 minggu. Maksimal 5 luka/benjolan tiap pengobatan.
    Leukemia sel berambut 2 juta unit/m2 luas permukaan tubuh, 3 kali/minggu selama 6 bulan atau lebih.
    Hepatitis C kronis 3 juta unit, 3 kali/minggu selama 6-18 bulan.
    Hepatitis B kronis aktif 5-10 juta unit, 3 kali/minggu selama 4-6 bulan.
    Melanoma Dosis awal adalah 20 juta unit/m2 luas permukaan tubuh, 5 kali/minggu, selama 4 minggu melalui infus 20 menit. Dosis pemeliharaan adalah 10 juta unit/m2 luas permukaan tubuh, 3 kali/minggu selama 48 minggu.
    Sarkoma Kaposi terkait AIDS 30 juta unit/m2 luas permukaan tubuh, 3 kali/minggu.
    Leukemia myeloid kronis 4-5 juta unit/m2 luas permukaan tubuh/hari. Frekuensi, lama, dan dosis maksimal akan disesuaikan dengan kondisi serta respon tubuh terhadap obat.
    Tumor karsinoid 3-9 juta unit, 3 kali/minggu.
    Limfoma folikular 5 juta unit, 3 kali/minggu, selama 18 bulan.
    Multiple myeloma Dosis pemeliharaan setelah induksi kemoterapi adalah 3 juta unit/m2 luas permukaan tubuh, 3 kali/minggu.
Interferon Beta-1a Rebif Multiple sclerosis Dosis awal adalah 8,8 mcg, 3 kali/minggu selama 2 minggu. Setelah itu dapat ditingkatkan menjadi 22 mcg, 3 kali/minggu selama 2 minggu, lalu 44 mcg, 3 kali/minggu.
Interferon Beta-1b Betaferon Multiple sclerosis kambuhan (relapsing-remitting multiple sclerosis) Dosis awal adalah 62,5 mcg (2 juta unit) secara berselang (satu hari digunakan, satu hari tidak). Tingkatkan bertahap selama 3-6 minggu hingga mencapai dosis 250 mcg (8 juta unit) dengan penggunaan secara berselang.