Dalam mendiagnosis obesitas, dokter perlu mengetahui riwayat kesehatan dan memeriksa kondisi fisik pasien. Pemeriksaan fisik meliputi mengukur tinggi badan dan berat badan, memeriksa tanda vital, seperti suhu tubuh, detak jantung, dan tekanan darah, serta pemeriksaan kondisi organ lainnya, seperti paru-paru, jantung, dan lambung.

Untuk mengetahui seseorang mengalami obesitas atau tidak adalah melalui pengukuran indeks massa tubuh (IMT) dengan perhitungan IMT = berat badan (dalam satuan kg)/tinggi badan (dalam satuan m) dikuadratkan. Pengelompokkannya dijabarkan dalam tabel berikut ini.

Kondisi  Nilai IMT
Berat badan kurang < 18,5
Normal 18.5 – 22.9
Berat badan berlebihRisiko meningkatObesitas tingkat I

Obesitas tingkat II

>  2323 – 24,925 – 29.9

>  30

 Selain menghitung IMT, dokter juga dapat melakukan:

  • Pengukuran ketebalan lipatan kulit untuk mengetahui ukuran lemak tubuh.
  • Perbandingan ukuran pinggang dan pinggul.
  • Pemindaian dengan USG, CT scan, atau MRI guna mengetahui kadar lemak dan distribusinya di dalam tubuh.

Di samping pengukuran dan pemindaian tersebut, dokter bisa melakukan tes penunjang untuk mengetahui adanya risiko penyakit yang terkait dengan obesitas. Tes tersebut dilakukan melalui tes darah. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui:

  • Kadar kolesterol
  • Gula darah
  • Fungsi ginjal
  • Hormon tiroid.

Selain tes darah, dokter juga dapat memeriksa kondisi jantung dengan melakukan elektrokardiografi.

Berdasarkan serangkaian tes tersebut, dokter dapat menentukan berapa banyak berat badan yang perlu diturunkan, dan penyakit lain terkait obesitas yang dialami penderita obesitas.