Tenggelam adalah gangguan pada sistem pernapasan akibat tubuh terendam sebagian atau seluruhnya di dalam air. Kondisi ini dapat mengakibatkan kematian, terutama pada bayi dan anak-anak.

Berdasarkan penelitian, tenggelam merupakan penyebab kematian secara tidak disengaja peringkat ke-3 terbanyak di dunia. Data WHO menunjukkan, terdapat 236.000 kematian akibat tenggelam di tahun 2019.

Tenggelam - Alodokter

Pada anak usia dini, kasus tenggelam sering terjadi pada bayi baru lahir akibat kelalaian pengasuh saat memandikannya. Anak usia 1–4 tahun juga sering kali tenggelam di kolam renang akibat minimnya pengawasan orang tua.

Penyebab Tenggelam

Tenggelam terjadi ketika seseorang tidak mampu menjaga mulut dan hidungnya tetap di atas permukaan air, serta menahan napas ketika berada di dalam air dalam jangka waktu tertentu.

Saat terjadi tenggelam, air dapat masuk ke saluran pernapasan. Kondisi ini membuat pasokan oksigen ke dalam tubuh terhenti (hipoksemia). Akibatnya, terjadi kerusakan atau gangguan pada fungsi tubuh, seperti jantung dan otak.

Pada anak-anak, gangguan tersebut dapat terjadi dalam beberapa detik. Sementara pada orang dewasa, proses tersebut dapat terjadi lebih lama.

Tenggelam dapat disebabkan oleh beberapa kondisi dan faktor berikut ini:

  • Tidak bisa berenang
  • Mengalami serangan panik saat berada di dalam air
  • Terjatuh atau terpeleset ke dalam tempat penampungan air atau pembuangan yang terisi air
  • Menderita penyakit yang kambuh ketika berada di dalam air, seperti serangan jantung, kejang, atau gegar otak
  • Mengalami cedera akibat melompat ke dalam air, seperti patah tulang leher
  • Menjadi korban bencana alam, seperti banjir atau tsunami
  • Menjadi korban pembunuhan
  • Melakukan tindakan bunuh diri

Pada anak-anak, tenggelam terjadi akibat kurangnya pengawasan dan penjagaan ketika di bak mandi, kolam ikan, atau kolam renang.

Faktor risiko tenggelam

Tenggelam dapat terjadi pada siapa saja. Namun, kondisi ini lebih sering dialami oleh orang dengan faktor-faktor berikut ini:

  • Berusia 1–4 tahun
  • Memiliki kondisi kesehatan tertentu, seperti epilepsi, gangguan jantung, atau autisme
  • Memiliki profesi yang mengharuskan bekerja di air, seperti nelayan atau pelaut
  • Rutin bepergian melalui jalur air
  • Tidak mengenakan jaket keselamatan atau pelampung ketika beraktivitas di air
  • Mengonsumsi minuman beralkohol atau menggunakan obat psikotropika sebelum berenang atau berlayar

Gejala Tenggelam

Perlu diketahui bahwa orang tenggelam umumnya tidak dapat berteriak minta tolong. Hal ini terjadi karena masuknya air ke dalam saluran pernapasan atau menyempitnya saluran pernapasan akibat refleks tubuh di dalam air.

Orang tenggelam biasanya akan melakukan gerakan seperti meraih sesuatu secara berulang-ulang dan berusaha memosisikan kepalanya untuk menengadah dengan mulut terbuka. Orang tersebut juga akan terengah-engah, dan pandangannya akan tampak panik atau linglung.

Secara medis, tenggelam dapat terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Wet drowning, akibat banyaknya cairan yang masuk ke dalam paru-paru
  • Dry drowning, akibat saluran pernapasan yang refles menyempit ketika tubuh berada di dalam air sehingga oksigen tidak dapat masuk ke dalam paru

Gejala dan penanganan pada kedua jenis tenggelam tidak berbeda. Pada korban yang masih tertolong, gejala yang nampak adalah:

  • Cemas
  • Linglung
  • Batuk-batuk
  • Muntah
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Bengkak di area sekitar perut
  • Kulit dingin dan membiru

Kapan harus ke dokter

Berikan pertolongan pertama bila Anda mendapati korban tenggelam dan segera bawa ke IGD rumah sakit terdekat. Penting untuk diingat, pemeriksaan ke dokter tetap harus dilakukan meski tidak mengalami gejala setelah tenggelam.

