Renogen adalah obat untuk mengatasi anemia akibat gagal ginjal kronis, infeksi HIV/AIDS pada pasien yang mengonsumsi zidovudine, atau kemoterapi. Renogen mengandung epoetin alfa, yaitu bentuk sintetis dari hormon eritropoietin.

Epoetin alfa dalam Renogen merupakan golongan erythropoiesis-stimulating agents (ESA). Epoetin alfa bekerja dengan cara merangsang sumsum tulang untuk memproduksi lebih banyak sel darah merah. Cara kerja ini mirip dengan hormon erythropoietin alami yang diproduksi oleh ginjal. 

Renogen

Pada penderita gagal ginjal kronis, produksi hormon erythropoietin dapat menurun sehingga pembentukan sel darah merah berkurang dan menyebabkan anemia. Sementara pasien yang menjalani kemoterapi atau mengonsumsi zidovudine, anemia dapat terjadi akibat terganggunya produksi sel darah merah di sumsum tulang.

Dengan pemberian Renogen, kadar hemoglobin dapat meningkat sehingga gejala anemia, seperti lemah, letih, dan sesak napas, dapat berkurang. 

Apa Itu Renogen

Bahan aktif  Epoetin alfa
Golongan Obat resep
Kategori Erythropoiesis-stimulating agents (ESA)
Manfaat Mengobati anemia pada gagal ginjal kronis, pasien HIV/AIDS yang mengonsumsi zidovudine, atau sedang menjalani kemoterapi
Digunakan oleh Dewasa 
Renogen untuk ibu hamil Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada ibu hamil.
Obat ini hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.
Renogen untuk ibu menyusui Renogen dapat digunakan oleh ibu menyusui selama mengikuti anjuran dokter.
Bentuk obat Suntik 

Peringatan sebelum Menggunakan Renogen

Renogen hanya boleh digunakan sesuai resep dokter. Berikut adalah beberapa hal yang perlu Anda perhatikan sebelum menjalani pengobatan dengan Renogen:

  • Informasikan kepada dokter tentang riwayat alergi yang Anda miliki. Renogen tidak boleh digunakan oleh pasien yang alergi terhadap epoetin alfa.
  • Sampaikan kepada dokter jika Anda mengalami hipertensi yang belum terkontrol atau berisiko mengalami serangan jantung, stroke, atau gagal jantung. Renogen tidak boleh digunakan oleh pasien dengan kondisi tersebut karena bisa meningkatkan risiko terjadinya efek samping yang serius.
  • Beri tahu dokter jika Anda pernah pure red cell aplasia (PRCA) setelah menjalani pengobatan dengan obat yang mirip dengan eritropoietin. Renogen tidak boleh digunakan oleh pasien tersebut.
  • Bicarakan dengan dokter jika Anda pernah atau sedang menderita penyakit jantung, kejang, fenilketonuria (PKU), penyakit ginjal, kanker, atau sedang menjalani cuci darah.
  • Diskusikan dengan dokter jika Anda sedang menggunakan obat-obatan lain, termasuk suplemen, atau produk herbal.
  • Pastikan untuk memberi tahu dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan.
  • Segera ke dokter jika Anda mengalami reaksi alergi obat atau efek samping yang lebih serius setelah menggunakan Renogen.

Dosis dan Aturan Pakai Renogen

Suntikan Renogen diberikan ke pembuluh darah (intravena/IV) atau ke bawah kulit (subkutan/SC) oleh dokter atau petugas medis di bawah pengawasan dokter.

Dosis Renogen akan ditentukan oleh dokter sesuai dengan kondisi yang dialami pasien. Berikut adalah pembagian dosis epoetin alfa:

Tujuan: Mengobati anemia pada pasien gagal ginjal kronis

  • Dosis awal 50 IU/kgBB, 3 kali seminggu. Pengobatan diberikan melalui suntikan IV selama setidaknya 1–5 menit. Dosis dapat ditingkatkan dengan penambahan 25 IU/kgBB tiap 4 minggu.

Tujuan: Mengobati anemia pada pasien HIV yang sedang mengonsumsi zidovudine

  • Dosis awal 100 IU/kgBB, 3 kali seminggu. Pengobatan diberikan melalui suntikan SC/IV selama 8 minggu. Dosis dapat ditingkatkan 50–100 IU/kgBB, 3 kali seminggu dengan interval pengobatan 4–8 minggu sesuai respons pasien.

Tujuan: Mengobati anemia pada pasien yang menjalani kemoterapi

  • Dosis awal 150 IU/kgBB, 3 kali seminggu atau 450 IU/kgBB, 1 kali seminggu. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 60.000 IU, 1 kali seminggu setelah 4 minggu pengobatan.

Tujuan: Mengurangi kebutuhan transfusi darah pada operasi tertentu

  • Dosis 600 IU/kgBB, 1 kali seminggu. Pengobatan dimulai 3 minggu sebelum operasi dengan dosis ke-4 diberikan pada hari operasi. Atau 300 IU/kgBB tiap hari. Pengobatan dimulai 10 hari sebelum operasi dan 4 hari pascaoperasi.

Cara Menggunakan Renogen dengan Benar

Renogen akan disuntikkan oleh dokter atau petugas medis di bawah pengawasan dokter di rumah sakit. Obat ini akan disuntikkan ke pembuluh darah (intravena/IV) atau di bawah kulit (subkutan/SC), tergantung pada kondisi yang ditangani.

Berikut adalah hal-hal yang perlu diketahui selama terapi Renogen: 

  • Ikuti saran dan anjuran dokter selama menjalani terapi dengan menggunakan Renogen.
  • Pastikan untuk melakukan kontrol sesuai dengan jadwal yang diberikan oleh dokter. Selama menjalani pengobatan dengan Renogen, Anda perlu melakukan pemeriksaan kesehatan dan laboratorium secara rutin.
  • Jangan berhenti menjalani pengobatan dengan Renogen tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba dapat membuat kondisi lebih sulit untuk ditangani.

Interaksi Renogen dengan Obat Lain

Ada beberapa efek interaksi obat yang dapat terjadi bila Renogen digunakan bersama obat-obatan tertentu, yaitu:

  • Peningkatan risiko terjadinya pembekuan darah yang bisa menyumbat pembuluh darah jika digunakan dengan lenalidomide 
  • Peningkatan risiko terjadinya efek samping ciclosporin

Agar aman, konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan obat, suplemen, atau produk herbal apa pun bersama Renogen.

Efek Samping dan Bahaya Renogen 

Efek samping yang mungkin timbul setelah menggunakan Renogen adalah:

Konsultasikan lewat Chat Bersama Dokter jika efek samping di atas terus berlanjut atau memberat. Obat ini juga bisa meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah yang bisa menyumbat pembuluh darah, segera ke dokter jika Anda mengalami kondisi berikut:

  • Serangan jantung, yang ditandai dengan nyeri dada yang memberat, sesak napas, keringat dingin, atau pingsan
  • Gejala sumbatan di pembuluh darah kaki, seperti berupa nyeri, bengkak, atau rasa hangat di paha atau betis
  • Keluhan stroke, berupa kelemahan pada satu sisi tubuh, bicara tiba-tiba menjadi tidak jelas, serta sakit kepala yang sangat berat

Selain itu, Anda juga harus segera ke dokter jika mengalami reaksi alergi obat atau gejala gagal jantung antara lain rasa lelah yang tidak biasa, sesak napas yang berat, dan bengkak pada tangan atau kaki.