Naproxen adalah obat untuk meredakan nyeri, demam, bengkak, dan kemerahan akibat peradangan. Obat ini bisa digunakan untuk mengatasi nyeri pada saat haid, nyeri akibat radang tendon, penyakit asam urat, rheumatoid arthritis, osteoarthritis, atau ankylosing spondylitis.

Naproxen bekerja dengan cara menghambat produksi prostaglandin, yaitu zat alami yang dikeluarkan saat tubuh mengalami luka atau cedera. Zat inilah yang menyebabkan munculnya gejala peradangan. Dengan dihambatnya prostaglandin, keluhan yang muncul akibat peradangan, termasuk nyeri dan bengkak, bisa mereda.

alodokter-naproxen

Merek dagang naproxen: Alif 500, Xenifar

Apa Itu Naproxen

Golongan Obat resep
Kategori Antiinflamasi nonsteroid (OAINS)
Manfaat Meredakan nyeri, demam, bengkak, dan kemerahan akibat peradangan
Dikonsumsi oleh Dewasa dan anak usia ≥12 tahun
Naproxen untuk ibu hamil dan menyusui Pada trimester 1 dan 2 kehamilan

Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.

Pada trimester 3 dan menjelang persalinan

Kategori D: Ada bukti bahwa kandungan naproxen berisiko terhadap janin manusia, tetapi besarnya manfaat yang diperoleh mungkin lebih besar daripada risikonya, misalnya untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa.

Naproxen dapat terserap ke dalam ASI. Bagi ibu menyusui, jangan menggunakan obat ini tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Bentuk obat Tablet atau kaplet

Peringatan Sebelum Mengonsumsi Naproxen

Naproxen merupakan obat resep yang tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Sebelum mengonsumsi obat ini, Anda perlu memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Jangan mengonsumsi naproxen jika Anda alergi terhadap naproxen atau OAINS lainnya, seperti diclofenac, indomethacin, atau ibuprofen.
  • Beri tahu dokter jika Anda pernah mengalami asma atau polip hidung setelah mengonsumsi obat golongan OAINS.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang mengalami sakit maag yang berat, muntah dengan ampas seperti bubuk kopi, BAB hitam atau berdarah, gagal jantung, gagal ginjal, atau gagal hati. Naproxen sebaiknya tidak digunakan oleh pasien dengan kondisi tersebut.
  • Beri tahu dokter jika Anda pernah atau sedang menderita tukak lambung, ulkus duodenum, penyakit ginjal, penyakit Crohn, kolitis ulseratif, penyakit liver, penyakit jantung, stroke, tekanan darah tinggi, gangguan perdarahan, bengkak pada tungkai, diabetes, kolesterol tinggi, atau lupus.
  • Diskusikan dengan dokter perihal risiko dan manfaat penggunaan naproxen pada pasien usia lebih dari 65 tahun.
  • Jangan mengonsumsi minuman beralkohol selama menjalani pengobatan dengan naproxen, karena berisiko menyebabkan perdarahan saluran pencernaan.
  • Jangan langsung melakukan aktivitas yang membutuhkan kewaspadaan, seperti mengemudikan kendaraan atau mengoperasikan alat berat, jika Anda merasakan kantuk, pusing, atau penglihatan buram setelah mengonsumsi naproxen.
  • Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat lain, termasuk suplemen dan produk herbal, untuk mengantisipasi interaksi obat.
  • Beri tahu dokter bahwa Anda sedang menggunakan naproxen sebelum menjalani pemeriksaan medis apa pun, atau operasi, termasuk operasi gigi.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang hamil, berencana untuk hamil, atau sedang Gunakan alat kontrasepsi yang paling efektif bagi Anda untuk mencegah kehamilan selama menggunakan naproxen.
  • Segera ke dokter jika terjadi reaksi alergi obat, efek samping yang serius, atau overdosis setelah mengonsumsi naproxen.

