Limfedema

Pengertian Limfedema

Limfedema adalah pembengkakan yang umumnya terjadi pada salah satu atau kedua lengan dan tungkai, yang disebabkan oleh penghambatan atau gangguan pada sistem limfatik, yang merupakan bagian dari sistem imun dalam tubuh. Pada umumnya, kondisi ini terjadi kepada wanita yang menjalani perawatan atau terapi kanker payudara.

Limfedema - alodokter

Hingga saat ini, belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan limfedema secara tuntas, melainkan hanya meredakan gejala yang dialami.

Penyebab Limfedema

Sistem limfatik adalah sekumpulan jaringan yang berfungsi untuk mengedarkan cairan limfe yang kaya akan protein melalui pembuluh getah bening, termasuk membawa bakteri, virus dan zat berbahaya lainnya menuju kelenjar limfe atau kelenjar getah bening. Zat berbahaya akan dilawan oleh sel limfosit atau sel darah putih yang ada di kelenjar getah bening dan dikeluarkan dari tubuh. Limfedema terjadi saat kelenjar getah bening terhambat dan tidak mampu memisahkan dan membuang zat-zat berbahaya dari tubuh, menyebabkan seluruh zat tersebut terkumpul pada bagian lengan atau kaki sehingga terjadi pembengkakan.

Limfedema bisa terjadi dengan sendirinya (limfedema primer) atau dipicu oleh kondisi lainnya (limfedema sekunder).

Limfedema Primer

Limfedema primer adalah penyakit keturunan yang disebabkan oleh gangguan pada proses pembentukan dan perkembangan pembuluh getah bening. Kondisi ini bisa langsung muncul pada bayi yang baru dilahirkan, atau baru muncul kemudian di masa pubertas dan masa dewasa.

Limfedema Sekunder

Limfedema sekunder terjadi dikarenakan kondisi medis tertentu atau tindakan yang merusak fungsi kelenjar getah bening, khususnya bagi penderita kanker. Beberapa di antaranya meliputi:
  • Tumor. Pertumbuhan tumor atau sel kanker di sekitar pembuluh atau kelenjar getah bening dapat menghambat aliran cairan limfa.
  • Infeksi atau parasit pada kelenjar getah bening dapat menghambat aliran cairan limfe. Kondisi ini umumnya terjadi di negara tropis dan sub-tropis.
  • Terapi radiasi, menyebabkan pembuluh atau kelenjar getah bening mengalami jaringan parut hingga peradangan.
  • Operasi atau cedera. Limfedema bisa terjadi sebagai efek samping dari operasi pengangkatan kelenjar getah bening atau pembuluh getah bening. Bisa juga terjadi akibat adanya cedera pada kedua bagian tersebut.
Selain karena faktor-faktor di atas, seseorang juga bisa berisiko mengalami limfedema apabila dirinya kelebihan berat badan, menderita psoriatic arthritis, rheumatoid arthritis, atau sudah lanjut usia.

Gejala Limfedema

Gejala yang biasanya dialami oleh penderita limfedema adalah:
  • Pembengkakan pada lengan atau tungkai, termasuk pergelangan dan jari.
  • Nyeri pada bagian yang bengkak atau terluka.
  • Kesulitan bergerak.
  • Merasa berat atau kaku.
  • Mudah merasa lelah.
  • Mengalami infeksi berulang kali.
  • Demam disertai meriang.
  • Memar pada bagian yang terinfeksi.
  • Pengerasan dan penebalan kulit (fibrosis).
  • Infeksi kulit (selulitis).
  • Peradangan pada kelenjar limfe.
  • Terbentuk luka borok (ulserasi) dan retakan-retakan (fissuring) pada kulit.
Tingkat keparahan gejala bervariasi, dari mulai ringan hingga berat. Terkadang, penderita tidak merasakan gejala apa pun hingga beberapa bulan atau beberapa tahun setelah perawatan kanker atau mengalami kelainan lainnya.

Konsultasi pada dokter sebaiknya dilakukan jika seseorang mengalami salah satu atau beberapa gejala limfedema agar dapat ditangani dengan tepat.

Diagnosis Limfedema

Dokter dapat mendiagnosis seorang pasien terkena limfedema berdasarkan gejala dan riwayat kesehatannya (misalnya pernah menjalani operasi kanker yang melibatkan kelenjar getah bening).

Namun, pada kasus kemunculan gejala limfedema dengan pemicu yang tidak jelas, dokter kemungkinan akan merekomendasikan tes lanjutan guna mengetahui kondisi sistem limfe. Tes-tes lanjutan tersebut bisa berupa:

  • CT scan dan MRI, untuk memeriksa kondisi struktur tulang dan hambatan pada sistem limfatik.
  • Ultrasonografi, untuk memeriksa kelancaran aliran darah dan tekanannya melalui gelombang suara.
  • Lymphoscintigraphy, untuk memeriksa jika ada hambatan pada kelenjar getah bening dengan menyuntikkan cairan radioaktif dan memantau alirannya melalui mesin pemindaian.

Pengobatan Limfedema

Hingga saat ini, pengobatan limfedema hanya dapat menekan tingkat gejala yang dialami dan menghindari komplikasi lebih lanjut. Pengobatan tersebut terdiri dari terapi, pemberian obat-obatan, dan operasi.

