Pruritus adalah istilah medis untuk rasa gatal yang menimbulkan keinginan untuk menggaruk. Pruritus umumnya bukan merupakan kondisi yang serius, tetapi bisa menimbulkan rasa tidak nyaman dan memicu timbulnya luka serta infeksi.

Pruritus merupakan gejala di kulit akibat suatu penyakit atau kondisi tertentu. Walau terjadi di kulit, pruritus tidak hanya disebabkan oleh penyakit kulit, tetapi juga dapat disebabkan oleh masalah pada organ atau sistem organ lain.      

Pruritus - alodokter

Meski dapat menyerang semua kelompok usia, pruritus lebih sering terjadi pada orang lanjut usia. Hal ini terjadi karena kulit cenderung bertambah kering seiring dengan pertambahan usia.

Penyebab Pruritus

Pruritus bukan sebuah penyakit, melainkan suatu gejala dari penyakit atau kondisi lain. Pruritus terjadi ketika saraf penghantar sinyal gatal di kulit mengalami rangsangan dan mengirimkan sinyal tersebut ke otak.

Ada beragam kondisi yang dapat merangsang timbulnya rasa gatal. Meski begitu, terkadang penyebab pruritus sulit untuk diketahui.

Berdasarkan bagian tubuh yang terdampak, pruritus dapat terbagi ke dalam dua jenis, yaitu:

Pruritus lokal

Pruritus lokal merupakan gatal yang terjadi di bagian tubuh tertentu saja. Pruritus jenis ini umumnya terjadi akibat iritasi atau peradangan di area kulit tersebut. Selain rasa gatal, pruritus biasanya akan menimbulkan ruam kulit.

Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut mengenai penyebab pruritus lokal:

1. Pruritus akibat kondisi kulit

Pruritus lokal umumnya terjadi akibat adanya penyakit atau gangguan di kulit. Beberapa penyakit kulit yang dapat menimbulkan pruritus, yaitu:

2. Pruritus akibat infeksi

Infeksi kulit juga dapat menimbulkan pruritus lokal. Ada beberapa penyebab infeksi pada kulit, yaitu:

3. Pruritus akibat alergi atau iritasi

Pruritus lokal dapat timbul akibat alergi atau iritasi pada kulit. Beberapa hal yang dapat menyebabkan alergi atau iritasi kulit adalah:

  • Sabun mandi dengan kandungan bahan kimia yang keras, seperti pewangi dan detergen
  • Bahan kosmetik, seperti parfum, pewarna rambut, dan cat kuku
  • Logam pada perhiasan
  • Bahan pakaian, seperti kain wol
  • Penggunaan obat oles

4. Pruritus akibat paparan tertentu

Pruritus lokal juga dapat terjadi akibat paparan dari lingkungan sekitar, antara lain:

Pruritus lokal juga dapat terjadi tanpa adanya masalah yang tampak pada kulit. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh gangguan pada saraf penghantar sinyal gatal di area tersebut atau di sepanjang perjalanan saraf tersebut ke tulang belakang. Contoh kondisi yang dapat menyebabkan pruritus jenis ini adalah multiple sclerosis dan saraf terjepit.

Pruritus sistemik

Pruritus sistemik menyebabkan rasa gatal di seluruh tubuh. Pruritus jenis ini terjadi bukan karena adanya gangguan pada kulit, melainkan akibat gangguan pada sistem di dalam tubuh. Beberapa gangguan tersebut adalah:

  • Alergi terhadap obat, seperti aspirin dan opioid
  • Gangguan metabolisme, seperti gagal ginjal kronis dan penyakit hati
  • Kelainan darah, seperti anemia defisiensi besi dan polisitemia vera
  • Gangguan endokrin, seperti penyakit tiroid dan diabetes melitus
  • Kanker atau tumor, seperti limfoma Hodgkin, leukimia, dan tumor di paru-paru, usus, atau otak
  • Infeksi virus, seperti HIV dan hepatitis C
  • Perubahan hormon akibat kehamilan atau menopause
  • Penggunaan obat-obatan, seperti ACE inhibitor
  • Gangguan mental, seperti depresi, gangguan kecemasan, obsessive compulsive disorder (OCD), dan trikotilomania

Faktor risiko pruritus

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya pruritus, yaitu:

  • Berusia lanjut
  • Menderita alergi, eksim, atau asma
  • Memiliki daya tahan tubuh lemah, misalnya akibat menderita HIV/AIDS atau kanker
  • Sedang hamil
  • Menderita gagal ginjal atau menjalani cuci darah
  • Mengonsumsi obat-obatan diuretik

Gejala Pruritus

Gejala utama pruritus adalah sensasi gatal di kulit. Rasa gatal dapat timbul hanya di bagian tubuh tertentu, seperti kulit kepala, lengan, dan kaki. Akan tetapi, gatal juga dapat terasa di seluruh tubuh.

Selain itu, ada juga gejala lain yang dapat menyertai terjadinya pruritus. Tergantung dari penyakit atau kondisi yang menyebabkan pruritus, gejala penyerta tersebut dapat berbeda-beda, di antaranya:

  • Kulit kemerahan
  • Luka goresan
  • Benjolan, bintik, atau lecet
  • Kulit kering hingga pecah-pecah
  • Kulit menebal atau bersisik

Gejala bisa berlangsung lama dan bertambah parah. Rasa gatal dapat makin parah saat digaruk sehingga menyebabkan penderita ingin terus menggaruk.

