Menorrhagia adalah istilah medis untuk menggambarkan jumlah darah yang keluar saat haid berlebihan atau haid berlangsung dalam waktu lebih dari 7 hari. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari hingga memengaruhi kualitas hidup penderitanya.

Selama masa menstruasi, jumlah darah yang masih dianggap normal adalah sekitar 30-40 ml per siklus. Seorang wanita dianggap mengalami haid berlebihan jika jumlah darah yang dikeluarkan lebih dari 80 ml (sekitar 16 sendok teh) per siklus.

menorrhagia-alodokter

Salah satu tolok ukur yang bisa digunakan adalah frekuensi atau seringnya dilakukan penggantian pembalut. Jika saat menstruasi, pergantian pembalut yang penuh dengan darah dilakukan kurang dari 2 jam sekali, ada kemungkinan Anda mengalami menorrhagia.

Gejala Menorrhagia

Menstruasi merupakan proses peluruhan dinding rahim yang ditandai dengan keluarnya darah dari vagina. Normalnya, menstruasi akan terjadi setiap 21-35 hari sekali, lamanya 2-7 hari per siklus, dengan banyaknya darah yang keluar 30-40 ml (sekitar 6-8 sendok teh) per siklus.

Namun, pada keadaan menorrhagia, durasi menstruasi akan memanjang dan banyaknya darah yang keluar akan lebih dari normal.

Beberapa gejala yang bisa muncul adalah:

  • Darah yang keluar memenuhi 1 atau 2 pembalut setiap jamnya, selama beberapa jam berturut-turut.
  • Perlu mengganti pembalut saat sedang tidur di malam hari.
  • Durasi keluarnya darah lebih dari 7 hari.
  • Darah yang keluar disertai gumpalan-gumpalan darah berukuran sebesar koin atau lebih.
  • Darah yang keluar terlalu banyak hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Selain itu, menorrhagia juga dapat disertai dengan timbulnya rasa nyeri di perut bagian bawah selama haid.

Kapan harus ke dokter

Lakukan konsultasi ke dokter jika muncul gejala seperti yang telah disebutkan di atas, terutama jika gejala tersebut telah mengganggu aktivitas sehari-hari.

Anda dianjurkan untuk segera ke dokter jika selama menstruasi Anda mengalami:

  • Pusing terutama ketika berdiri.
  • Kebingungan.
  • Nyeri perut, mual, dan muntah.

Kontrol rutin ke dokter mungkin akan dianjurkan untuk mengetahui perkembangan kondisi.

Penyebab Menorrhagia

Tidak semua penyebab menorrhagia dapat diidentifikasi. Meski demikian, ada beberapa kondisi yang umumnya menjadi pemicu terjadinya menorrhagia, yaitu:

  • Ketidakseimbangan hormon, misalnya akibat sindrom ovarium polikistik, obesitas, hipotiroidisme, dan resistensi insulin.
  • Gangguan atau pertumbuhan jaringan pada rahim, seperti radang panggul, miom (fibroid rahim), endometriosis, adenomyosis, polip rahim,
  • Gangguan pada ovarium, sehingga menyebabkan proses ovulasi tidak terjadi sebagaimana mestinya.
  • Kelainan genetik, terutama yang mempengaruhi proses pembekuan darah, misalnya penyakit von Willebrand.
  • Efek samping obat, seperti obat antiradang, obat hormon, antikoagulan, obat yang digunakan pada kemoterapi, serta suplemen herbal yang mengandung gingseng, ginkgo biloba, dan kedelai.
  • Alat kontrasepsi, seperti pil KB dan IUD (KB spiral).
  • Kanker, seperti kanker rahim atau serviks.

Diagnosis Menorrhagia

Dokter akan melakukan anamnesis atau tanya jawab mengenai gejala yang dialami, riwayat penggunaan obat, serta riwayat kesehatan pasien dan keluarga.

Setelah itu akan dilakukan pemeriksan fisik terutama di area perut dan area kewanitaan, termasuk menggunakan spekulum untuk melihat serviks.

Guna mengetahui penyebab yang mendasari terjadinya menorrhagia, beberapa pemeriksaan lanjutan juga dapat dilakukan, seperti:

  • Pemeriksaan darah, untuk mendeteksi adanya anemia, kelainan hormon tiroid atau gangguan pembekuan darah.
  • Pap smear, untuk memeriksa tanda-tanda peradangan, infeksi, atau potensi kanker dengan mengambil sampel sel dari dinding dalam serviks.
  • Biopsi, dengan mengambil sampel jaringan dari rahim untuk diperiksa dengan mikroskop.
  • USG rahim, yaitu pemindaian untuk memeriksa jika terdapat miom, polip, atau kelainan lain secara visual.
  • Sonohysterography (SIS), untuk mendeteksi gangguan pada lapisan dinding rahim dengan menggunakan zat warna yang disuntikkan ke dalam rahim.
  • Histeroskopi, untuk melihat kondisi rahim pasien dengan memasukkan selang tipis yang dilengkapi kamera khusus yang dimasukkan melalui vagina.
  • Dilatasi dan kuretase (kuret), untuk mengetahui penyebab perdarahan dengan mengambil sampel dinding rahim.

