Kanker tenggorokan adalah penyakit kanker yang berkembang dari jaringan tenggorokan. Gejala utamanya adalah terjadi perubahan suara, sulit menelan, dan sakit tenggorokan.

Tenggorokan merupakan saluran untuk mengalirkan udara dari hidung menuju ke paru-paru, dan sebaliknya. Saluran tenggorokan terletak mulai dari belakang hidung hingga ke pita suara. Kanker tenggorokan dapat berkembang dari jaringan penyusun organ-organ tersebut, misalnya amandel atau pita suara. Jenis kanker ini lebih sering terjadi pada perokok dan orang yang kecanduan alkohol.

kanker tenggorokan - alodokter

Gejala Kanker Tenggorokan

Gejala kanker tenggorokan meliputi:

Kapan Harus Ke Dokter

Segera konsultasikan ke dokter jika mengalami gejala-gejala di atas, terutama jika gejala tidak kunjung membaik atau bertambah parah. Gejala kanker tenggorokan dapat mirip dengan penyakit saluran pernapasan lain, terutama pada stadium awal. Kanker tenggorokan yang terdiagnosis sejak stadium awal lebih mudah diobati dibandingkan kanker tenggorokan yang sudah memasuki stadium lanjut.

Infeksi HPV adalah salah satu faktor risiko timbulnya kanker tenggorokan. Bila Anda berisiko terkena HPV, misalnya berperilaku seksual yang tidak aman, konsultasikan dengan dokter mengenai perlunya vaksin HPV.

Seseorang perlu menjaga kesehatan gigi dan mulut. Selain untuk mencegah munculnya penyakit gigi, menjaga kesehatan gigi juga dapat menurunkan risiko terjadinya kanker tenggorokan. Oleh karena itu, Anda perlu rutin menggosok gigi dan memeriksakan gigi Anda ke dokter gigi setiap 6 bulan.

Bila telah terdiagnosis kanker tenggorokan, Anda perlu rutin memeriksakan diri ke dokter selama pengobatan. Anda juga tetap perlu kontrol rutin ke dokter setelah pengobatan selesai, agar bila penyakit muncul kembali, dapat terdeteksi lebih awal.

Penyebab Kanker Tenggorokan

Kanker tenggorokan terjadi akibat adanya perubahan atau mutasi gen pada sel-sel tenggorokan. Mutasi inilah yang memicu pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali.

Penyebab di balik proses mutasi tersebut belum diketahui secara pasti, tetapi ada sejumlah faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena kanker tenggorokan, yaitu:

  • Merokok.
  • Kecanduan alkohol.
  • Mengalami infeksi virus HPV (human papillomavirus) dan penyakit asam lambung atau GERD.
  • Kesehatan gigi yang tidak terjaga.
  • Kurang mengonsumsi buah dan sayur.
  • Memiliki kondisi sistem imun yang lemah, misalnya akibat penyakit HIV/AIDS, malnutrisi, atau mengonsumsi obat imunosupresan.
  • Menderita penyakit keturunan, seperti anemia Fanconi atau ataxia telangiectasia.

Diagnosis Kanker Tenggorokan

Pada tahap awal diagnosis, dokter akan menanyakan gejala dan riwayat kesehatan pasien, serta kebiasaan pasien yang dapat memengaruhi gejala atau memicu timbulnya gejala, seperti merokok dan minum alkohol. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik.

Jika pasien diduga mengalami kanker tenggorokan, dokter akan menganjurkan pemeriksaan secara lebih mendetail untuk memastikan diagnosis. Jenis pemeriksaan tersebut meliputi:

  • Nasoendoskopi
    Pemeriksaan ini dilakukan oleh dokter THT untuk melihat kondisi tenggorokan, menggunakan alat seperti selang yang dilengkapi kamera. Alat yang disebut endoskop ini akan dimasukkan lewat hidung hingga mencapai tenggorokan.
  • Biopsi jaringan tenggorokan
    Pemeriksaan biopsi dilakukan dengan mengambil sampel jaringan tenggorokan kemudian memeriksanya di laboratorium. Sampel jaringan tenggorokan diambil menggunakan alat endoskop.
  • Pemindaian
    Pemindaian digunakan untuk menentukan tingkat penyebaran kanker tenggorokan. Metode pemindaian yang dilakukan dapat berupa foto Rontgen, CT scan, MRI, atau PET scan.

Stadium Kanker Tenggorokan

Setelah pasien menjalani pemeriksaan kanker tenggorokan, dokter dapat mengetahui stadium kanker tenggorokan yang diderita pasien. Stadium kanker penting untuk diketahui agar pengobatan yang diberikan sesuai dan efektif.