Kapan harus ke dokter

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda mengalami gejala pruritus yang lebih serius, seperti:

  • Gatal berlangsung lebih dari 2 minggu dan tidak kunjung membaik meski sudah dicoba untuk diobati
  • Gatal yang sangat parah sampai mengganggu aktivitas sehari-hari sehingga membuat Anda terbangun dari tidur atau sulit tidur di malam hari
  • Gatal muncul secara tiba-tiba tanpa penyebab yang pasti
  • Gatal terjadi di seluruh tubuh
  • Gatal disertai gejala lain, seperti penurunan berat badan, demam, keringat di malam hari, perubahan pada buang air kecil atau buang air besar, kelelahan, dan kecemasan akibat rasa tidak nyaman yang disebabkan oleh gatal

Jika kondisi masih belum membaik setelah 3 bulan menjalani pengobatan dari dokter, pemeriksaan ke dokter penyakit dalam perlu dilakukan untuk mendeteksi keberadaan penyakit atau kondisi lain yang mungkin menyebabkan pruritus.

Diagnosis Pruritus

Diagnosis pruritus dapat dilakukan dengan melakukan tanya jawab terkait gejala yang dialami dan riwayat kesehatan pasien. Pemeriksaan fisik secara menyeluruh juga akan dilakukan guna melihat langsung kondisi kulit.

Jika diperlukan, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis. Beberapa metode pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah:

  • Tes alergi, untuk melihat apakah gatal disebabkan oleh alergen.
  • Tes darah, untuk mendeteksi kondisi yang dapat menyebabkan gatal, seperti anemia, gangguan tiroid, hati, atau ginjal.
  • Tes pemindaian, seperti foto Rontgen dada, untuk mendeteksi pembesaran kelenjar getah bening.
  • Tes swab, untuk memastikan penyebab pruritus dengan mengambil sampel usap dari bagian kulit yang mengalami gatal dan memeriksanya di laboratorium.
  • Biopsi kulit, untuk melihat kondisi jaringan kulit yang mengalami gatal dengan mengambil sampel kulit dan memeriksanya menggunakan mikroskop.

Pengobatan Pruritus

Pengobatan pruritus dilakukan berdasarkan penyebab dan tingkat keparahan pasien. Pruritus yang ringan umumnya dapat diatasi dengan upaya mandiri di rumah, seperti:

  • Menggunakan krim atau losion pelembap kulit, terutama yang mengandung calamine atau menthol, untuk meredakan gatal dan mencegah kulit kering
  • Menggunakan sampo antiketombe, untuk meredakan gatal di kulit kepala
  • Menggunakan tabir surya, untuk mencegah kulit terbakar dan kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari
  • Menggunakan sabun mandi dan deterjen yang lembut, untuk mencegah iritasi pada kulit
  • Mandi dengan air hangat (bukan air panas), untuk meredakan gatal
  • Menghindari bahan pakaian tertentu yang dapat menimbulkan gatal, misalnya kain wol dan sintetis
  • Menghindari hawa panas dan menggunakan pendingin ruangan dan humidifier, untuk menjaga lingkungan tetap sejuk dan lembap
  • Mengompres area kulit yang gatal dengan kain dingin atau es batu, untuk meredakan gatal tanpa harus menggaruk kulit
  • Menghindari obat-obatan yang berpotensi menimbulkan alergi atau gatal di kulit
  • Menahan diri untuk tidak menggaruk bagian yang gatal dengan menutup area tersebut
  • Melakukan meditasi atau konseling dengan psikolog, untuk mengelola stres atau kecemasan yang mungkin dialami
  • Memastikan tubuh mendapatkan waktu istirahat yang cukup

Jika pruritus tidak kunjung membaik meski telah melakukan langkah-langkah di atas, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Penanganan yang dapat diberikan antara lain:

  • Krim kortikosteroid, untuk meredakan gatal dan kemerahan di kulit
  • Obat antihistamin, untuk mengatasi pruritus yang disebabkan oleh urtikaria
  • Obat antidepresan golongan trisiklik, seperti doxepine, untuk mengatasi pruritus kronis meski tidak ada gejala depresi
  • Fototerapi dengan menggunakan paparan sinar ultra violet, untuk mengurangi gatal
  • Terapi perilaku kognitif, untuk membantu pasien mengatasi stres atau masalah kesehatan mental yang memicu pruritus

Jika gatal yang dialami pasien diketahui merupakan gejala penyakit lain, perawatan yang dilakukan akan mengacu pada penanganan penyakit tersebut. Namun, obat oles seperti losion calamine atau krim kortikosteroid juga tetap diberikan untuk meredakan gatal.

Komplikasi Pruritus

Pruritus bisa sangat mengganggu dan menurunkan kualitas hidup penderitanya. Selain itu, komplikasi juga dapat terjadi jika penderita terus menggaruk bagian kulit yang gatal. Komplikasi tersebut meliputi:

  • Luka
  • Infeksi
  • Likenifikasi (penebalan kulit)
  • Neurodermatitis (lichen simplex)
  • Prurigo
  • Bekas luka yang menghitam

Pencegahan Pruritus

Pruritus dapat dicegah dengan menghindari penyebab yang mendasarinya. Pada penderita alergi, pruritus dapat dihindari dengan menghindari pemicu alergi atau mengonsumsi obat alergi secara rutin. Sementara, pada penderita diabetes, menjaga kadar gula darah tetap terkontrol dapat mencegah timbulnya pruritus.

Selain itu, menjaga kesehatan dan kebersihan kulit juga dapat mencegah pruritus. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

  • Mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi seimbang
  • Memenuhi kebutuhan cairan tubuh
  • Menggunakan pelembap secara rutin agar kulit tidak kering
  • Menggunakan air hangat saat mandi, bukan air panas
  • Menggunakan tabir surya