Pengobatan Menorrhagia

Pengobatan menorrhagia bertujuan untuk menghentikan perdarahan, mengobati penyebab, dan mencegah terjadinya komplikasi. Pengobatan akan ditentukan berdasarkan penyebab menorrhagia dan tingkat keparahan kondisi.

Dokter juga akan mempertimbangkan usia, kondisi kesehatan secara umum, riwayat kesehatan, dan kebutuhan pribadi pasien, seperti rencana kehamilan.

Berikut adalah beberapa cara yang dapat digunakan untuk menangani menorrhagia:

Obat-obatan

Beberapa jenis obat-obatan yang bisa digunakan untuk menangani menorrhagia yaitu:

  • Obat antifibrinolitik, seperti asam traneksamat, untuk membantu proses pembekuan darah.
  • Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs), seperti ibuprofen, naproxen, dan asam mefenamat, untuk meredakan gejala nyeri dan menurunkan produksi prostaglandin yang bisa memicu menorrhagia.
  • Pil kontrasepsi kombinasi, untuk mengatur siklus menstruasi dan mengurangi durasi serta banyaknya darah yang keluar saat menstruasi.
  • Desmopressin, untuk mengatasi penyebab perdarahan pada penyakit von Willebrand.
  • Progestogen suntik dan norethisterone oral (obat minum), untuk membantu menyeimbangkan kadar hormon dan mengurangi jumlah perdarahan.
  • Analog GnRH-a (gonadotropin releasing hormone analogue), untuk mengurangi perdarahan saat menstruasi, memperbaiki siklus menstruasi, meredakan gejala menstruasi, mengurangi risiko radang panggul, serta mencegah kanker.

Jika menorrhagia sampai menyebabkan terjadinya anemia, dokter akan memberikan suplemen zat besi.

Operasi

Prosedur operasi biasanya akan direkomendasikan oleh dokter apabila menorrhagia sudah tidak bisa lagi ditangani dengan obat-obatan dan untuk menangani penyebab yang mendasari menorrhagia. Beberapa jenis prosedur yang bisa dilakukan antara lain:

  • Dilatasi dan kuretase (D&C)
    Dokter akan melakukan dilatasi (pembukaan) serviks dan melakukan kuretase (pengerokan) dinding dalam rahim untuk mengurangi perdarahan saat menstruasi.
  • Embolisasi arteri rahim
    Prosedur ini dilakukan untuk menangani menorrhagia yang disebabkan oleh miom. Pada prosedur ini, miom disusutkan dengan cara memblokir arteri yang mensuplai darah ke tumor tersebut.
  • Miomektomi
    Pada prosedur ini, miom yang menjadi penyebab haid berlebihan akan diangkat melalui pembedahan. Pada sebagian kasus, miom bisa tumbuh kembali meski miomektomi telah dilakukan.
  • Reseksi endometrium
    Prosedur ini dilakukan untuk mengangkat endometrium menggunakan kawat panas. Setelah menjalani prosedur ini, pasien tidak dianjurkan untuk hamil.
  • Ablasi endometrium
    Prosedur ini dilakukan dengan cara menghancurkan lapisan endometrium secara permanen, baik dengan laser, radiofrekuensi (RF), atau dengan pemanasan.
  • Histerektomi
    Operasi pengangkatan rahim ini akan menghentikan menstruasi selamanya dan membuat pasien tidak dapat hamil. Biasanya, prosedur ini ditempuh jika menorrhagia sudah tidak bisa lagi ditangani dengan cara lain.

Komplikasi dan Pencegahan Menorrhagia

Haid berlebihan dapat menyebabkan komplikasi berupa anemia defisiensi besi yang ditandai dengan sakit kepala, pusing, nafas pendek, dan jantung berdebar. Kondisi ini juga dapat menyebabkan dismenore (nyeri haid) yang parah hingga membutuhkan penanganan medis.

Menorrhagia sulit dicegah karena penyebabnya ada banyak. Hal terbaik yang dapat dilakukan adalah melakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda memiliki faktor-faktor risiko di atas. Dengan begitu, dokter bisa memberikan penanganan dini jika Anda mengalami haid berlebihan.