Ripizol adalah obat untuk mengendalikan gejala skizofrenia dan gangguan bipolar. Obat ini juga sering diresepkan sebagai terapi tambahan pada depresi berat, serta untuk meredakan gejala sindrom Tourette dan gangguan perilaku akibat autisme.
Kandungan aripiprazole pada Ripizol bekerja dengan cara menyeimbangkan zat kimia otak, yaitu dopamin dan serotonin. Efeknya membantu menstabilkan emosi, suasana hati, dan perilaku. Oleh karena itu, Ripizol dapat digunakan sebagai terapi pendamping antidepresan pada pasien depresi.

Produk Ripizol
Ripizol tersedia dalam 3 varian, yaitu:
- Ripizol 5 mg tablet, yang mengandung 5 mg aripiprazole tiap tablet.
- Ripizol 10 mg tablet, dengan kandungan 10 mg aripiprazole tiap tablet.
- Ripizol 15 mg tablet, yang mengandung 15 mg aripiprazole tiap tablet.
Apa Itu Ripizol
| Bahan aktif | Aripiprazole |
| Golongan | Obat resep |
| Kategori | Antipsikotik |
| Manfaat | Meredakan gejala skizofrenia dan gangguan bipolar |
| Terapi tambahan pada depresi | |
| Mengontrol gejala sindrom Tourette, atau gangguan perilaku akibat autisme | |
| Dikonsumsi oleh | Dewasa dan anak usia ≥6 tahun |
| Ripizol untuk ibu hamil | Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada ibu hamil. |
| Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin. | |
| Ripizol untuk ibu menyusui | Ripizol dapat digunakan pada ibu menyusui sesuai anjuran dokter, tetapi perlu pemantauan karena aripiprazole dapat memengaruhi produksi ASI. |
| Sebaiknya konsultasikan dengan dokter terkait pilihan obat yang lebih aman, terutama jika bayi lahir prematur atau usianya belum genap 1 bulan. | |
| Bentuk obat | Tablet |
Peringatan sebelum Menggunakan Ripizol
Ripizol hanya bisa dibeli dengan resep, yang bisa didapatkan melalui Chat Bersama Dokter. Perhatikan beberapa hal berikut sebelum menggunakan obat ini:
- Beri tahu dokter tentang riwayat alergi yang dimiliki pasien. Ripizol tidak boleh digunakan oleh orang yang alergi terhadap aripiprazole.
- Ripizol tidak boleh digunakan untuk mengatasi gejala psikosis akibat demensia.
- Sampaikan kepada dokter bila pasien pernah atau sedang menderita penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung, gangguan irama jantung, hipotensi, stroke, gagal jantung, serangan jantung, atau hipertensi.
- Informasikan kepada dokter jika pasien pernah menderita epilepsi atau kejang, glaukoma, sleep apnea, penyakit liver, pheochromocytoma, penyakit ginjal, gangguan pada prostat, myasthenia gravis, demensia, kolesterol tinggi, sel darah putih rendah, atau penyakit Parkinson.
- Beri tahu dokter bila pasien atau anggota keluarga pasien menderita diabetes atau gangguan mental lain, seperti depresi, gangguan bipolar, maupun gangguan obsesif kompulsif.
- Diskusikan dengan dokter mengenai penggunaan Ripizol jika Anda sedang menyusui, hamil, atau sedang merencanakan kehamilan.
- Konsultasikan dengan dokter jika Anda sedang menggunakan obat lain, termasuk suplemen dan produk herbal. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi terjadinya interaksi antarobat.
- Beri tahu dokter mengenai penggunaan Ripizol sebelum menjalani operasi atau perawatan gigi.
- Jangan langsung mengemudi atau melakukan aktivitas lain yang memerlukan kewaspadaan setelah menggunakan Ripizol, karena obat ini bisa menyebabkan kantuk, pusing, atau penglihatan buram.
- Hindari beraktivitas terlalu lama di bawah paparan sinar matahari langsung selama menjalani terapi dengan Ripizol, karena obat ini dapat mengurangi kemampuan tubuh untuk berkeringat sehingga memicu terjadinya heatstroke.
- Segera temui dokter jika muncul reaksi alergi obat atau efek samping yang serius setelah menggunakan Ripizol.
Dosis dan Aturan Pakai Ripizol
Berikut ini adalah dosis umum penggunaan Ripizol berdasarkan kondisi dan usia pasien:
Kondisi: Skizofrenia
- Dewasa: Dosis awal 10–15 mg, 1 kali sehari. Dosis pemeliharaan 15 mg, 1 kali sehari. Penyesuaian dosis dilakukan dengan jarak minimal 2 minggu. Dosis maksimal tidak lebih dari 30 mg per hari.
- Remaja usia ≥13 tahun: Dosis awal 2 mg untuk 2 hari pertama. Dosis ditingkatkan menjadi 5–10 mg, 1 kali sehari. Dosis maksimal adalah 30 mg per hari.
