Zonia adalah obat untuk membantu mengatasi gangguan mental tertentu, seperti skizofrenia dan gangguan bipolar, serta sebagai terapi tambahan pada depresi berat. Obat ini juga digunakan untuk mengontrol gejala sindrom Tourette dan gangguan perilaku pada anak dengan autisme.
Zonia mengandung bahan aktif aripiprazole yang bekerja dengan cara menyeimbangkan kadar serotonin dan dopamin, yaitu zat kimia di dalam otak yang ikut mengatur suasana hati dan perilaku. Pada penderita depresi, aripiprazole juga dapat meningkatkan efektivitas obat antidepresan.

Produk Zonia
Zonia tersedia dalam 2 varian, yaitu:
- Zonia 10 mg kaplet, dengan kandungan 10 mg aripiprazole tiap kaplet.
- Zonia 15 mg kaplet, yang mengandung 15 mg aripiprazole tiap kaplet.
Apa Itu Zonia
| Bahan aktif | Aripiprazole |
| Golongan | Obat resep |
| Kategori | Antipsikotik |
| Manfaat | Meredakan gejala skizofrenia, gangguan bipolar, atau depresi |
| Mengontrol gejala sindrom Tourette, atau gangguan perilaku akibat autisme | |
| Dikonsumsi oleh | Dewasa dan anak usia ≥6 tahun |
| Zonia untuk ibu hamil | Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada ibu hamil. |
| Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin. | |
| Zonia untuk ibu menyusui | Zonia dapat digunakan pada ibu menyusui sesuai anjuran dokter, tetapi perlu pemantauan karena aripiprazole dapat memengaruhi produksi ASI. |
| Sebaiknya konsultasikan dengan dokter terkait pilihan obat yang lebih aman, terutama jika bayi lahir prematur atau usianya belum genap 1 bulan. | |
| Bentuk obat | Kaplet |
Peringatan sebelum Menggunakan Zonia
Zonia hanya bisa dibeli dengan resep, yang bisa didapatkan melalui Chat Bersama Dokter. Perhatikan beberapa hal berikut sebelum menggunakan obat ini:
- Beri tahu dokter tentang riwayat alergi yang dimiliki pasien. Zonia tidak boleh digunakan oleh orang yang alergi terhadap aripiprazole.
- Zonia tidak boleh digunakan untuk mengatasi gejala psikosis akibat demensia.
- Sampaikan kepada dokter bila pasien pernah atau sedang menderita penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung, gangguan irama jantung, serangan jantung, gagal jantung, stroke, hipotensi, atau hipertensi.
- Informasikan kepada dokter jika pasien pernah menderita penyakit ginjal, penyakit liver, gangguan pada prostat, glaukoma, pheochromocytoma, myasthenia gravis, sleep apnea, epilepsi atau kejang, penyakit Parkinson, demensia, kolesterol tinggi, sel darah putih rendah, atau fenilketonuria.
- Beri tahu dokter bila pasien atau anggota keluarga pasien menderita diabetes atau gangguan mental lain, seperti depresi, gangguan bipolar, maupun gangguan obsesif kompulsif.
- Diskusikan dengan dokter mengenai penggunaan Zonia jika Anda sedang menyusui, hamil, atau sedang merencanakan kehamilan.
- Konsultasikan dengan dokter jika Anda sedang menggunakan obat lain, termasuk suplemen dan produk herbal. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi terjadinya interaksi antarobat.
- Beri tahu dokter mengenai penggunaan Zonia sebelum menjalani operasi atau perawatan gigi.
- Jangan langsung mengemudi atau melakukan aktivitas lain yang memerlukan kewaspadaan setelah menggunakan Zonia, karena obat ini bisa menyebabkan kantuk, pusing, atau penglihatan buram.
- Hindari beraktivitas terlalu lama di bawah paparan sinar matahari langsung selama menjalani terapi dengan Zonia, karena obat ini dapat mengurangi kemampuan tubuh untuk berkeringat sehingga memicu terjadinya heatstroke.
- Segera temui dokter jika muncul reaksi alergi obat atau efek samping yang serius setelah menggunakan Zonia.
Dosis dan Aturan Pakai Zonia
Berikut ini adalah dosis umum penggunaan Zonia berdasarkan kondisi, bentuk obat, dan usia pasien:
Kondisi: Skizofrenia
- Dewasa: Dosis awal 10–15 mg, 1 kali sehari. Dosis pemeliharaan 15 mg, 1 kali sehari. Penyesuaian dosis dilakukan dengan jarak minimal 2 minggu. Dosis maksimal tidak lebih dari 30 mg per hari.
- Remaja usia ≥13 tahun: Dosis awal 2 mg untuk 2 hari pertama. Dosis ditingkatkan menjadi 5–10 mg, 1 kali sehari. Dosis maksimal adalah 30 mg per hari.
