Radang usus besar adalah kondisi ketika lapisan dinding usus besar mengalami iritasi atau peradangan. Kondisi ini dapat ditandai dengan nyeri perut sebelah kiri bawah. Radang usus besar perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan komplikasi jika tidak segera diatasi.

Radang usus besar disebut juga dengan kolitis. Kondisi ini dibedakan menjadi dua jenis, yaitu radang usus besar akut dan radang usus besar kronis. Radang usus besar akut umumnya terjadi secara mendadak dan bersifat sementara. Sementara itu, radang usus besar kronis terjadi secara bertahap dan dapat berlangsung selama bertahun-tahun.

Radang Usus Besar, Ketahui Penyebab dan Penanganannya - Alodokter

Gejala radang usus besar bisa berbeda-beda pada setiap orang, tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Beberapa gejala radang usus besar yang sering dialami adalah nyeri perut, diare, demam, lemas, nafsu makan menurun, serta mual dan muntah.

Radang Usus Besar dan Penyebabnya

Berikut ini adalah penjelasan mengenai beberapa penyebab radang usus besar:

1. Infeksi bakteri atau virus

Infeksi pada usus besar sering kali disebabkan oleh bakteri maupun virus yang masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Bakteri penyebab umum meliputi Escherichia coli, Salmonella, atau Shigella, yang dapat menyebabkan peradangan hebat di usus besar. 

Selain itu, beberapa jenis virus, seperti Cytomegalovirus atau Adenovirus, juga kerap menjadi pemicu radang usus besar, terutama di daerah dengan sanitasi yang kurang baik.

Gejala radang usus besar akibat infeksi biasanya meliputi diare yang disertai darah atau lendir, nyeri perut, demam, dan mual. Penularan infeksi ini dapat dicegah dengan menjaga kebersihan makanan, air, dan tangan sebelum makan.

2. Penyakit autoimun

Pada beberapa kasus, radang usus besar disebabkan oleh penyakit autoimun. Dalam kondisi ini, sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi dari penyakit justru menyerang jaringan sehat di usus besar. 

Contoh penyakit autoimun yang menyebabkan radang usus besar adalah kolitis ulseratif dan penyakit Crohn, yang umumnya bersifat kronis dan menimbulkan peradangan jangka panjang.

Penyakit ini sering kali ditandai dengan gejala yang berulang, seperti nyeri perut, diare berdarah, penurunan berat badan, dan kelelahan. Penyebab pasti gangguan autoimun belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risikonya, seperti faktor genetik dan gaya hidup.

3. Kolitis iskemik

Kolitis iskemik terjadi ketika aliran darah ke usus besar mengalami penurunan atau tersumbat. Kondisi ini umumnya dialami oleh lansia atau penderita penyakit pembuluh darah, seperti aterosklerosis atau tekanan darah rendah yang parah. Tanpa suplai darah yang cukup, jaringan usus menjadi lemah, meradang, bahkan rusak.

Gejala kolitis iskemik biasanya muncul tiba-tiba, seperti nyeri perut mendadak, diare berdarah, dan terkadang mual atau muntah. Penanganan yang tepat penting dilakukan agar jaringan usus tidak rusak permanen.

4. Efek samping obat-obatan

Penggunaan obat-obatan tertentu, terutama antibiotik dan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), dapat memicu radang usus besar. Antibiotik dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik di usus, sehingga bakteri jahat berkembang dan menyebabkan peradangan.

OAINS juga berisiko menimbulkan iritasi pada lapisan usus bila digunakan dalam jangka panjang atau tanpa pengawasan dokter.

Gejala akibat efek samping obat biasanya muncul beberapa hari hingga minggu setelah mengonsumsi obat tersebut. Keluhannya bisa berupa diare, nyeri atau kram perut, atau bahkan feses berdarah.

5. Paparan radiasi berlebih pada area perut atau panggul

Terapi radiasi pada area perut atau panggul, misalnya untuk pengobatan kanker, dapat berdampak pada jaringan usus besar. Paparan radiasi berulang bisa merusak sel-sel sehat di sekitar usus, memicu iritasi, luka, hingga peradangan kronis. Risiko ini umumnya meningkat pada pasien yang menjalani radioterapi dalam jangka panjang.

Gejala radang usus besar akibat radiasi dapat muncul beberapa minggu hingga bulan setelah terapi. Keluhan yang dapat muncul adalah diare, nyeri perut, dan feses berdarah.

Radang usus besar dan Penanganannya

Penanganan radang usus besar umumnya harus disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahannya. Namun, Anda dapat melakukan beberapa cara sederhana sebagai tindakan untuk mengatasi radang usus besar, seperti:

  • Konsumsi makanan yang mudah dicerna, seperti kentang rebus, bubur, atau sup bening
  • Cukupi asupan cairan dengan minum air putih minimal 8 gelas per hari
  • Hindari makanan pedas, asam, berlemak, olahan, dan cepat saji
  • Konsumsi makanan yang terjaga kebersihannya dan gunakan penutup makanan untuk menghindari kontaminasi bakteri maupun virus
  • Kelola stres dengan baik. Anda dapat mencoba teknik relaksasi sederhana, seperti melakukan meditasi atau aktivitas yang Anda sukai agar pikiran lebih tenang.

Jika sudah melakukan beberapa cara sederhana di atas tetapi keluhan radang usus besar tak kunjung mereda, Anda memerlukan pengobatan dari dokter. Berikut ini adalah beberapa obat yang dapat diberikan oleh dokter untuk mengatasi radang usus besar:

  • Antibiotik, seperti metronidazole atau ciprofloxacin, untuk mengatasi kolitis akibat infeksi bakteri
  • Obat antiinflamasi, seperti mesalazine, untuk mengontrol peradangan, terutama pada kasus kolitis ulseratif dan penyakit Crohn
  • Imunomodulator atau obat biologis, yang membantu mengendalikan reaksi sistem imun yang berlebihan pada penyakit autoimun
  • Obat antidiare, seperti loperamide, untuk mengurangi frekuensi buang air besar
  • Infus cairan, jika terjadi dehidrasi berat akibat diare terus-menerus

Anda dianjurkan untuk segera mengobati radang usus besar ketika mengalami gejala radang usus besar. Hal ini dilakukan agar radang usus besar tidak menyebabkan komplikasi yang serius, seperti usus bocor, sepsis, atau bahkan kanker usus besar.

Jika Anda sudah melakukan penanganan dengan cara di atas tetapi radang usus besar belum juga sembuh, segera konsultasikan ke dokter. Anda bisa memanfaatkan layanan Chat Bersama Dokter melalui aplikasi ALODOKTER atau buat janji konsultasi offline dengan dokter agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.