Suntik hormon merupakan salah satu metode terapi untuk kondisi medis yang membutuhkan tambahan hormon tertentu. Pengobatan ini dilakukan dengan cara menyuntikkan hormon buatan atau hormon sintetis ke dalam tubuh.

Hormon adalah zat kimia penting yang mengatur fungsi-fungsi dasar tubuh, termasuk pertumbuhan dan perkembangan, metabolisme, sistem reproduksi dan fungsi seksual, sistem pencernaan, bahkan  suasana hati.

Jenis-Jenis Suntik Hormon dan Kegunaannya - Alodokter

Dalam pengobatan penyakit tertentu, suntik hormon bisa dijadikan solusi untuk mengatasi gejala atas gangguan yang ditimbulkan. Terapi ini sering kali digunakan untuk mengobati gangguan hormon. Ada berbagai jenis terapi suntik hormon yang digunakan. Tiap jenisnya memiliki kegunaan masing-masing, baik dalam pengobatan maupun dalam kerja organ-organ tubuh.

Suntik Hormon Testosteron

Suntik hormon testosteron umumnya digunakan untuk mengobati kondisi medis terkait kurangnya hormon testosteron pada pria. Beberapa gejala yang menandakan kemungkinan seorang pria mengalami kekurangan testosteron, seperti:

  • Berkurangnya gairah seks.
  • Disfungsi ereksi.
  • Jumlah sperma rendah.
  • Masalah psikologis seperti sulit konsentrasi, depresi dan kecemasan,
  • Hot flashes, yaitu merasa kepanasan disertai warna kulit menjadi kemerahan dan berkeringat.
  • Pertambahan berat badan.
  • Perubahan ukuran penis dan testis.
  • Pembengkakan payudara pria (ginekomastia).

Suntik hormon testosteron umumnya tidak direkomendasikan untuk wanita karena efek jangka panjang penggunaannya belum diketahui secara pasti. Namun, terapi ini terkadang digunakan untuk meringankan gejala menopause, seperti penurunan gairah seks, perubahan mood dan kelelahan. Hal tersebut mungkin diperbolehkan oleh dokter, jika sebelumnya pasien sudah menjalani terapi estrogen tapi tidak berhasil.

Suntik Hormon Estrogen

Suntik hormon estrogen umumnya bertujuan untuk mengatasi masalah akibat produksi hormon estrogen dalam tubuh wanita yang tidak mencukupi. Beberapa kondisi medis atau penyakit yang bisa diobati dengan suntik hormon estrogen adalah:

  • Gejala menopause, seperti hot flashes, susah tidur, keringat berlebih, dan vagina kering.
  • Atrofi vulva, yang dapat menyebabkan vagina kering dan nyeri serta inkontinensia urine.
  • Vaginitis atrofi, yakni peradangan pada vagina yang sering disebabkan oleh vagina kering dan iritasi.
  • Kanker prostat.
  • Tubuh secara alami tidak memproduksi cukup estrogen, misalnya karena kelainan pada indung telur (ovarium).
  • Osteoporosis setelah

Suntik hormon estrogen diketahui dapat meningkatkan risiko penyumbatan darah hingga menyebabkan stroke dan serangan jantung. Selain itu, estrogen juga dapat meningkatkan risiko kanker ovarium dan kanker payudara. Mengingat efek samping dan risikonya yang tidak sedikit, pemberian suntik hormon estrogen harus melalui pertimbangan dan evaluasi dokter.

Suntik Hormon Progesteron

Baik pria maupun wanita sama-sama memproduksi hormon progesteron. Pada wanita, hormon ini memiliki peranan yang sangat penting di masa kehamilan, yakni memperkuat dinding rahim, membantu pertumbuhan jaringan payudara, dan memastikan tubuh tidak memproduksi susu hingga bayi lahir.

Biasanya suntik hormon progesteron diberikan pada wanita hamil yang rentan mengalami keguguran, wanita yang sudah mengalami keguguran, dan wanita hamil yang berisiko melahirkan bayi prematur. Suntik hormon progesteron umumnya diberikan ketika kehamilan berusia 16-24 minggu.

Meskipun demikian, belum ada bukti kuat bahwa progesteron dapat sepenuhnya mencegah keguguran, terutama pada wanita yang sudah sering mengalami keguguran berulang.

Suntik Hormon Insulin

Insulin adalah hormon alami yang memungkinkan tubuh mengubah glukosa menjadi energi. Insulin berperan penting dalam membantu mengontrol kadar gula darah (glukosa) dalam tubuh. Namun, jika produksi insulin dalam tubuh tidak memadai atau tubuh tidak bisa memanfaatkan insulin dengan benar, maka suntik insulin dapat menjadi solusi.

Umumnya, suntik insulin diperuntukkan bagi penderita diabetes, baik diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2. Pada penderita diabetes tipe 1, terapi insulin ini harus dilakukan seumur hidup. Pada diabetes tipe 2, pemakaian insulin sering kali dikombinasikan dengan obat antidiabetes dan diet khusus diabetes untuk mengendalikan kadar gula darah.

Sebelum memutuskan untuk melakukan terapi suntik hormon, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu untuk mendapatkan informasi yang lengkap mengenai kegunaan, tata cara, dosis, serta efek samping yang mungkin ditimbulkan.