Vulvitis adalah suatu kondisi peradangan pada vulva yang dapat menyerang wanita dalam rentang usia berapa pun.

Vulva merupakan lipatan kulit yang terletak di bagian paling luar dari organ intim wanita, namun sering kali disalahartikan orang awam sebagai vagina. Padahal vagina merupakan liang atau saluran yang terletak lebih dalam setelah melewati vulva. Vulva terdiri dari 2 labia (bibir) mayora, 2 labia minora, dan klitoris.

Vulvitis - alodokter_compress

Kulit vulva rentan mengalami iritasi karena suhu di daerah vulva lembab dan hangat. Anak-anak perempuan yang belum mengalami pubertas dan wanita postmenopause berisiko tinggi mengalami kondisi ini. Dalam usia tersebut, wanita cenderung memiliki kadar hormon estrogen yang rendah sehingga jaringan vulva menjadi lebih kering dan lebih tipis.

Gejala Vulvitis

Vulvitis menimbulkan gejala yang bervariasi, tergantung dari penyebab peradangan pada vulva. Sangat disarankan untuk tidak menggaruk alat kelamin apabila muncul rasa gatal, karena berisiko menyebabkan iritasi berkembang menjadi infeksi.

Gejala-gejala vulvitis di antaranya adalah:

  • Rasa sangat gatal di alat kelamin, terutama pada malam hari.
  • Keputihan.
  • Rasa seperti terbakar dan kulit pecah-pecah di sekitar vulva.
  • Kulit bersisik dan area putih yang menebal di vulva.
  • Bengkak dan merah di labia dan vulva.
  • Benjolan berisi cairan (blister) pada vulva.

Perlu diingat bahwa gejala-gejala di atas bisa saja disebabkan oleh penyakit lain, selain vulvitis. Untuk itu, konsultasikan kepada dokter bila Anda mengalami sejumlah gejala di atas.

Penyebab Vulvitis

Peradangan pada vulva bisa disebabkan oleh sejumlah kondisi, seperti:

  • Infeksi. Tidak hanya vagina, vulva juga dapat terinfeksi bakteri, virus, atau jamur. Contoh-contoh penyebab infeksi pada vulva adalah herpes genital, jamur candida, infeksi HPV, kutu kemaluan, dan skabies.
  • Iritasi. Beberapa produk rumah tangga dapat menyebabkan iritasi, seperti tisu toilet, sabun mandi, sampo, dan kondisioner yang mengandung parfum, deodoran, bedak, semprotan organ intim, spermisida, serta pakaian dalam yang bukan berbahan katun. Iritasi juga dapat terjadi setelah berenang atau berendam di fasilitas umum, bersepeda, serta menunggang kuda.
  • Penyakit kulit. Beberapa penyakit kulit yang dapat memengaruhi kesehatan vulva, di antaranya adalah psoriasis, lichen planus, dan lichen sclerosus.
  • Estrogen rendah. Vulvitis dapat terjadi akibat kadar estrogen yang rendah, seperti saat menopause. Vulvitis yang terjadi dikaitkan dengan peradangan vagina akibat vagina menjadi kering.
  • Vulvodynia. Seseorang yang menderita vulvodynia akan mengalami rasa tidak nyaman atau nyeri, seperti tersengat atau terbakar, yang bersifat kronis pada area vagina dan vulva, tanpa adanya penyebab yang jelas.
  • Kanker vulva. Kanker vulva jarang terjadi, dan umumnya menyerang wanita berusia di atas 60 tahun. Tandanya diawali dengan benjolan atau luka pada vulva.

Diagnosis Vulvitis

Dokter akan memeriksa panggul pasien dan melihat  tanda-tanda yang mengindikasikan vulvitis, seperti merah, bengkak, benjolan berisi cairan (blister), atau luka pada vulva. Selain itu, dokter akan mengecek adanya keputihan sebagai tanda-tanda infeksi.

Selain menanyakan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik, dokter dapat melakukan tes darah, tes urine, dan pap smear guna mendeteksi penyebab peradangan atau infeksi hingga tanda-tanda kanker. Terkadang diperlukan mengambil sampel jaringan kulit untuk diperiksa di bawah mikroskop (biopsi kulit), apabila vulvitis tidak membaik dengan pengobatan yang sudah dilakukan.

Pengobatan dan Pencegahan Vulvitis

Pengobatan vulvitis bergantung pada kondisi yang menyebabkannya. Jika vulvitis disebabkan oleh infeksi, maka pemakaian obat antibiotik atau antijamur menjadi langkah pengobatan yang tepat. Dokter dapat meresepkan salep kortikosteroid untuk digunakan beberapa kali dalam sehari. Salep ini dapat membantu mengurangi rasa gatal dan iritasi pada vulva. Selain kortikosteroid, krim emolien dan tablet antihistamin juga dapat digunakan untuk mengurangi gatal.

Dokter juga dapat menyarankan pemakaian krim, pessarium, atau tablet vagina yang mengandung hormon estrogen, bila vulvitis disebabkan oleh kadar hormon estrogen yang rendah. Bagi penderita vulvodynia, krim anestesi lokal dan tindakan operasi bisa juga menjadi bentuk penanganan yang disarankan oleh dokter.

Selain lewat metode pengobatan vulvitis di atas, langkah-langkah berikut ini juga bisa diterapkan untuk membantu mempercepat penyembuhan sekaligus mencegah terjadinya vulvitis. Di antaranya adalah:

  • Segera menghentikan kebiasaan yang dapat menyebabkan iritasi, misalnya memakai pakaian yang terlalu ketat. Sebagai gantinya gunakan pakaian yang agak longgar atau berbahan katun untuk memberikan udara pada organ intim.
  • Segera mengganti pakaian dan celana dalam yang basah, baik setelah berolahraga ataupun berenang.
  • Hindari mencuci organ intim dengan sabun atau larutan yang mengandung tambahan parfum.
  • Membersihkan organ intim sekali dalam satu hari dengan air hangat.
  • Untuk pemilihan alat kontrasepsi, hindari penggunaan kondom yang dilumasi dengan spermisida.

Bentuk pengobatan vulvitis dipengaruhi sejumlah faktor, seperti riwayat kesehatan, usia, penyebab penyakit dan gejala, serta toleransi terhadap obat-obatan tertentu. Konsultasikan kepada dokter bila Anda mengalami gejala vulvitis, agar mendapatkan pengobatan yang tepat.

Komplikasi Vulvitis

Vulvitis yang ditangani dengan baik bisa disembuhkan. Jika tidak, kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi. Sebagai contoh, gatal-gatal pada organ intim wanita atau pruritus pada malam hari dapat menyebabkan gangguan tidur dan mengurangi kualitas hidup. Selain itu, sikap cemas dan gangguan psikologis lainnya dapat memicu terjadinya gangguan psikoseksual.

Pemeriksaan terhadap penyakit yang mendasari terjadinya vulvitis harus dilakukan dengan seksama guna menghasilkan penanganan yang tepat. Karena tidak hanya akan menyulitkan proses penyembuhan, penyebab vulvitis yang tidak terdeteksi dapat pula berakibat fatal, misalnya kanker vulva.