Lovenox adalah obat suntik pengencer darah untuk mencegah dan mengatasi penggumpalan darah, seperti deep vein thrombosis (DVT) dan emboli paru. Obat yang mengandung enoxaparin ini juga digunakan untuk mengurangi risiko komplikasi akibat penyumbatan pembuluh darah pada penyakit jantung tertentu.

Lovenox mengandung enoxaparin, yaitu obat antikoagulan yang bekerja dengan menghambat pembentukan gumpalan darah di pembuluh darah. Obat ini sering digunakan pada pasien yang baru menjalani operasi atau harus berbaring lama karena sakit.

 

Lovenox

 

Pada kondisi tertentu, Lovenox juga dapat diberikan untuk membantu mengurangi risiko komplikasi akibat penyakit jantung.

Produk Lovenox

Lovenox tersedia dalam 3 varian, yaitu:

  • Lovenox 0,2 ml, tiap vial mengandung 0,2 ml enoxaparin
  • Lovenox 0,4 ml, tiap vial mengandung 0,4 ml enoxaparin
  • Lovenox 0,6 ml, tiap vial mengandung 0,6 ml enoxaparin

Apa Itu Lovenox

Bahan aktif Enoxaparin
Golongan Obat resep
Kategori Antikoagulan
Manfaat Mencegah dan mengatasi penggumpalan darah
Digunakan oleh Dewasa dan anak-anak sesuai anjuran dari dokter
Lovenox untuk ibu hamil Kategori B: Studi pada binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya risiko terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Jika Anda sedang hamil, sebaiknya konsultasikan dengan dokter mengenai penggunaan obat ini. 
Lovenox untuk ibu menyusui Belum diketahui apakah enoxaparin dapat terserap ke dalam ASI atau tidak. Ibu menyusui tidak boleh menggunakan obat ini tanpa seizin dokter.
Bentuk obat Injeksi

Peringatan sebelum Menggunakan Lovenox

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan Lovenox, yaitu:

  • Beri tahu dokter jika Anda alergi terhadap enoxaparin, heparin, daging babi, atau benzyl alcohol. Obat ini tidak boleh digunakan oleh pasien yang alergi terhadap bahan tersebut.
  • Informasikan kepada dokter jika Anda pernah atau sedang menderita gangguan perdarahan, trombositopenia, hemofilia, tukak lambung, stroke, penyakit liver, penyakit ginjal, tekanan darah tinggi, atau retinopati diabetik.
  • Beri tahu dokter jika Anda baru menjalani operasi, terutama operasi otak, tulang belakang, mata, atau baru menjalani anestesi spinal.
  • Hati-hati saat menggunakan benda tajam, seperti alat cukur atau gunting kuku, selama menjalani pengobatan dengan Lovenox karena obat ini dapat meningkatkan risiko perdarahan.
  • Hindari aktivitas yang berisiko menyebabkan benturan atau cedera selama menggunakan Lovenox.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang menggunakan obat lain, termasuk obat pengencer darah, suplemen, atau produk herbal.
  • Informasikan kepada dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan.
  • Jangan mengonsumsi minuman beralkohol selama menjalani terapi dengan Lovenoxkarena dapat meningkatkan risiko perdarahan saluran cerna.
  • Segera temui dokter jika terjadi reaksi alergi obat atau efek samping serius setelah menggunakan Lovenox.

Dosis dan Aturan Pakai Lovenox

Lovenox tersedia dalam bentuk injeksi subkutan (SC) dan penggunaannya harus dilakukan oleh dokter atau petugas medis di bawah pengawasan dokter. Dosis obat akan ditentukan berdasarkan kondisi pasien, berat badan, serta tujuan pengobatan.

Berikut dosis umum Lovenox berdasarkan kondisi yang ditangani:

Kondisi: Acute ST-segment elevation myocardial infarction (STEMI)

  • Dewasa: dosis awal 30 mg melalui suntikan intravena (IV), dilanjutkan 1 mg/kgBB melalui suntikan subkutan tiap 12 jam. Pengobatan umumnya diberikan selama 8 hari atau hingga pasien diperbolehkan pulang.
  • Lansia usia ≥75 tahun: 0,75 mg/kgBB melalui suntikan subkutan tiap 12 jam tanpa dosis awal IV.

Kondisi: Pencegahan penggumpalan darah selama hemodialisis

  • Dewasa: 1 mg/kgBB diberikan melalui jalur arteri pada awal prosedur hemodialisis. Pada pasien dengan risiko perdarahan tinggi, dosis dapat dikurangi sesuai kondisi pasien.