Kondisi: Gangguan bipolar
- Dewasa: Sebagai terapi tunggal, dosis awal 15 mg, 1 kali sehari. Sebagai terapi tambahan bersama lithium atau valproate, dosis awal 10–15 mg, 1 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan sesuai kondisi pasien. Dosis maksimal 30 mg per hari.
- Anak usia >10 tahun: Sebagai terapi tunggal atau terapi tambahan bersama lithium atau valproate, dosis awal 2 mg per hari, selama 2 hari pertama. Dosis ditingkatkan menjadi 5–10 mg per hari jika diperlukan. Dosis maksimal adalah 30 mg per hari.
Kondisi: Depresi berat
- Dewasa: Dosis awal 2–5 mg, 1 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan secara bertahap hingga 5 mg dengan interval minimal 1 minggu setelah dosis awal. Dosis maksimal 15 mg per hari.
Kondisi: Sindrom Tourette
- Anak usia ≥6 tahun dengan berat badan <50 kg: 2 mg per hari, selama 2 hari pertama, lalu ditingkatkan menjadi 5 mg per hari. Jika keluhan belum membaik, dosis dapat ditingkatkan secara perlahan hingga 10 mg per hari.
- Anak usia ≥6 tahun dengan berat badan ≥50 kg: 2 mg per hari, selama 2 hari pertama, lalu 5 mg per hari selama 5 hari selanjutnya. Dosis ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 10 mg per hari. Dosis maksimal 20 mg per hari.
Kondisi: Gangguan mood dan perilaku akibat autisme
- Anak usia ≥6 tahun: 2–5 mg per hari. Dosis maksimal adalah 15 mg per hari.
Cara Menggunakan Zonia dengan Benar
Ikuti anjuran dokter dan bacalah aturan pakai yang tertera pada kemasan obat sebelum mengonsumsi Zonia. Jangan menambah atau mengurangi dosis tanpa persetujuan dokter.
Agar efek pengobatan maksimal, perhatikan panduan penggunaan Zonia berikut ini:
- Konsumsilah Zonia sebelum atau sesudah makan.
- Jika Anda lupa mengonsumsi Zonia, segera minum obat ini begitu teringat. Namun, bila jeda waktu dengan dosis selanjutnya sudah dekat, abaikan dosis tersebut dan jangan menggandakan dosis selanjutnya.
- Lakukan pemeriksaan rutin ke dokter selama menjalani pengobatan dengan Zonia agar kondisi dan respons terapi dapat terpantau.
- Jangan menghentikan konsumsi Zonia secara tiba-tiba tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
- Simpan Zonia di tempat kering dan sejuk yang terhindar dari sinar matahari langsung. Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak.
Interaksi Zonia dengan Obat Lain
Penggunaan Zonia dengan obat-obatan tertentu dapat menimbulkan interaksi obat, antara lain:
- Peningkatan efek sedasi atau mengantuk jika digunakan bersama lorazepam
- Peningkatan risiko terjadinya efek samping hipotensi jika digunakan dengan obat antihipertensi
- Peningkatan risiko terjadinya efek samping Zonia jika digunakan bersama quinidine, fluoxetine, clarithromycin, itraconazole, atau ketoconazole
- Peningkatan risiko terjadinya sindrom serotonin jika digunakan bersama obat antidepresan jenis SNRIs, seperti venlafaxine, atau jenis SSRIs, seperti fluoxetine
- Penurunan efektivitas Zonia jika digunakan bersama efavirenz, carbamazepine, rifampicin, phenytoin, phenobarbital, atau nevirapine
Untuk mencegah terjadinya efek interaksi obat, diskusikan dengan dokter jika Anda berencana mengonsumsi Zonia bersama obat, suplemen, atau produk herbal apa pun.
Efek Samping dan Bahaya Zonia
Beberapa efek samping yang bisa terjadi setelah menggunakan Zonia adalah:
- Kantuk
- Pusing
- Sakit kepala
- Kelelahan
- Mual dan muntah
- Mengeluarkan air liur secara berlebihan
- Sulit tidur
- Sembelit atau justru diare
Periksakan diri ke dokter jika keluhan di atas tidak membaik atau memburuk. Segera cari pertolongan medis bila terjadi reaksi alergi obat atau efek samping yang lebih serius, misalnya:
- Penglihatan kabur
- Demam tinggi, menggigil, otot kaku, keringat berlebihan, linglung
- Gerakan tidak terkendali pada wajah dan bagian tubuh lain (tardive dyskinesia)
- Jantung berdebar atau denyut jantung tidak teratur
- Sulit menelan
- Kesulitan mengendalikan perilaku impulsif, seperti belanja berlebihan
- Sulit bernapas saat tidur
- Tremor
- Perubahan suasana hati, seperti cemas berlebihan, depresi
- Muncul keinginan untuk bunuh diri atau melukai orang lain