Kebotakan berpola adalah kerontokan rambut bertahap yang membentuk pola khas di kepala. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran, terutama jika terjadi di usia muda. Mengenali penyebab dan pilihan pengobatan kebotakan berpola penting, supaya Anda bisa mengambil langkah pencegahan sejak dini.

Kebotakan berpola (androgenetic alopecia) merupakan kerontokan rambut jangka panjang yang terjadi karena folikel rambut mengecil dan akhirnya berhenti memproduksi rambut baru. Kebotakan berpola menjadi masalah rambut paling umum, terutama pada pria.

Kebotakan Berpola, Kenali Penyebab, Pencegahan, serta Cara Mengatasinya - Alodokter

Di Indonesia, kebotakan berpola sering dikaitkan dengan faktor keturunan. Namun, sebenarnya ada banyak aspek yang memengaruhi, misalnya perubahan hormon, pola makan, hingga kondisi kesehatan tertentu. 

Gejala Kebotakan Berpola

Berikut ini adalah beberapa gejala kebotakan berpola:

  • Penipisan rambut yang semakin terlihat, khususnya pada area tertentu
  • Garis rambut tampak mundur (receding hairline)
  • Rambut yang rontok lebih banyak saat keramas atau menyisir
  • Muncul area kepala yang terlihat lebih “terang” atau botak

Kebotakan berpola berkembang secara bertahap dan sering kali baru disadari setelah area botak sudah terlihat jelas. 

Pola kebotakan pada pria umumnya bermula dari garis rambut bagian depan yang mundur ke belakang. Selain itu, pola kebotakan juga bisa ditandai dengan penipisan di puncak kepala, kemudian berkembang hingga membentuk pola seperti “M” atau lingkaran botak di tengah kepala. 

Sementara pada wanita, kebotakan berpola biasanya berupa penipisan rambut merata di seluruh kepala, terutama pada bagian atas. Namun, garis rambut depan cenderung tetap.

Penyebab dan Faktor Risiko Kebotakan Berpola

Penyebab kebotakan berpola yang paling utama adalah kombinasi faktor genetik dan hormon androgen, terutama hormon dihydrotestosterone (DHT) yang memengaruhi folikel rambut. Ketika folikel rambut sensitif terhadap DHT, siklus hidup rambut menjadi lebih pendek dan rambut yang tumbuh pun semakin tipis hingga akhirnya berhenti.

Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko kebotakan berpola, di antaranya:

  • Riwayat keluarga dengan kebotakan berpola
  • Berusia di atas 30 tahun
  • Perubahan atau ketidakseimbangan hormon androgen, misalnya pada masa pubertas, pascamelahirkan, atau menopause
  • Stres fisik atau emosional jangka panjang 
  • Konsumsi obat-obatan tertentu, misalnya obat kemoterapi atau antidepresan
  • Pola makan tidak seimbang
  • Kebiasaan merokok
  • Konsumsi minuman beralkohol berlebihan
  • Menderita penyakit kronis, seperti diabetes, gangguan tiroid, atau autoimun

Pada wanita, penggunaan alat kontrasepsi hormonal dan sindrom ovarium polikistik (PCOS) juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kebotakan berpola.

Cara Menghambat Kebotakan Berpola Sejak Dini

Mengambil langkah sedini mungkin sangat penting untuk memperlambat kebotakan berpola. Berikut adalah beberapa pencegahan yang bisa Anda lakukan:

1. Menjaga kebersihan dan kesehatan kulit kepala

Membersihkan kulit kepala secara rutin dapat membantu mencegah penumpukan kotoran, minyak, ataupun sisa produk perawatan rambut yang dapat menyumbat folikel. Gunakan sampo yang lembut dan bebas dari bahan kimia keras, seperti sulfat, untuk meminimalkan risiko iritasi dan kekeringan pada kulit kepala. 

2. Mengurangi paparan panas berlebih

Paparan panas yang berlebihan dari alat penata rambut, seperti catokan atau hair dryer, dapat merusak struktur batang rambut dan membuatnya lebih rapuh serta mudah patah. Sebaiknya, keringkan rambut secara alami bila memungkinkan dan gunakan pengatur suhu rendah jika memang membutuhkan alat styling.

3. Menjaga pola makan 

Rambut memerlukan asupan nutrisi yang cukup untuk tumbuh dengan sehat. Pastikan menu harian Anda mengandung protein, zat besi, zinc, asam lemak omega-3, vitamin D, serta vitamin E. Kekurangan salah satu nutrisi, terutama protein dan zat besi, dapat menyebabkan rambut mudah rontok. 