Dosis dan Aturan Pakai Naproxen

Dosis naproxen yang diresepkan oleh dokter dapat berbeda pada tiap pasien. Berikut ini adalah dosis umum naproxen berdasarkan tujuan penggunaan dan usia pasien:

Tujuan: Mengatasi gejala rheumatoid arthritis, osteoarthritis, atau ankylosing spondylitis

  • Dewasa: 550–100 mg per hari, yang bisa dibagi dalam 1 atau 2 jadwal konsumsi.

Tujuan: Meredakan serangan nyeri pada penyakit asam urat

  • Dewasa: Dosis awal 825 mg, lalu dilanjutkan dengan 275 mg tiap 8 jam, hingga nyeri me

Tujuan: Mengatasi nyeri otot, nyeri sendi, nyeri tendon, atau nyeri haid

  • Dewasa dan anak usia ≥12 tahun: Dosis awal 550 mg, lalu dilanjutkan dengan 275 mg tiap 6–8 jam selama dibutuhkan. Dosis maksimal adalah 1.375 mg pada hari pertama dan 1.100 mg per hari pada hari selanjutnya (selama masih perlu).

Tujuan: Menurunkan demam

  • Dewasa dan anak usia ≥12 tahun: Dosis awal 220–440 mg pada jam pertama, dilanjutkan dengan 220 mg tiap 8–12 jam selama diperlukan.

Cara Mengonsumsi Naproxen dengan Benar

Ikuti anjuran dokter dan baca informasi yang tertera pada kemasan obat sebelum mulai mengonsumsi naproxen. Jangan mengurangi atau menambah dosis tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Disarankan untuk mengonsumsi naproxen saat makan atau segera setelah makan guna mencegah timbulnya sakit maag. Telan tablet dengan air putih. Jangan langsung berbaring setelah mengonsumsi obat ini, tunggu minimal sampai 10 menit.

Patuhi jadwal kontrol yang telah ditentukan dokter selama mengonsumsi naproxen, agar kondisi kesehatan Anda dapat terus terpantau.

Bila lupa mengonsumsi naproxen, segera minum obat ini jika belum mendekati jadwal konsumsi obat berikutnya. Apabila sudah dekat, abaikan dosis yang terlewat dan jangan menggandakan dosis pada jadwal konsumsi obat selanjutnya.

Naproxen umumnya hanya perlu dikonsumsi ketika ada keluhan. Konsultasikan dengan dokter jika Anda masih demam setelah 3 hari atau nyeri setelah 10 hari mengonsumsi naproxen.

Simpan naproxen di tempat sejuk dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Jauhkan obat dari jangkauan anak-anak.

Interaksi Naproxen dengan Obat Lain

Interaksi antarobat yang dapat terjadi jika naproxen digunakan bersamaan dengan obat-obatan lain adalah:

  • Meningkatkan risiko terjadinya perdarahan saluran pencernaan jika digunakan dengan obat golongan OAINS lain, seperti aspirin; pengencer darah, seperti warfarin atau clopidogrel; kortikosteroid, seperti prednisone; atau obat antidepresan SSRI, seperti fluoxetine
  • Meningkatkan risiko terjadinya kerusakan ginjal jika digunakan dengan obat ciclosporin atau tacrolimus
  • Meningkatkan risiko terjadinya kelainan darah jika digunakan bersama zidovudine
  • Meningkatkan kadar naproxen di dalam darah jika digunakan dengan probenecid
  • Meningkatkan risiko terjadinya efek samping dari obat lithium, digoxin, methotrexate, atau antibiotik golongan aminoglikosida
  • Menurunkan penyerapan naproxen jika digunakan dengan obat maag antasida, cholestyramine, atau sukralfat
  • Menurunkan efektivitas obat antihipertensi, seperti beta-blocker, ACE inhibitor, atau angiotensin II receptor blockers, atau obat diuretik, seperti furosemide atau thiazide

Efek Samping dan Bahaya Naproxen

Efek samping yang mungkin timbul setelah mengonsumsi naproxen adalah:

Konsultasikan dengan dokter jika efek samping di atas tidak segera mereda atau makin berat. Anda perlu segera ke dokter jika mengalami reaksi alergi obat atau efek samping yang lebih serius, seperti: