Pankreatitis Kronis

Pengertian Pankreatitis Kronis

Pankreatitis kronis adalah suatu peradangan yang menyebabkan kerusakan permanen di dalam organ pankreas. Pankreatitis kronis berbeda dengan pankreatitis akut, karena pada pankreatitis akut peradangan yang terjadi hanya bersifat jangka pendek saja. Pankreatitis kronis merupakan suatu penyakit inflamasi (peradangan) terus menerus dalam jangka panjang pada pankreas yang menyebabkan terjadinya perubahan struktur jaringan organ tersebut.

pankreatitis kronis-alodokter

Perubahan jaringan yang sering terjadi pada pankreatitis kronis ditandai dengan munculnya fibrosis dan kalsifikasi pada pankreas. Kalsifikasi yang dapat menyebabkan munculnya batu kalsium pada pankreas bisa menyumbat saluran kelenjar pankreas. Jika saluran pankreas tersumbat, maka aliran enzim dan hormon dari pankreas akan terganggu sehingga menyulitkan pencernaan dan kontrol gula dalam tubuh. Kondisi tersebut jika dibiarkan akan menyebabkan komplikasi lain, seperti malnutrisi dan diabetes.

Gejala pankreatitis kronis

Gejala utama pankreatitis adalah nyeri perut yang berulang-ulang  serta permasalahan pencernaan yang terjadi setelah munculnya nyeri. Nyeri yang muncul akibat pankreatitis kronis biasanya terasa pada perut bagian tengah atau kiri yang dapat menjalar ke punggung. Nyeri yang muncul seringkali terasa panas. Nyeri dapat hilang timbul, atau juga dapat menetap sampai berhari-hari. Semakin parah pankreatitis yang diderita, maka nyeri akan terasa semakin menyakitkan.

Pada beberapa orang, nyeri perut akibat pankreatitis terasa setelah makan. Namun gejala tersebut juga dapat muncul tanpa penyebab apa pun. Pada penderita pankreatitis kronis yang memiliki kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol, nyeri ringan hingga sedang dapat muncul di antara dua episode nyeri parah.

Gejala lain dari pankreatitis kronis adalah:

  • Kotoran atau tinja menjadi sangat bau dengan tekstur berminyak.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Mual dan muntah
  • Merasakan gejala diabetes, seperti badan lelah, sering buang air kecil, dan sering kehausan.
  • Berat badan turun.
  • Sakit kuning.
  • Diare.
  • Perdarahan pada usus.
  • Penyumbatan usus.
  • Munculnya cairan pankreas pada abdomen.

Penyebab Pankreatitis Kronis

Kebanyakan kasus pankreatitis kronis disebabkan oleh konsumsi minuman beralkohol dalam jangka panjang. Sedangkan sekitar 30 persennya merupakan kasus pankreatitis idiopatik yang tidak diketahui penyebabnya secara pasti.

Konsumsi alkohol secara terus-menerus dapat menyebabkan terjadinya pankreatitis akut. Meskipun pankreatitis akut muncul hanya dalam waktu singkat, namun jika kebiasaan ini diteruskan, peradangan akut berulang yang terjadi dalam jangka waktu lama pada akhirnya dapat menjadi kronis dan menyebabkan kerusakan jaringan pankreas permanen.

Beberapa hal lain yang diduga dapat memicu terjadinya pankreatitis kronis adalah:

  • Autoimun. Pada beberapa kasus pankreatitis yang langka, kerusakan pada pankreas disebabkan oleh sistem imun penderita sendiri yang menyerang sel-sel pankreas. Kondisi ini dinamakan dengan pankreatitis autoimun. Beberapa penderita penyakit autoimun lain seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn juga dapat mengalami peradangan pada pankreas. Hingga saat ini penyebab pankreatitis autoimun belum diketahui dengan pasti.
  • Genetik. Beberapa kasus pankreatitis kronis disebabkan oleh mutasi pada gen tertentu, yaitu pada gen PRSS1 dan SPINK1. Pankreatitis yang disebabkan oleh faktor genetik dapat diturunkan ke generasi berikutnya. Salah satu contohnya adalah pankreatitis kronis yang terkait dengan penyakit cystic fibrosis.
  • Merokok. Beberapa studi menyebutkan bahwa diduga ada pengaruh merokok terhadap munculnya pankreatitis kronis pada seseorang.
  • Penyempitan saluran pankreas yang dapat menyebabkan sulitnya enzim pankreas untuk disalurkan keluar menuju usus.
  • Malnutrisi. Contohnya adalah terlalu banyak mengonsumsi singkong.
  • Tingginya konsentrasi trigliserida (salah satu jenis lemak) di dalam darah yang menyebabkan hipertrigliseridemia.
Sejumlah hal yang juga diduga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena pankreatitis kronis adalah:
  • Mengonsumsi alkohol berlebihan.
  • Merokok.
  • Memiliki keluarga dengan riwayat pankreatitis kronis.
  • Berjenis kelamin laki-laki.
  • Berusia 30-40 tahun.
  • Iklim tropis. Pada beberapa kasus, anak-anak yang hidup di iklim tropis seperti di Asia dan Afrika lebih mudah terkena pankreatitis kronis. Hingga saat ini belum diketahui hubungan antara pankreatitis kronis dengan kondisi tersebut, namun diduga berasosiasi dengan malnutrisi.

