Dokter dapat mengetahui seseorang mengalami tetanus melalui gejala yang nampak serta pemeriksaan yang dilakukan. Pemeriksaan penunjang dilakukan hanya untuk membuktikan bahwa gejala yang dialami bukan disebabkan oleh penyakit lain.

Jika positif mengalami tetanus, penderita perlu menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Pengobatan bertujuan untuk merawat luka dan meredakan gejala. Pengobatan itu meliputi:

  • Perawatan luka, untuk membersihkan luka dan mengangkat jaringan yang sudah mati.
  • Suntikan antitetanus, untuk menetralkan racun.
  • Antibiotik, untuk membunuh kuman tetanus.
  • Obat penenang, untuk melemaskan otot yang tegang dan kaku.
  • Obat magnesium sulfat dan beta blocker, untuk mengatur irama jantung dan pernapasan.
  • Vaksin tetanus. Vaksin tetanus tetap diberikan walaupun seseorang sudah mengalami tetanus.

Jika racun mengenai otot pernapasan, dokter akan memasang alat bantu napas untuk menjaga aliran oksigen dalam tubuh.

Tetanus merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian, dan sampai saat ini belum ada obatnya. Pemberian antitetanus juga hanya untuk menetralkan racun yang belum menyerang saraf. Lalu, perawatan penderita tetanus juga membutuhkan waktu yang lama, yaitu 2-4 bulan.

Oleh karena itu, penting sekali mencegah tetanus dengan menerima vaksin tetanus.

Komplikasi Tetanus

Tetanus dapat menyebabkan sejumlah komplikasi serius, di antaranya:

  • Gangguan bernapas pernapasan akibat tegang pada otot pernapasan (laryngospasm).
  • Kerusakan otak karena kekurangan pasokan oksigen.
  • Patah tulang karena otot yang tegang dan kaku.
  • Gangguan irama jantung.
  • Infeksi lain karena perawatan lama di rumah sakit (infeksi nosokomial).

Pencegahan Tetanus

Salah satu upaya untuk mencegah tetanus adalah dengan melakukan vaksinasi tetanus. Vaksin ini mengakibatkan tubuh membuat antibodi untuk melawan racun tetanus. Pemberian vaksin ini wajib di Indonesia, dan diberikan sebanyak 3 kali  pada anak sebelum usia 1 tahun. Vaksin ini akan digabungkan dengan vaksin lain, yaitu difteri dan batuk rejan (vaksin DPT).

Vaksin tetanus perlu diulang sebanyak 4 kali, pada saat anak-anak berusia 18 bulan dan 5 tahun, serta saat usia 10 dan 18 tahun. Setelah itu, vaksinasi perlu diulang setiap periode 10 tahun.

Untuk mencegah tetanus pada bayi baru lahir, pemerintah Indonesia mewajibkan seorang wanita untuk melakukan vaksin tetanus saat sebelum menikah dan saat hamil.

Seperti telah dikatakan sebelumnya, kuman tetanus masuk melalui luka. Hal penting lainnya untuk mencegah tetanus adalah membersihkan luka dengan air mengalir dan sabun. Bila Anda belum pernah menerima vaksin tetanus, dan luka Anda cukup dalam serta penuh debu dan tanah, segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat. Dokter dapat menyarankan Anda untuk menerima suntikan antitetanus.