Kondisi: Gangguan bipolar
- Dewasa: Sebagai terapi tunggal, dosis awal 15 mg, 1 kali sehari. Sebagai terapi tambahan bersama lithium atau valproate, dosis awal 10–15 mg, 1 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan sesuai kondisi pasien. Dosis maksimal 30 mg per hari.
- Anak usia >10 tahun: Sebagai terapi tunggal atau terapi tambahan bersama lithium atau valproate, dosis awal 2 mg per hari, selama 2 hari pertama. Dosis ditingkatkan menjadi 5–10 mg per hari jika diperlukan. Dosis maksimal adalah 30 mg per hari.
Kondisi: Depresi berat
- Dewasa: Dosis awal 2–5 mg, 1 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan secara bertahap hingga 5 mg dengan interval minimal 1 minggu setelah dosis awal. Dosis maksimal 15 mg per hari.
Kondisi: Sindrom Tourette
- Anak usia ≥6 tahun dengan berat badan <50 kg: 2 mg per hari, selama 2 hari pertama, lalu ditingkatkan menjadi 5 mg per hari. Jika keluhan belum membaik, dosis dapat ditingkatkan secara perlahan hingga 10 mg per hari.
- Anak usia ≥6 tahun dengan berat badan ≥50 kg: 2 mg per hari, selama 2 hari pertama, lalu 5 mg per hari selama 5 hari selanjutnya. Dosis ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 10 mg per hari. Dosis maksimal 20 mg per hari.
Kondisi: Gangguan mood dan perilaku akibat autisme
- Anak usia ≥6 tahun: 2–5 mg per hari. Dosis maksimal adalah 15 mg per hari.
Cara Menggunakan Ripizol dengan Benar
Ikuti anjuran dokter dan bacalah aturan pakai yang tertera pada kemasan obat sebelum mengonsumsi Ripizol. Jangan menambah atau mengurangi dosis tanpa persetujuan dokter.
Agar pengobatan maksimal, ikutilah panduan penggunaan Ripizol berikut ini:
- Konsumsilah Ripizol sebelum atau sesudah makan.
- Jika Anda lupa mengonsumsi Ripizol, segera minum obat ini begitu teringat. Namun, bila jeda waktu dengan dosis selanjutnya sudah dekat, abaikan dosis tersebut dan jangan menggandakan dosis selanjutnya.
- Lakukan pemeriksaan rutin ke dokter selama menjalani pengobatan dengan Ripizol agar kondisi dan respons terapi dapat terpantau.
- Jangan menghentikan konsumsi Ripizol secara tiba-tiba tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
- Simpan Ripizol di tempat kering dan sejuk yang terhindar dari sinar matahari langsung. Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak.
Interaksi Ripizol dengan Obat Lain
Ada efek interaksi yang bisa terjadi jika Ripizol digunakan bersama obat lain. Interaksi tersebut bisa berupa:
- Peningkatan efek sedasi atau mengantuk jika digunakan bersama lorazepam
- Peningkatan risiko terjadinya efek samping hipotensi jika digunakan dengan obat antihipertensi
- Peningkatan risiko terjadinya sindrom serotonin jika digunakan bersama obat antidepresan jenis SNRIs, seperti venlafaxine, atau jenis SSRIs, seperti fluoxetine
- Peningkatan risiko terjadinya efek samping Ripizol jika digunakan bersama quinidine, fluoxetine, clarithromycin, itraconazole, atau ketoconazole
- Penurunan efektivitas Ripizol jika digunakan bersama efavirenz, carbamazepine, phenobarbital, phenytoin, rifampicin, atau nevirapine
Untuk mencegah terjadinya efek interaksi obat, diskusikan dengan dokter melalui fitur Chat Bersama Dokter, jika Anda berencana menggunakan Ripizol bersama obat, suplemen, atau produk herbal apa pun.
Efek Samping dan Bahaya Ripizol
Beberapa efek samping yang bisa terjadi setelah menggunakan Ripizol adalah:
- Pusing
- Kelelahan
- Sakit kepala
- Kantuk
- Mual dan muntah
- Mengeluarkan air liur secara berlebihan
- Sembelit atau justru diare
- Sulit tidur
Konsultasikan dengan dokter melalui chat jika efek samping di atas muncul, apalagi bila tidak kunjung membaik. Dokter akan memberikan saran dan pengobatan untuk mengatasi keluhan tersebut.
Segera cari pertolongan medis jika muncul reaksi alergi obat berat atau efek samping serius, seperti:
- Sulit menelan
- Penglihatan kabur
- Jantung berdebar atau denyut jantung tidak teratur
- Sulit bernapas saat tidur
- Gerakan tidak terkendali pada wajah dan bagian tubuh lain (tardive dyskinesia)
- Demam tinggi, menggigil, otot kaku, keringat berlebihan, linglung
- Tremor
- Perubahan suasana hati, seperti cemas berlebihan, depresi
- Muncul keinginan untuk bunuh diri atau melukai orang lain