Peginterferon alfa-2a adalah obat untuk menangani hepatitis B kronis dan hepatitis C kronis. Obat ini bisa digunakan sebagai pengobatan tunggal atau dikombinasikan dengan obat antivirus lain, seperti ribavirin.

Peginterferon alfa-2a merupakan obat antivirus golongan interferon yang bekerja dengan cara mengurangi jumlah virus hepatitis di dalam tubuh dan meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi. Obat ini hanya boleh digunakan sesuai resep dokter.

Peginterferon Alfa-2a - Alodokter

Merek dagang peginterferon alfa-2a: Pegasys

Apa Itu Peginterferon alfa-2a

Kategori Obat resep
Golongan Antivirus golongan interferon
Manfaat Menangani hepatitis B kronis dan hepatitis C kronis
Dikonsumsi oleh Dewasa
Peginterferon alfa-2a untuk ibu hamil dan menyusui Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.Kategori X (peginterferon alfa-2a yang dikombinasikan dengan ribavirin): Studi pada binatang percobaan dan manusia telah memperlihatkan adanya abnormalitas terhadap janin atau adanya risiko terhadap janin. Obat dalam kategori ini tidak boleh digunakan oleh  wanita yang sedang atau memiliki kemungkinan untuk hamil.

Peginterferon alfa-2a belum diketahui apakah dapat terserap ke dalam ASI atau tidak. Bila Anda sedang menyusui, jangan menggunakan obat ini tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter, terutama

Bentuk obat Suntik

Peringatan Sebelum Menggunakan Peginterferon alfa-2a

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan peginterferon alfa-2a, di antaranya:

  • Beri tahu dokter tentang riwayat alergi yang Anda miliki. Peginterferon alfa-2a tidak boleh digunakan oleh pasien yang alergi dengan obat ini.
  • Beri tahu dokter jika Anda pernah atau sedang menderita penyakit hati, penyakit jantung, HIV/AIDS, hipertensi, PPOK, diabetes, penyakit tiroid, kolitis, kelainan darah, penyakit ginjal, pankreatitis, trigliserida tinggi, atau penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis atau lupus.
  • Beri tahu dokter jika Anda pernah atau sedang mengalami kecanduan alkohol, penyalahgunaan NAPZA, gangguan mental tertentu, seperti depresi, psikosis, atau keinginan bunuh diri.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan. Gunakan alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan selama menjalani pengobatan dengan peginterferon alfa-2a.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang menggunakan peginterferon alfa-2a sebelum menjalani vaksinasi. Obat ini dapat menyebabkan penurunan efektivitas vaksin.
  • Jangan mengemudikan kendaraan atau melakukan kegiatan yang membutuhkan kewaspadaan selama menjalani pengobatan dengan peginterferon alfa-2a, karena obat ini dapat menyebabkan pusing.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang mengonsumsi obat, suplemen, atau produk herbal tertentu.
  • Segera ke dokter jika Anda mengalami overdosis, reaksi alergi obat, atau efek samping yang lebih serius setelah menggunakan peginterferon alfa-2a.

Dosis dan Aturan Pakai Peginterferon alfa-2a

Peginterferon alfa-2a hanya tersedia dalam bentuk suntik. Obat ini disuntikkan ke bawah kulit (subkutan/SC) oleh dokter atau petugas medis di bawah pengawasan dokter.

Berikut adalah dosis peginterferon alfa-2a berdasarkan kondisi yang ingin ditangani:

  • Kondisi: Hepatitis B kronis
    Dosis 180 mcg, 1 kali seminggu, selama 48 minggu.
  • Kondisi: Hepatitis C kronis
    Dosis 180 mcg, 1 kali seminggu, selama 48 minggu, sebagai pengobatan tunggal atau dikombinasikan dengan ribavirin

Cara Menggunakan Peginterferon alfa-2a dengan Benar

Peginterferon alfa-2a hanya boleh disuntikkan oleh dokter atau petugas medis di bawah pengawasan dokter. Obat akan disuntikkan ke bawah kulit (subkutan/SC). Ikuti anjuran dokter selama menjalani terapi dengan peginterferon alfa-2a.

Jangan berhenti menjalani pengobatan dengan peginterferon alfa-2a walaupun kondisi Anda sudah membaik. Berhenti menjalani pengobatan secara tiba-tiba dapat menyebabkan infeksi kambuh.

Peginterferon alfa-2a tidak dapat menyembuhkan atau mencegah penularan hepatitis B atau hepatitis C. Oleh karena itu, selama pengobatan, lakukan hubungan seksual dengan menggunakan kondom dan jangan mengonsumsi minuman beralkohol.

Selama menjalani pengobatan dengan peginterferon alfa-2a, Anda akan disarankan untuk rutin memeriksakan diri ke dokter, sehingga kondisi dapat terpantau.

Interaksi Peginterferon alfa-2a dengan Obat Lain

Peginterferon alfa-2a dapat menimbulkan sejumlah efek interaksi jika digunakan bersama obat lain, di antaranya:

  • Penurunan kadar teofilin di dalam darah
  • Peningkatkan risiko terjadinya efek samping dari zidovudine
  • Peningkatan risiko terjadinya kejang jika digunakan dengan bupropion atau tramadol
  • Peningkatan risiko terjadinya pankreatitis jika digunakan dengan bexarotene
  • Peningkatan risiko terjadinya infeksi yang berat jika digunakan dengan baricitinib, deferiprone, clozapine, atau fingolimod
  • Peningkatan risiko terjadinya kerusakan fungsi hati yang lebih berat jika digunakan dengan eltrombopag atau pexidartinib
  • Peningkatan risiko terjadinya kerusakan saraf jika digunakan dengan telbivudine

Efek Samping dan Bahaya Peginterferon alfa-2a

Beberapa efek samping yang dapat timbul setelah menggunakan peginterferon alfa-2a adalah:

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika keluhan yang disebutkan di atas tidak kunjung reda atau semakin parah. Segera ke dokter jika Anda mengalami reaksi alergi obat atau mengalami efek samping yang lebih serius, seperti:

  • Mudah memar
  • Detak jantung tidak teratur
  • Tinja berwana gelap
  • Mati rasa atau kesemutan pada lengan atau kaki
  • Gangguan fungsi hati, yang bisa ditandai dengan penyakit kuning, hilang nafsu makan, atau sakit perut yang berat
  • Gangguan penglihatan, seperti pandangan kabur
  • Gejala stroke, yang ditandai dengan sulit berbicara, kebingungan, atau lemah
  • Nyeri dada
  • Kejang

Selain itu, penggunaan peinterferon alfa-2a juga dapat memperburuk kondisi gangguan mental, seperti depresi. Segera ke dokter jika muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri, juga bila terjadi perubahan prilaku menjadi lebih agresif.