Siklus haid tidak lancar, sering sakit kepala, masalah pada penglihatan, dan terjadi penumpukan lemak pada anggota tubuh tertentu? Hati-hati, bisa jadi ini gejala tumor kelenjar hipofisis. Bahkan, kondisi ini bisa terjadi tanpa disertai gejala apa pun.

Kelenjar hipofisis atau yang biasa dikenal sebagai kelenjar pituitari, merupakan kelenjar berukuran kecil di otak yang berperan dalam memproduksi hormon-hormon penting di dalam tubuh. Tak heran, bila kelenjar hipofisis sering dijuluki “kelenjar master” karena hormon yang diproduksinya dapat memengaruhi organ dan kelenjar lain, seperti organ reproduksi, kelenjar tiroid, dan kelenjar adrenal. Oleh karenanya, gangguan pada kelenjar hipofisis berisiko mendatangkan banyak gangguan kesehatan.

Tumor Kelenjar Hipofisis Bisa Terjadi Tanpa Gejala Sama Sekali - Alodokter

Penyebab Tumor Kelenjar Hipofisis

Tumor kelenjar hipofisis terjadi ketika ada pertumbuhan sel yang tidak normal pada kelenjar hipofisis. Penyebab tumor kelenjar hipofisis masih belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diduga disebabkan oleh faktor genetik. Bisa karena mutasi genetik yang terjadi dengan sendirinya, atau yang diturunkan dari orang tua jika terdapat riwayat tumor kelenjar hipofisis dalam keluarga.

Kebanyakan tumor di kelenjar pituitari bersifat jinak dan tidak menyebar ke bagian tubuh lain, tapi keberadaan tumor kelenjar hipofisis dapat menyebabkan perubahan pada produksi hormon yang mengatur berbagai fungsi tubuh. Selain itu, tumor yang berukuran besar (lebih dari 1 sentimeter) juga berisiko menekan kelenjar dan jaringan di sekitarnya.

Gejala Tumor Kelenjar Hipofisis

Tumor kelenjar hipofisis tidak selalu menimbulkan gejala. Namun, sebagian penderita dapat juga merasakan gejala, berupa:

  • Sakit kepala.
  • Gangguan penglihatan.
  • Mudah lelah.
  • Perubahan mood.
  • Mudah marah.
  • Sering merasa kedinginan.
  • Infertilitas.
  • Berkurangnya hasrat seksual.
  • Menurunkan produksi ASI.

Sementara, untuk tumor yang berukuran besar dapat menyebabkan berkurangnya hormon, sehingga menimbulkan disfungsi seksual, meriang, mual dan muntah, menstruasi yang tidak teratur, serta penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Pada anak-anak, tumor kelejar hipofisis dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan, seperti gigantisme.

Tidak hanya itu, kelenjar hipofisis yang terkena tumor dan masih aktif dalam memproduksi hormon juga bisa menyebabkan masalah kesehatan. Hal ini berkaitan dengan produksi hormon yang meningkat, seperti:

  • Tumor yang mensekresi Adrenocorticotropic hormone-secreting (ACTH)
    Memproduksi terlalu banyak hormon kortisol dapat menyebabkan sindrom Cushing, yang menimbulkan gejala berupa meningkatnya tekanan darah dan kadar gula darah, penumpukan lemak, jerawat, stretch marks, mudah memar, dan gangguan psikologis seperti cemas dan depresi.
  • Tumor yang mensekresi hormon pertumbuhan
    Saat mengidap tumor, kelenjar hipofisis bisa memproduksi hormon pertumbuhan secara berlebih. Sehingga menyebabkan timbulnya kondisi yang disebut akromegali dengan gejala berupa pembesaran tangan dan kaki, nyeri sendi dan otot, berkeringat secara berlebihan, gangguan jantung, gigi yang tidak rata, serta tumbuhnya bulu tubuh secara berlebihan.
  • Tumor yang mensekresi prolaktin
    Kelebihan hormon prolaktin dapat menyebabkan turunnya kadar hormon seksual pada pria dan wanita. Selain itu, kelebihan prolaktin pada wanita juga dapat menyebabkan keluarnya cairan seperti ASI dari payudara, tidak mendapat haid, atau periode haid tidak teratur. Sedangkan pada pria, efeknya dapat mencakup disfungsi ereksi, pertumbuhan payudara, dan berkurangnya jumlah sperma.
  • Tumor yang mensekresi thyroid-stimulating hormone (TSH)
    Pelepasan hormon TSH yang berlebih bisa merangsang kelenjar tiroid untuk memproduksi hormon tiroksin terlalu banyak. Hal ini menyebabkan penurunan berat badan, keringat berlebih, detak jantung tidak teratur, sering buang air besar, serta serangan cemas