Kondisi: Deep vein thrombosis (DVT) atau emboli paru

  • Dewasa: 1 mg/kgBB tiap 12 jam atau 1,5 mg/kgBB, 1 kali sehari. Lama terapi umumnya sekitar 10 hari.

Kondisi: Pencegahan tromboemboli vena setelah operasi

  • Dewasa dengan risiko sedang: 20 mg, 1 kali sehari selama 7–10 hari, dimulai 2 jam sebelum operasi.
  • Dewasa dengan risiko tinggi, termasuk operasi ortopedi: 40 mg, 1 kali sehari, dimulai 12 jam sebelum operasi. Lama terapi dapat mencapai 4 minggu sesuai kondisi pasien.
  • Operasi penggantian lutut atau panggul: 30 mg tiap 12 jam, dimulai 12–24 jam setelah operasi jika kondisi perdarahan sudah terkendali.

Kondisi: Angina tidak stabil atau non-ST-segment elevation myocardial infarction (NSTEMI)

  • Dewasa: 1 mg/kgBB tiap 12 jam bersama terapi antiplatelet, seperti aspirin. Lama pengobatan umumnya 2–8 hari atau hingga kondisi pasien stabil.

Kondisi: Pencegahan tromboemboli vena pada pasien rawat inap dengan mobilitas terbatas

  • Dewasa: 40 mg, 1 kali sehari selama 6–14 hari pada pasien dengan penyakit akut yang meningkatkan risiko penggumpalan darah.

Cara Menggunakan Lovenox dengan Benar

Lovenox akan diberikan oleh dokter atau petugas medis di bawah pengawasan dokter. Obat akan disuntikkan ke lapisan dalam kulit di perut, sekitar 5 cm dari pusar, sebanyak 1–2 kali sehari.

Selalu ikuti anjuran dokter selama menjalani pengobatan. Jangan menggaruk area yang disuntik untuk mencegah timbulnya memar.

Selama pengobatan dengan enoxaparin, dokter akan meminta pasien untuk menjalani pemeriksaan kesehatan atau tes darah secara rutin. Tujuannya adalah untuk memantau respons terapi dan kondisi pasien secara keseluruhan.

Interaksi Lovenox dengan Obat Lain

Penggunaan Lovenox bersama obat tertentu dapat meningkatkan risiko efek samping atau memengaruhi efektivitas pengobatan. Interaksi yang dapat terjadi, antara lain:

  • Peningkatan risiko perdarahan jika digunakan bersama obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti aspirin, ibuprofen, atau naproxen
  • Peningkatan risiko perdarahan jika digunakan bersama antikoagulan lain, seperti warfarin atau heparin
  • Peningkatan risiko perdarahan jika digunakan bersama obat antiplatelet, seperti clopidogrel, ticagrelor, atau prasugrel
  • Peningkatan risiko hiperkalemia jika digunakan bersama ACE inhibitor, ARB, atau diuretik hemat kalium, seperti spironolactone
  • Peningkatan risiko perdarahan jika digunakan bersama trombolitik, seperti alteplase

Untuk mencegah terjadinya interaksi obat, selalu konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan Lovenox bersama obat, suplemen, atau produk herbal apa pun.

Efek Samping dan Bahaya Lovenox 

Efek samping yang umum terjadi setelah menggunakan Lovenox, meliputi:

  • Nyeri, kemerahan, bengkak, atau memar pada area suntikan
  • Sakit kepala
  • Demam
  • Sakit perut
  • Mual

Bila efek samping tersebut tidak kunjung membaik atau justru bertambah parah, jangan tunda untuk segera berkonsultasi ke dokter. Anda dapat memanfaatkan fitur Chat Bersama Dokter atau segera buat janji temu melalui fitur booking di aplikasi ALODOKTER.

Selain itu, Lovenoxdapat meningkatkan risiko perdarahan. Segera ke dokter atau IGD terdekat jika mengalami keluhan berikut:

  • Mimisan atau perdarahan yang sulit berhenti
  • Mudah memar
  • Muntah darah atau batuk darah
  • Kejang
  • Gangguan penglihatan
  • Nyeri dada atau sesak napas
  • Tinja berwarna hitam atau urine berwarna gelap
  • Sakit kepala berat, pusing berat, atau pingsan
  • Reaksi alergi obat, seperti ruam, bengkak pada wajah atau tenggorokan, serta sesak napas