Diagnosis tetanus tidak ditentukan oleh tes laboratorium, tapi berdasarkan manifestasi klinis.

Pada tahap awal, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik sambil menanyakan riwayat penyakit dan vaksinasi penderita. Jenis vaksinasi yang pernah diterima serta gejala-gejala yang dialami juga akan ditanyakan secara mendetail.

Penderita yang ke dokter dalam keadaan kejang akan diberi pertolongan pertama dan langsung dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. metode Penanganan intensif  tersebut umumnya meliputi:

  • Meredakan kejang dan menenangkan pasien dengan memberi obat pelemas otot dan obat penenang.
  • Membersihkan luka, misalnya menyingkirkan kotoran atau jaringan mati serta mengangkat benda tajam yang tersisa pada luka. Proses ini dilakukan untuk  memusnahkan spora dan bakteri tetanus.
  • Menetralisasi neurotoksin yang masih bebas. Cara ini dilakukan melalui pemberian tetanus imunoglobulin.
  • Memberikan obat-obatan untuk menghentikan produksi neurotoksin dengan memberi antimikroba dan antibiotik guna mematikan bakteri Clostridium tetani.
  • Penggunaan alat bantu pernapasan atau ventilator jika tetanus berdampak pada otot-otot pernapasan.
  • Memberikan nutrisi melalui selang atau infus agar pengidap tidak dehidrasi dan mengalami kekurangan nutrisi.
  • Melakukan tirah baring (bedrest) dalam ruang gelap dan tenang. Stimulus fisik sekecil apa pun berpotensi menyebabkan kambuhnya siklus kejang.
  • Memberikan vaksinasi Tetanus. Perlu diingat bahwa pernah mengidap tetanus bukan berarti Anda akan kebal sesudahnya. Karena itu, pasien yang belum pernah menerima vaksinasi, memiliki riwayat vaksinasi yang tidak lengkap, atau tidak yakin pernah divaksinasi, sebaiknya menjalani vaksinasi tetanus.

Langkah Pencegahan Tetanus

Langkah utama untuk mencegah tetanus adalah melalui vaksinasi. Di Indonesia sendiri, vaksinasi tetanus termasuk salah satu dari 5 imunisasi wajib untuk anak.

Imunisasi tetanus diberikan sebagai bagian dari vaksin DTP (Difteri, Tetanus, Pertusis). Proses vaksinasi ini harus diberikan dalam 5 tahap, yaitu pada usia 2, 4, 6, 18 bulan, dan 4-6 tahun.

Bagi anak berusia di atas 7 tahun, tersedia vaksin Td yang juga berfungsi memberikan perlindungan terhadap tetanus sekaligus difteri. Proses vaksinasi Td perlu diulang tiap 10 tahun untuk mempertahankan kekebalan tubuh terhadap tetanus serta difteri.

Selain vaksin, pencegahan tetanus juga dapat dilakukan dengan selalu menjaga kebersihan luka agar tidak mengalami infeksi dan cepat sembuh. Pemberian tetanus toksoid juga biasanya dianjurkan oleh dokter untuk mencegah terjadinya infeksi tetanus pada luka.

Risiko Komplikasi Tetanus

Infeksi tetanus yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan komplikasi dan berakibat fatal, terutama bagi pengidap yang belum menjalani vaksinasi. Sejumlah komplikasi serius yang dapat dialami pengidap adalah:

  • Pneumonia aspirasi karena pengidap menghirup objek asing masuk ke paru-paru, misalnya ludah, muntah, makanan, atau minuman.
  • Emboli paru, terutama pada lansia dan pengguna obat-obatan terlarang. Komplikasi ini terjadi saat ada penyumbatan pada pembuluh darah di paru-paru.
  • Napas yang tiba-tiba berhenti. Kondisi ini disebabkan oleh kekakuan otot di sekitar pita suara sehingga penderita tidak bisa bernapas dan tercekik. Komplikasi ini umumnya terjadi pada pengidap tetanus dengan tingkat keparahan tinggi dan bisa berujung pada kematian karena kinerja jantung yang mendadak terhenti akibat kekurangan oksigen.
  • Patah tulang akibat kejang dan kontraksi yang berkepanjangan.