Komplikasi tetanus dapat terjadi akibat kejang otot yang berat dan menyeluruh, serta gangguan fungsi saraf otonom yang mengatur pernapasan dan kerja jantung. Kondisi ini tergolong darurat medis karena dapat berkembang dengan cepat dan mengancam nyawa bila tidak ditangani secara intensif.

Berikut ini beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada penderita tetanus:

1. Gangguan pernapasan

Kejang dan kekakuan otot dapat mengenai otot pernapasan serta pita suara. Salah satu kondisi yang bisa terjadi adalah laringospasme, yaitu kontraksi mendadak pada otot laring yang menyebabkan saluran napas menyempit atau menutup.

Selain itu, kekakuan otot dada dan diafragma dapat mengganggu proses bernapas sehingga penderita berisiko mengalami gagal napas. Pada kasus berat, pasien mungkin memerlukan bantuan alat pernapasan (ventilator).

2. Pneumonia

Penderita tetanus yang mengalami gangguan menelan atau penurunan kesadaran berisiko mengalami aspirasi, yaitu masuknya makanan, minuman, atau air liur ke saluran napas. Kondisi ini dapat menyebabkan pneumonia aspirasi.

Risiko pneumonia juga meningkat pada pasien yang dirawat lama di rumah sakit atau menggunakan ventilator.

3. Emboli paru

Imobilisasi dalam waktu lama akibat kekakuan dan kejang otot dapat meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah di pembuluh darah vena (trombosis vena dalam). Bekuan darah tersebut dapat terlepas dan menyumbat pembuluh darah di paru-paru, yang disebut emboli paru.

Emboli paru merupakan kondisi serius yang memerlukan penanganan segera.

4. Kerusakan otak akibat kekurangan oksigen

Gangguan pernapasan yang tidak tertangani dapat menyebabkan kadar oksigen dalam darah menurun (hipoksia). Jika berlangsung lama, hipoksia dapat menimbulkan kerusakan otak permanen.

5. Patah tulang dan cedera otot

Kejang otot yang sangat kuat dan berulang dapat menyebabkan patah tulang, terutama pada tulang belakang. Selain itu, dapat terjadi robekan atau kerusakan jaringan otot yang menimbulkan nyeri hebat dan komplikasi lain.

6. Gangguan irama jantung dan tekanan darah

Tetanus dapat memengaruhi sistem saraf otonom yang mengatur denyut jantung dan tekanan darah. Akibatnya, penderita dapat mengalami gangguan irama jantung (aritmia), tekanan darah yang sangat tinggi atau sangat rendah, hingga henti jantung.

7. Infeksi nosokomial

Perawatan intensif dalam waktu lama, penggunaan kateter, ventilator, atau prosedur medis lainnya dapat meningkatkan risiko infeksi yang didapat di rumah sakit (infeksi nosokomial), seperti infeksi saluran kemih atau infeksi aliran darah.

8. Kematian

Tanpa penanganan yang cepat dan tepat, tetanus dapat berakibat fatal. Risiko kematian lebih tinggi pada bayi baru lahir (tetanus neonatorum), lansia, serta individu yang belum mendapatkan vaksinasi tetanus atau terlambat memperoleh perawatan medis.

Risiko terjadinya komplikasi tetanus lebih besar pada orang yang tidak pernah atau tidak lengkap mendapatkan imunisasi tetanus, serta pada kasus dengan gejala yang berat. Oleh karena itu, pencegahan melalui vaksinasi lengkap dan penanganan medis sedini mungkin sangat penting untuk menurunkan risiko komplikasi.