Diagnosis Pankreatitis Kronis

Jika pasien diduga mengalami pankreatitis kronis berdasarkan gejala yang dialaminya, maka dokter dapat melakukan metode pemeriksaan berikut ini guna memastikan kecurigaan, di antaranya:
  • USG endoskopi. Metode diagnosis ini dilakukan dengan cara mengamati pankreas secara visual dengan menggunakan kamera yang dipasangkan pada alat berbentuk tabung fleksibel yang dimasukkan ke dalam saluran pencernaan melalui mulut. Kondisi pankreas dapat diamati dengan mengambil gambar dekat pankreas kemudian dianalisis. Kelainan pada pankreas dapat dideteksi seperti adanya batu pankreas, percabangan pada pinggiran pankreas, kista, jaringan lobular, serta saluran pankreas yang abnormal jika ada. Beberapa kelainan tersebut dapat menjadi tanda adanya peradangan pada pankreas.
  • Biopsi Gejala pankreatitis kronis dapat menyerupai gejala kanker pankreas. Untuk memastikan salah satu di antara keduanya, dapat dilakukan biopsi pankreas, pengambilan sampel jaringan pankreas dengan menggunakan jarum halus untuk kemudian dianalisis menggunakan mikroskop. Biopsi pankreas juga dapat dilakukan bersamaan dengan USG endoskopi.
  • Magnetic Resonance Cholangiopancreatography (MRCP). MRCP pada dasarnya merupakan metode MRI yang lebih spesifik dengan bantuan materi kontras untuk memperlihatkan gambar pankreas secara lebih detail. Melalui MRCP dapat dilihat apakah seseorang memiliki batu pankreas atau batu empedu yang dapat memicu pankreatitis kronis. Metode MRCP merupakan metode yang cukup aman, akurat, noninvasif, cepat, dan sangat membantu dalam memutuskan tindakan medis pada penderita.
  • CT scan. CT scan dapat mencitrakan bagian-bagian pankreas dan sekitarnya dengan baik karena memiliki sensitivitas dan spesifikasi mencapai 80-85%. Selain itu, CT scan juga dapat mendeteksi terjadinya komplikasi akibat pankreatitis kronis.
  • Foto Rontgen Metode ini dapat dipakai untuk mendeteksi adanya kalsifikasi pada pankreas yang memicu pankreatitis kronis. Kalsifikasi yang terjadi pada pankreas dapat muncul di tiga lokasi, yaitu di bagian kepala pankreas, bagian badan, dan ekor pankreas. Kalsifikasi sangat umum terjadi pada penderita pankreatitis yang diakibatkan oleh alkohol, genetik, dan iklim tropis.
Sebagai pemeriksaan tambahan lainnya, dokter dapat melakukan tes-tes berikut:
  • Tes darah. Tes darah dilakukan untuk mengetahui kadar enzim amilase dan lipase dalam darah. Kadar kedua enzim tersebut akan mengalami peningkatan pada pankreatitis kronis. Namun perlu diingat bahwa peningkatan enzim amilase dan lipase dalam darah akan jauh lebih tinggi pada pankreatitis akut dibanding pankreatitis kronis.
  • Tes sampel feses. Pankreatitis kronis dapat menyebabkan malabsorpsi dan malnutrisi. Akan tetapi malabsorpsi dan malnutrisi tidak akan terjadi secara signifikan hingga kerusakan pankreas mencapai sekitar 90%. Ditemukannya lemak di dalam feses menunjukkan kondisi pankreatitis kronis yang sudah mencapai tahap lanjut.