Berdasarkan tingkat keparahan dan penyebarannya, kanker tenggorokan dapat dibagi menjadi 5 stadium, yaitu:

  • Stadium 0
    Pada stadium ini, tumor hanya terdapat pada jaringan dinding tenggorokan bagian atas.
  • Stadium 1
    Pada stadium ini, tumor berukuran kecil (kurang dari 2 cm) dan hanya menyerang jaringan tenggorokan tempat bermulanya tumor.
  • Stadium 2
    Pada stadium ini, tumor berukuran sekitar 2-4 cm, dan sudah menyebar ke jaringan di sekitarnya.
  • Stadium 3
    Pada stadium ini, tumor sudah berukuran lebih dari 4 cm dan menyebar ke jaringan atau organ lain di dekat tenggorokan, termasuk kelenjar getah bening.
  • Stadium 4
    Pada stadium ini, tumor sudah menyebar hingga ke jaringan atau organ di luar tenggorokan (metastasis).

Pengobatan Kanker Tenggorokan

Pengobatan kanker tenggorokan tergantung pada stadium kanker serta kondisi kesehatan penderita secara keseluruhan. Deteksi dan pengobatan dini adalah kunci utama dalam menangani kanker tenggorokan.

Berikut ini adalah beberapa metode pengobatan kanker tenggorokan yang umum dilakukan:

Radioterapi

Radioterapi adalah metode pengobatan kanker menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel kanker. Sinar radioterapi dapat berasal dari alat eksternal (radioterapi eksternal) atau dapat dipasang di dalam tubuh dekat lokasi kanker (radioterapi internal).

Apabila kanker masih stadium awal, terkadang radioterapi saja cukup efektif untuk mengatasinya. Sedangkan pada kanker stadium lanjut, radioterapi dilakukan hanya untuk mengurangi gejala dan memperlambat perkembangan kanker.

Kemoterapi

Kemoterapi adalah pemberian obat-obatan untuk membunuh sel kanker. Beberapa jenis obat yang umum digunakan untuk kemoterapi adalah cisplatin, paclitaxel, gemcitabine, capecitabine, fluorouracil, atau carboplatin.

Kemoterapi dapat dikombinasikan dengan radioterapi. Hal ini dilakukan karena ada beberapa jenis obat kemoterapi yang lebih efektif bila disertai radioterapi. Namun, hal ini juga dapat meningkatkan efek samping kedua terapi tersebut.

Operasi

Operasi adalah metode pengobatan kanker tenggorokan dengan mengangkat jaringan kanker melalui pembedahan. Dokter THT akan menentukan jenis operasi yang dibutuhkan berdasarkan stadium dan lokasi tumbuhnya kanker. Jenis-jenis operasi tersebut meliputi:

  • Faringektomi
    Prosedur ini dilakukan untuk mengangkat sebagian atau seluruh faring yang mengalami kanker.
  • Laringektomi
    Operasi ini dilakukan dengan mengangkat sebagian atau seluruh laring (kotak suara) yang mengalami kanker. Laringektomi dapat dilakukan untuk mengobati kanker tenggorokan stadium awal atau akhir.

Tidak hanya melalui sayatan terbuka, operasi untuk mengangkat sel kanker dapat dilakukan melalui bantuan alat endoskopi. Prosedur ini biasanya dilakukan saat kanker masih di stadium awal.

Selain mengangkat jaringan kanker, operasi juga dapat dilakukan untuk mengangkat kelenjar getah bening di dekat lokasi kanker, jika sel kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening tersebut. Jika diperlukan, jaringan di sekitar tenggorokan yang sudah terserang oleh sel kanker juga akan diangkat.

Terapi obat bertarget

Terapi obat bertarget dilakukan menggunakan obat-obatan yang spesifik untuk mencegah perubahan atau mutasi gen. Obat yang digunakan dalam terapi obat bertarget adalah cetuximab. Terapi ini dapat diberikan bersama kemoterapi.

Metode penanganan kanker tenggorokan dapat menyebabkan berbagai komplikasi maupun efek samping, misalnya terganggunya kemampuan berbicara, makan, atau menelan. Sebelum menjalani penanganan medis tertentu, sebaiknya diskusikan dahulu dengan dokter mengenai seluruh risikonya.

Untuk memaksimalkan pengobatan kanker tenggorokan, pasien juga dianjurkan untuk menerapkan pola hidup sehat, tidak merokok, dan tidak mengonsumsi minuman keras.

Di samping menurunkan efektivitas pengobatan, merokok dan alkohol dapat memperlambat proses pemulihan, serta meningkatan risiko kambuhnya kanker tenggorokan.

Pencegahan Kanker Tenggorokan

Kanker tenggorokan dapat dicegah dengan menghindari faktor-faktor risikonya. Beberapa langkah pencegahan kanker tenggorokan antara lain:

  • Berhenti merokok.
  • Berhenti atau mengurangi konsumsi minuman alkohol.
  • Melakukan vaksinasi HPV.
  • Melakukan hubungan seks dengan aman untuk mencegah infeksi HPV.
  • Banyak mengonsumsi sayur dan buah.