Diagnosis Tumor Kelenjar Hipofisis

Penyakit tumor kelenjar hipofisis seringkali tidak terdiagnosis sejak awal. Ini dikarenakan gejala yang ditimbulkan dari kondisi tersebut tidak khas dan bisa sangat mirip dengan masalah kesehatan lain. Sehingga untuk memastikannya, perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan yang menyeluruh. Dalam menentukan diagnosis, dokter akan menanyakan riwayat kesehatan pasien dan melakukan serangkaian pemeriksaan fisik termasuk pemeriksaan saraf dan mata, ditambah pemeriksaan penunjang.

Pemeriksaan penunjang yang akan dilakukan, meliputi:

  • MRI dan CT scan
    Tes ini digunakan untuk mengidentifikasi lokasi dan mengukur besarnya tumor.
  • Tes darah dan urine
    Tes ini dilakukan untuk mengukur kadar hormon di dalam tubuh.
  • Biopsi
    Merupakan pemeriksaan jaringan tumor untuk memastikan apakah tumor tersebut bersifat ganas atau tidak. Hasil pemeriksaan biopsi dan pemeriksaan lain akan menentukan langkah penanganan selanjutnya.

Selain melakukan pemeriksaan fisik, dokter mungkin akan merujuk Anda ke dokter ahli endokrinologi (dokter spesialis endokrin) untuk pemeriksaan lebih detail.

Penanganan Tumor Kelenjar Hipofisis

Umumnya, penanganan tumor kelenjar hipofisis akan berbeda-beda, tergantung dari jenis dan ukuran tumor, serta apakah tumor bersifat jinak atau ganas. Penanganan tumor kelenjar hipofisis meliputi pengangkatan atau pengecilan tumor dan pengembalian kadar hormon ke posisi normal, dengan cara-cara berikut:

  • Operasi
    Operasi pengangkatan tumor kelenjar hipofisis perlu dilakukan terutama jika tumor menekan saraf optik atau memproduksi hormon tertentu secara berlebihan.
  • Kemoterapi
    Merupakan metode untuk mengecilkan ukuran tumor. Berdasarkan perjalanan penyakitnya, kemoterapi bisa dilakukan sebagai langkah pengobatan untuk menyembuhkan, atau sebagai bentuk pengobatan paliatif yang bertujuan untuk mengurangi gejala penyakit.
  • Terapi radiasi
    Metode ini biasanya digunakan pada pasien yang tidak bisa menjalani operasi. Selain itu, terapi radiasi juga sering dipakai jika tumor kembali muncul pasca operasi.
  • Penggunaan obat-obatan
    Metode ini dipakai untuk menurunkan produksi hormon yang berlebih.

Jika tumor dirasa tidak menyebabkan gejala yang mengganggu dan jika pasien berusia muda, dokter mungkin akan merekomendasikan untuk menunggu sambil terus melakukan pengamatan secara berkala. Penderita tumor kelenjar hipofisis yang tidak mengganggu, dapat hidup dengan normal. Namun harus diingat, rutin berkonsultasi ke dokter merupakan langkah penanganan yang perlu dijalani untuk menentukan pilihan penanganan terbaik.