Pengobatan Pankreatitis Kronis

Perlu diingat bahwa tujuan pengobatan pankreatitis kronis adalah sebagai berikut:
  • Memberikan kesempatan bagi pankreas untuk beregenerasi dan menyembuhkan diri pasca inflamasi terjadi.
  • Mendeteksi defisiensi enzim eksokrin pankreas yang menyebabkan malabsorpsi dan malnutrisi, kemudian mengembalikan kondisi absorpsi dan nutrisi tubuh menjadi ideal.
  • Mendiagnosis dan mengobati defisiensi hormon endokrin pankreas.
  • Memperbaiki dan menghilangkan pola hidup yang dapat memperburuk pankreatitis.
Pengobatan pankreatitis kronis berbeda-beda sesuai dengan penyebab dan tingkat keparahan pankreatitis. Beberapa jenis pengobatan yang dapat dilakukan adalah:
  • Kortikosteroid. Kortikosteroid digunakan untuk mengobati pankreatitis kronis yang disebabkan oleh gangguan sistem imun. Peradangan akibat sistem imun dapat diredakan oleh obat ini secara langsung. Efek samping dari penggunaan kortikosteroid bisa berupa osteoporosis dan peningkatan berat badan.
  • Pengobatan nyeri akibat pankreatitis. Nyeri akibat pankreatitis dapat mengganggu kualitas hidup penderita. Jenis-jenis pengobatan yang diberikan untuk mengatasi nyeri akibat pankreatitis dibedakan berdasarkan tingkat keparahan nyeri yang diderita. Di antaranya adalah:
    • Paracetamol dan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs). Kedua jenis obat ini dapat diberikan kepada penderita untuk meredakan nyeri perut ringan akibat pankreatitis. Obat NSAIDs yang sering digunakan adalah ibuprofen, naproxen, diclofenac, ketorolac, dan celecoxib. Selain berperan dalam menghilangkan rasa nyeri, NSAIDs juga dapat meredakan peradangan ringan pada pankreas. Meski demikian, mengonsumsi obat tersebut dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan risiko tukak lambung. Oleh karena itu, pada saat mengonsumsi NSAIDs secara rutin, penderita juga harus diberikan obat penghambat pompa proton (proton pump inhibitor/PPIs).
    • Analgesik opiat. Obat jenis ini dapat diberikan pada penderita pankreatitis kronis yang mengalami nyeri namun tidak dapat diatasi dengan NSAIDs atau paracetamol. Contoh obat analgesik opiat adalah codeine dan tramadol. Beberapa efek samping yang mungkin muncul dari penggunaan obat ini adalah konstipasi, mual, muntah, dan pusing. Jika pasien direncanakan mengonsumsi obat ini dalam waktu lama, dokter biasanya akan menyertakan obat pencahar guna meredakan konstipasi.
    • Morfin dan pethidine. Kedua obat ini dapat diberikan untuk penderita yang mengalami nyeri parah yang tidak berhasil diredakan dengan menggunakan analgesik opiat. Jika pengobatan nyeri dengan menggunakan morfin dan pethidine tetap tidak efektif, dapat dilakukan anestesi blok, yaitu injeksi yang memblok saraf untuk meredakan nyeri yang timbul akibat pankreatitis kronis.
  • Suplemen enzim pankreas. Pada saat pankreas mengalami peradangan, produksi enzim pankreas untuk pencernaan akan terganggu. Untuk mengatasinya, penderita dapat diberikan suplemen enzim pankreas agar proses pencernaan tetap berjalan dengan efektif, meskipun pankreas sedang meradang. Fungsi lain dari suplemen enzim pankreas adalah untuk menghilangkan nyeri pankreas pada penderita pankreatitis kronis berat. Makanan dalam saluran pencernaan dapat memicu sekresi enzim pankreas melalui rangsangan cholecystokinin (CCK). Pada penderita pankreatitis kronis berat, rangsangan CCK dapat memicu nyeri berat dan mengganggu penderita. Suplemen enzim pankreas dapat meredakan rasa nyeri yang ditimbulkan akibat CCK tersebut, serta membantu mencerna makanan. Beberapa efek samping yang mungkin muncul antara lain adalah mual, muntah, sakit perut, konstipasi, dan diare.
  • Perubahan pola hidup. Untuk meringankan pankreatitis kronis yang diderita dan mencegah terjadinya komplikasi, sangat penting bagi pasien untuk mengubah pola hidupnya menjadi lebih sehat. Beberapa pola hidup sehat yang harus diterapkan antara lain adalah:
    • Menghentikan konsumsi minuman beralkohol. Ini merupakan perubahan paling penting yang harus dilakukan oleh penderita pankreatitis kronis. Jika seseorang yang sudah didiagnosis pankreatitis kronis terus mengonsumsi minuman beralkohol, maka risiko munculnya komplikasi akan semakin besar. Untuk membantu menghentikan kebiasaan buruk ini, pasien dapat mengikuti konseling secara pribadi maupun berkelompok.
    • Menghentikan kebiasaan merokok. Sama seperti alkohol, menghentikan kebiasaan merokok dapat mencegah pankreatitis kronis menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Jika mengalami kesulitan, pasien dapat menjalani terapi pengganti nikotin dan mengonsumsi bupropion.
    • Mengganti pola makan menjadi sehat dan seimbang. Pankreatitis kronis dapat memengaruhi sekresi enzim pencernaan. Agar asupan nutrisi tetap terjaga, pasien akan direkomendasikan untuk mengganti pola makannya tanpa memperberat kerja Biasanya pola makan yang direkomendasikan adalah makanan rendah lemak, tinggi kalori dan protein, serta tinggi vitamin yang terlarut dalam lemak.
Penerapan Prosedur Operasi

