Methadone adalah obat yang digunakan untuk mencegah gejala putus obat yang muncul ketika tubuh memberikan respons negatif terhadap penghentian penggunaan NAPZA. Obat ini dapat diberikan kepada pasien yang sedang menjalani masa rehabilitasi akibat penyalahgunaan NAPZA. Selain itu, methadone juga digunakan untuk meredakan rasa sakit atau nyeri hebat akibat cedera atau pascaoperasi.

METHADONE-alodokter

Methadone merupakan salah satu jenis obat analgesik opioid, yaitu golongan obat pereda nyeri yang menyebabkan ketergantungan jika digunakan secara berulang. Karena itu, penggunaannya harus berada di bawah pengawasan dokter. Methadone diberikan ketika jenis obat pereda nyeri (analgesik) lain tidak lagi efektif dalam meredakan nyeri. Cara kerja obat ini menyerupai morfin, yaitu mengubah kinerja sistem saraf dan otak dalam merespons rasa sakit dan nyeri yang dialami pasien.

Merek dagang: Methadone

Tentang Methadone

Golongan Obat resep
Kategori Analgesik opioid
Manfaat
  • Meredakan rasa sakit dan nyeri hebat
  • Mencegah gejala putus obat
Digunakan oleh Dewasa
Kategori kehamilan dan menyusui Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.Methadone dapat diserap oleh ASI, sehingga tidak boleh digunakan selama menyusui.
Bentuk obat Sirop

Peringatan:

  • Methadone tidak diperuntukkan untuk anak usia di bawah 18 tahun.
  • Hindari penggunaan methadone jika sedang atau pernah menderita gangguan pernapasan, seperti asma.
  • Hati-hati dalam mengonsumsi methadone jika sedang atau memiliki riwayat penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan cedera kepala atau kondisi lain yang dapat meningkatkan tekanan pada otak, seperti tumor otak.
  • Beri tahu dokter jika sedang atau pernah menderita gangguan jantung, penyakit hati dan ginjal, penyakit kandung empedu, penyakit tiroid, serta gangguan pankreas.
  • Beri tahu dokter jika sedang atau pernah mengalami gangguan mental, seperti depresi.
  • Methadone sebaiknya digunakan secara hati-hati terhadap pasien lansia atau pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, karena dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
  • Hindari mengonsumsi alkohol selama menjalani pengobatan dengan methadone, karena dapat meningkatkan risiko efek samping serius.
  • Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat-obatan lain, termasuk suplemen dan produk herba.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

Dosis Methadone

Kondisi Usia Dosis
Pereda rasa nyeri Dewasa Dosis awal: 5-10 mg, setiap 6-8 jam sesuai kebutuhan. Dosis obat dapat ditingkatkan secara perlahan sesuai respons tubuh. Pemberian dosis tidak lebih dari 2 kali sehari jika digunakan untuk pengobatan jangka panjang.
Lansia Dosis sama dengan dosis dewasa. Pemberian dosis berulang harus dilakukan secara hati-hati.
Gejala putus obat akibat penyalahgunaan NAPZA Dewasa Dosis yang diberikan tergantung tingkat ketergantungan pasien terhadap NAPZA.Dosis awal: 20-30 mg, 1 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan 5-10 mg jika gejala putus obat tidak dapat diredakan atau muncul kembali.

Dosis maksimal: 40 mg pada hari pertama penggunaan. Diberikan sebagai dosis tunggal atau dibagi menjadi beberapa dosis.

Setelah kondisi pasien stabil selama 2-3 hari, kurangi dosis secara bertahap setiap hari atau dengan jarak 2 hari. Pengurangan dosis tetap harus dilakukan secara hati-hati untuk mencegah gejala putus obat muncul kembali.

Lansia Dosis sama dengan dosis dewasa. Pemberian dosis berulang harus dilakukan secara hati-hati.

Mengonsumsi Methadone dengan Benar

Ikutilah anjuran dokter dan bacalah informasi yang tertera pada label kemasan obat.

Methadone dapat dikonsumsi sebelum atau setelah makan. Namun jika obat ini menyebabkan mual atau sakit maag, konsumsilah dengan disertai makanan atau susu.

Kocok botol methadone terlebih dahulu agar tercampur sempurna sebelum diminum. Gunakan sendok takar yang ada dalam kemasan agar dosisnya tepat, dan jangan gunakan sendok makan.

Methadone hanya digunakan untuk terapi pengobatan jangka pendek, dan penggunaannya berada di bawah pengawasan ketat dokter. Jangan menambah dosis atau terlalu sering mengonsumsi dosis tanpa seizin dokter. Jangan pula menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba karena methadone dapat menimbulkan gejala putus obat, terutama bagi pasien yang telah lama mengonsumsi methadone.

Simpanlah methadone pada suhu ruangan dan di dalam wadah tertutup untuk menghindari paparan sinar matahari, serta jauhkan dari jangkauan anak-anak

Interaksi Obat

Beberapa interaksi yang dapat terjadi apabila methadone digunakan dengan obat lain meliputi:

  • Meningkatkan risiko gejala putus obat, jika digunakan dengan buprenorphine dan naloxone.
  • Meningkatkan kadar dan risiko efek samping methadone, jika digunakan dengan cimetidine, erythromycin, obat antijamur (ketoconazole dan voriconazole), atau ritonavir.
  • Meningkatkan kadar diazepam, lorazepam, alprazolam, dan zidovudine dalam darah.
  • Menurunkan kadar dan mengurangi efektivitas methadone, jika digunakan dengan jenis obat antikonvulsan (phenobarbital, phenytoin, carbamazepine) dan rifampicin
  • Meningkatkan risiko gangguan irama jantung jenis perpanjangan interval QT, jika digunakan dengan obat pengatur ritme janutng, seperti amiodarone.
  • Makin menurunkan aktivitas otak, jika digunakan dengan jenis obat opioid lainnya seperti morfin atau obat penenang

Kenali Efek Samping dan Bahaya Methadone

Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi methadone adalah:

  • Perubahan emosi.
  • Gangguan penglihatan.
  • Gangguan tidur (insomnia atau hipersomnia).
  • Sakit kepala.
  • Sakit maag.
  • Pernapasan lambat.
  • Sering berkeringat.
  • Konstipasi dan sulit buang air kecil.
  • Mual dan muntah.

Efek samping yang bersifat ringan biasanya akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari atau minggu seiring adaptasi tubuh terhadap proses pengobatan. Segera hubungi dokter jika efek samping semakin memburuk atau timbul kondisi berikut ini:

  • Gejala alergi, seperti gatal, muncul ruam, serta pembengkakan pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan.
  • Gangguan pernapasan (sulit bernapas).
  • Nyeri dada dan detak jantung cepat.
  • Gejala sindrom serotonin, seperti halusinasi, demam, otot kaku, dan disorientasi.
  • Hipotensi ortostatik.
  • Ketergantungan dan overdosis.
  • Kejang.