Terapi

Terdapat beberapa terapi yang umumnya disarankan:
  • Meninggikan kaki atau lengan yang bermasalah dengan cara meletakannya di atas alas bantal atau melebihi posisi jantung guna meredakan nyeri atau gejala yang dialami. Hindari penekanan berlebih pada bagian ketiak dan lipat paha untuk menghindari pembengkakan lebih lanjut.
  • Olahraga ringan untuk melenturkan otot yang bermasalah dan membantu drainase cairan limfa yang menumpuk. Olahraga ringan juga dapat membantu melancarkan sirkulasi darah dalam otot.
  • Mengikat lengan atau tungkai dengan ikatan terkuat pada bagian jari dan sedikit longgar saat mencapai lengan atau tungkai. Hal ini dilakukan agar cairan limfe mengalir kembali ke batang tubuh Anda.
  • Pneumatic compression, yaitu alat khusus yang dililitkan pada lengan dan tungkai, yang dapat memompa dan memberi tekanan secara berkala. Tekanan tersebut adalah untuk membantu mengalirkan kembali cairan limfe yang tertimbun di jari-jari tangan dan kaki.
  • Compression garments, yaitu pakaian khusus atau stoking yang menekan lengan atau kaki yang bermasalah agar cairan limfe dapat keluar.
  • Manual lymph drainage, yaitu teknik pijat manual yang dilakukan untuk melancarkan aliran cairan limfe dan mengeluarkan zat beracun dari jaringan yang bermasalah. Terapi ini harus dilakukan oleh tenaga medis profesional. Hindari terapi ini jika Anda menderita kelainan pembekuan darah atau infeksi kulit.
  • Complete Decongestive Therapy (CDT), yaitu metode yang mengkombinasikan sejumlah terapi dengan perbaikan pola hidup. Terapi ini tidak dianjurkan bagi penderita infeksi akut , hipertensi, pembekuan darah, gagal jantung, kelumpuhan, atau diabetes.

Obat-obatan

Dalam kasus tertentu, apabila terjadi infeksi di kulit atau di jaringan lain yang mengalami gangguan pada limfedema, obat golongan antibiotik biasanya diresepkan untuk meredakan gejala dan menekan potensi bakteri menyebar ke pembuluh darah. Selain itu, obat-obatan pendukung seperti benzopyrone, obat senyawa retinoid dan antihelmintik (obat cacing), hingga obat oles untuk kulit juga dapat diberikan sesuai gejala.

Limfedema pada penyakit kaki gajah atau filarisis juga perlu ditangani dengan obat seperti diethlylcarbamazepine agar infeksi tidak menyebabkan komplikasi lebih lanjut.

Diet dan pola hidup yang baik sangat diperlukan sebagai pendukung pengobatan yang diberikan.

Operasi

Dalam kasus yang parah, tindakan operasi dapat dilakukan untuk mengeluarkan kelebihan cairan atau pengangkatan jaringan. Perlu diingat tindakan ini hanya dapat mengurangi gejala dan tidak memulihkan limfedema secara total.

Komplikasi Limfedema

Penyakit limfedema yang tidak diobati dengan tepat dapat mengakibatkan komplikasi serius, seperti:
  • Infeksi, seperti selulitis (infeksi bakteri pada kulit) dan limfangitis (infeksi pada pembuluh limfa). Kondisi ini dapat memburuk saat penderita mengalami luka dan masuk ke bagian yang terinfeksi.
  • Lymphangiosarcoma, kanker jaringan yang jarang terjadi ini dapat mengakibatkan kulit berubah warna menjadi merah kebiruan atau ungu.
  • Pertumbuhan tumor, yang dapat menghambat aliran cairan limfe dan menyebabkan anggota tubuh lainnya mengalami pembengkakan.
  • Napas pendek, bagi penderita limfedema dengan riwayat gagal jantung.
  • Trombosis vena dalam atau deep vein trombosis (DVT), dimana terjadi penggumpalan darah pada pembuluh darah vena dalam, khususnya bagian paha dan betis.
  • Amputasi, jika infeksi sudah menyebar dan menyebabkan kematian jaringan.

Pencegahan Limfedema

Bagi yang berpotensi mengalami limfedema, disarankan untuk melakukan langkah pencegahan sebagai berikut:
  • Menjaga lengan atau tungkai dari luka atau infeksi, dengan menghindari benda tajam dan menutup bagian yang terinfeksi dengan kain.
  • Mengistirahatkan kaki atau lengan saat masa pemulihan, dengan menaikkan kaki atau lengan melebihi posisi jantung menggunakan alas handuk atau bantal yang lembut.
  • Menggerakan kaki atau lengan secara ringan, bagi penderita yang baru melakukan operasi pengangkatan kelenjar getah bening selama 4 hingga 6 bulan agar tidak kaku.
  • Jaga kebersihan, agar infeksi dari luar tidak memperparah bagian yang bermasalah. Hindari berjalan tanpa alas kaki. Gunakan tabir surya saat keluar rumah agar terhindar dari paparan sinar matahari berlebih.
  • Hindari penggunaan pakaian yang ketat, termasuk penggunaan manset tensimeter pada bagian lengan yang terluka.
  • Hindari mengompres dengan air panas atau es. Gunakan air hangat untuk membasuh atau membersihkan.
Jika Anda penderita kanker yang baru menjalankan terapi radiasi atau operasi, disarankan untuk selalu mengontrol dan menanyakan langkah terbaik untuk mencegah limfedema atau kemungkinan penyakit lainnya.