Operasi biasanya akan dilakukan oleh dokter jika pankreatitis kronis tidak bisa ditangani dengan obat-obatan atau untuk menghindari bahaya kecanduan obat opioid pada kasus pankreatitis kronis parah. Beberapa jenis metode operasi untuk pankreatitis kronis diantaranya adalah:

  • Operasi endoskopi dan litotripsi. Metode endoskopi dan litotripsi digunakan jika terdapat batu pada saluran pankreas yang memicu peradangan. Batu akan dipecah melalui litotripsi dengan menggunakan gelombang suara. Setelah dipecah, batu pankreas akan diambil melalui alat-alat endoskopi. Hasil pengobatan endoskopi dan litotripsi hanya bersifat sementara dan tidak permanen. Selain itu, metode endoskopi juga dapat memperbaiki permasalahan saluran eksokrin pankreas yang mengalami penyempitan sehingga menyebabkan peradangan. Pengobatan malalui endoskopi untuk memperbaiki saluran eksokrin diberikan terutama pada penderita pankreatitis kronis yang merasakan nyeri pada perutnya sepanjang hari.
  • Operasi reseksi pankreas. Metode ini diterapkan jika peradangan terjadi di bagian-bagian tertentu dari pankreas sehingga menyebabkan rasa sakit yang parah. Reseksi pankreas dilakukan jika metode pembedahan endoskopi tidak efektif mengobati pankreatitis kronis. Pada beberapa kasus, tidak hanya sebagian pankreas yang diangkat, namun juga dapat dilakukan pengangkatan kelenjar empedu.
  • Operasi pankreatektomi total dan transplantasi sel islet. Jika kerusakan pankreas telah meluas dan menyeluruh, pankreatektomi atau operasi pengangkatan pankreas total akan dilakukan. Namun ini berarti tubuh berhenti memproduksi insulin. Untuk mengantisipasi hal tersebut, dokter dapat melakukan operasi transplantasi sel islet, yaitu sel pankreas yang bertanggung jawab dalam memproduksi insulin. Transplantasi sel islet dilakukan dengan mengangkat sel-sel islet sebelum dilakukan pankreatektomi total. Sel-sel islet kemudian dicampurkan ke dalam suatu cairan yang diinjeksikan ke dalam hati. Jika berhasil, sel-sel islet akan tetap tinggal di dalam hati dan memproduksi insulin untuk kebutuhan penderita. Proses transplantasi tersebut dikenal dengan nama autologus pancreatic islet cell transplantation (APICT). Dalam jangka pendek, APICT dapat mengatasi permasalahan insulin pada pasien yang menjalani pankreatektomi total. Namun dalam jangka panjang, pasien tetap butuh suplemen insulin.

Komplikasi Pankreatitis Kronis

Pankreatitis kronis berpotensi menimbulkan komplikasi, baik masalah kesehatan lainnya maupun masalah psikologis. Beberapa di antara komplikasi tersebut adalah:
  • Penyakit diabetes. Kondisi ini terjadi karena pankreas tidak bisa lagi memproduksi insulin yang dibutuhkan tubuh untuk mengonversi glukosa menjadi tenaga. Diabetes ditandai dengan gejala penurunan berat badan, rasa lelah berlebihan, sering buang air kecil terutama di malam hari, dan sering merasa haus.
  • Kanker pankreas. Gejala kanker pankreas sendiri hampir sama dengan pankreatitis kronis, yaitu nyeri perut, sakit kuning, dan penurunan berat badan. Diperkirakan kanker pankreas dialami oleh 2% penderita pankreatitis kronis.
  • Pseudocyst atau munculnya kantung-kantung cairan di atas permukaan pankreas yang ditandai dengan gejala perut kembung, nyeri perut, dan gangguan pencernaan.
  • Masalah psikologi, seperti depresi, gangguan kecemasan, dan stres. Gangguan psikologi ini umumnya timbul akibat rasa sakit yang terus-menerus dirasakan oleh penderita pankreatitis kronis.
  • Malabsorpsi dan malnutrisi. Komplikasi ini seringkali terjadi pada penderita pankreatitis kronis dikarenakan pankreas tidak dapat memproduksi enzim pencernaan dalam jumlah yang cukup.