Penanganan Tenggelam

Penanganan pada korban tenggelam dapat dibagi menjadi pertolongan pertama dan penanganan di rumah sakit, seperti dijelaskan di bawah ini:

Pertolongan pertama pada korban tenggelam

Bila melihat seseorang yang sedang meminta pertolongan akibat tenggelam, lakukan hal-hal berikut ini sambil menunggu tenaga medis tiba di lokasi:

  1. Bantu korban untuk keluar dari air dan pindah ke daratan. Jika Anda tidak bisa berenang, mintalah pertolongan kepada orang yang bisa berenang, seperti tim penjaga pantai atau kolam renang. Jika tidak ada, hubungi pusat bantuan gawat darurat.
  2. Jika korban masih sadar, lemparkan objek yang dapat mengapung ke titik yang mampu dijangkau oleh korban, seperti jaket pelampung, ban renang, atau tali. Namun, jika korban sudah tidak sadar, penyelamatan sebaiknya hanya dilakukan oleh orang yang bisa berenang dan mampu membawa korban ke tepian.
  3. Setelah korban berhasil dibawa ke darat, periksa pernapasannya dengan cara mendekatkan telinga ke hidung dan mulut korban, sambil melihat gerakan dada korban.
  4. Periksa denyut nadi di leher korban selama 10 detik. Jika denyut nadi tidak terasa, lakukan teknik resusitasi jantung paru (RJP) atau cardiopulmonary rescucitation (CPR).
  5. Berhati-hatilah dalam memosisikan kepala dan leher korban ketika hendak memberikan CPR. Tahan kepala dan leher korban pada posisi yang stabil. Jangan menggerakkan atau memiringkan leher atau kepala korban untuk mencegah cedera bertambah parah.
  6. Jika korban tenggelam di air dingin, segera keringkan dan ganti pakaiannya, serta tutupi korban dengan selimut hangat.
  7. Bawa korban tenggelam yang masih bisa ditolong ke rumah sakit terdekat.

Penanganan di rumah sakit

Dokter akan memeriksa pernapasan, denyut nadi, tekanan darah, dan kerja jantung pasien. Bila diperlukan, dokter akan melakukan RJP, memberikan tambahan oksigen, serta memasang alat bantu napas, khususnya pada pasien yang mengalami henti napas dan pingsan. Dokter juga akan menilai perlu tidaknya korban dirawat di ruang rawat intensif (ICU).

Diagnosis Tenggelam

Korban tenggelam butuh pertolongan sedini mungkin. Oleh sebab itu, diagnosis akan dilakukan setelah kondisi berbahaya yang terjadi akibat tenggelam sudah tertangani.

Diagnosis akan diawali dengan pemeriksaan fisik lengkap, terutama tanda henti napas dan henti jantung. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah terjadi hipotermia. Jika diperlukan, pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan untuk melihat kondisi darah dan kadar elektrolit pasien.

Pemindaian dengan foto Rontgen dada juga dapat dilakukan untuk memeriksa kondisi paru-paru pasien. Pada korban tenggelam yang dicurigai mengalami trauma di kepala atau leher, dokter dapat melakukan pemeriksaan CT scan pada bagian tersebut.

Komplikasi Tenggelam

Ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada korban tenggelam, tergantung pada seberapa lama korban tidak mendapatkan oksigen, yaitu:

Pencegahan Tenggelam

Meski mematikan, sebagian besar kasus tenggelam dapat dicegah dengan melakukan beberapa cara berikut ini:

  • Belajar berenang, bahkan bila perlu dengan mengambil kursus berenang
  • Menghindari berkendara saat sedang banjir
  • Tidak berlarian di tepi kolam renang, danau, atau kolam ikan
  • Menutup rapat akses ke tempat yang berisi air, seperti kolam renang dan bak mandi, bisa dengan mengunci pintu atau memasang pagar yang tidak mudah dilewati oleh anak-anak
  • Memandikan bayi atau anak-anak secara hati-hati
  • Mengawasi anak-anak dengan ketat ketika berada di lokasi yang rawan terjadi kasus tenggelam, seperti kolam ikan, danau, sungai, dan laut
  • Tidak mengonsumsi minuman beralkohol sebelum berenang, memancing, berlayar, atau melaut
  • Memberi tahu dokter jika sedang mengonsumsi obat-obat penenang ketika harus bekerja atau beraktivitas di lokasi yang rawan terjadi tenggelam
  • Mengenakan perangkat keselamatan, seperti jaket pelampung, saat berlayar atau melakukan aktivitas lain di air
  • Mempelajari dan memahami teknik melakukan CPR dengan tepat, agar dapat memberikan pertolongan pada orang yang tenggelam