Ketika rabies telah di tahap menimbulkan gejala, kondisi tersebut sudah berbahaya dan berpotensi besar menyebabkan kematian. Hingga saat ini, belum ada metode untuk mengobati rabies pada tahap tersebut.

Rabies dapat dicegah dengan melakukan penanganan setelah tergigit hewan yang berisiko menularkan virus, seperti memberikan penanganan awal pada luka gigitan dan menerima serum serta vaksin anti rabies. Pada luka gigitan, penanganan awal yang dimaksud meliputi:

  • Membersihkan area luka dengan sabun.
  • Pemberian antiseptik, seperti alkohol atau povidone iodine.
  • Segera ke fasilitas kesehatan terdekat.

Jika memungkinkan, pasien harus melakukan pengamatan pada hewan yang menggigit. Pengamatan dilakukan dengan mengurung hewan selama 10-14 hari, dan melihat ada atau tidaknya gejala rabies pada hewan tersebut. Hal tersebut ditujukan untuk menilai perlu atau tidaknya pemberian serum atau vaksin anti rabies.

Selain pengamatan terhadap hewan yang menggigit, dokter juga akan menilai luka yang dialami pasien. Penilaian terhadap luka, juga menentukan perlu atau tidaknya seseorang mendapatkan vaksin atau serum anti rabies. Luka yang berisiko tinggi dan perlu mendapatkan vaksin atau serum anti rabies adalah luka yang terletak di bagian tubuh yang memiliki banyak saraf seperti leher, kepala, wajah, serta ujung jari tangan dan kaki, atau luka tersebut cukup dalam dan jumlahnya lebih dari 1.

Apabila luka berisiko rendah dan hewan yang menggigit tidak menimbulkan gejala rabies selama proses observasi, maka pasien tidak memerlukan serum atau vaksin anti rabies. Namun, apabila luka yang dialami adalah luka berisiko tinggi, serta hewan yang menggigit tidak dapat diobservasi atau selama observasi hewan menimbulkan gejala rabies, pasien perlu menerima serum atau vaksin. Pemberian serum dan vaksin anti rabies bertujuan untuk menetralkan virus rabies yang ada di luka dan di dalam tubuh.