4. Mengelola stres

Stres berkepanjangan dapat meningkatkan kadar hormon tertentu, contohnya kortisol, yang menghambat siklus pertumbuhan rambut dan mempercepat kerontokan. Untuk itu, penting melakukan aktivitas yang dapat menurunkan stres, seperti berolahraga ringan, yoga, meditasi, atau sekadar menjalani hobi yang menyenangkan. 

5. Hindari kebiasaan merusak rambut

Kebiasaan mengikat rambut terlalu kencang, mengepang dengan kuat, atau sering menarik rambut dapat melemahkan folikel dan bahkan menyebabkan kebotakan permanen bila dilakukan jangka panjang. Jadi, jangan terlalu sering menata rambut dengan gaya yang memberi tekanan pada kulit kepala, serta gunakan ikat rambut yang lembut.

Pengobatan untuk Mengatasi Kebotakan Berpola 

Berbagai terapi dan tindakan medis tersedia untuk mengatasi kebotakan berpola. Inilah pilihan pengobatan yang bisa Anda coba apabila mengalami kebotakan berpola:

1. Mengoleskan minoxidil

Minoxidil adalah obat berbentuk cairan atau busa yang dioleskan langsung ke kulit kepala pada area rambut yang menipis atau botak. Minoxidil bekerja dengan memperlebar pembuluh darah di sekitar folikel rambut sehingga meningkatkan aliran darah dan suplai nutrisi ke folikel tersebut. Obat ini bisa diperoleh dengan resep dokter. 

2. Pemberian finasteride (khusus pria)

Finasteride merupakan obat minum khusus pria, yang bekerja dengan menghambat enzim 5-alpha-reduktase sehingga produksi hormon dihydrotestosterone (DHT) berkurang. DHT adalah hormon yang bertanggung jawab utama atas penyusutan folikel dan kerontokan rambut pada kebotakan berpola. Obat ini hanya digunakan dengan pengawasan dokter.

3. Terapi laser intensitas rendah

Terapi ini menggunakan alat khusus yang memancarkan sinar laser berintensitas rendah ke kulit kepala. Pancaran laser diketahui dapat menstimulasi aktivitas folikel rambut, memperbaiki sirkulasi darah di kulit kepala, dan merangsang pertumbuhan rambut baru. 

4. Prosedur transplantasi rambut

Transplantasi rambut adalah tindakan medis di mana folikel rambut sehat dari bagian kepala yang rambutnya lebih tebal dipindahkan ke area yang botak atau mengalami penipisan. Prosedur ini dilakukan oleh dokter spesialis bedah kulit dengan teknik modern, seperti FUE (follicular unit extraction) atau FUT (follicular unit transplantation). 

5. PRP (platelet-rich plasma)

Terapi PRP dilakukan dengan mengambil sedikit darah pasien, kemudian diproses untuk memisahkan plasma yang kaya trombosit. Plasma tersebut kemudian disuntikkan ke kulit kepala di area yang menipis. Trombosit mengandung faktor pertumbuhan yang dapat merangsang proses regenerasi jaringan dan mendukung pertumbuhan serta perbaikan folikel rambut. 

PRP sering dijadikan terapi tambahan bersama minoxidil atau finasteride untuk hasil yang lebih optimal. Prosedur ini relatif aman karena menggunakan darah sendiri, tetapi bisa saja menimbulkan nyeri, bengkak, atau memar ringan di area suntikan.

Setiap terapi kebotakan berpola memiliki tingkat efektivitas, risiko, serta biaya yang berbeda. Pilihan pengobatan perlu disesuaikan dengan stadium kebotakan, harapan hasil, dan kenyamanan pasien. Hasilnya baru mulai terlihat setelah minimal 3–6 bulan pengobatan.

Kebotakan berpola umumnya tidak menimbulkan kondisi medis serius. Namun, masalah ini bisa berdampak pada psikologis seseorang, seperti menurunnya rasa percaya diri, stres, bahkan depresi. 

Akan tetapi, jika kebotakan berpola disertai dengan rambut rontok sangat cepat dan mendadak, kebotakan terjadi di luar pola, kulit kepala merah, gatal, atau iritasi, dan penurunan berat badan yang drastis atau demam, segera konsultasikan ke dokter. 

Sebagai langkah awal, Anda juga dapat memanfaatkan fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER untuk berdiskusi tentang pilihan pengobatan, efek samping terapi, serta tips pengobatan yang praktis sesuai kondisi Anda. 

Anda juga dapat menggunakan layanan Booking Dokter agar bisa bertemu langsung dengan dokter ahli untuk pemeriksaan lebih mendalam dan terapi yang paling sesuai. Jangan tunda konsultasi, karena penanganan dini kebotakan berpola dapat memberikan hasil yang jauh lebih optimal.