Gejala HIV pada wanita umumnya tidak jauh berbeda dengan gejala HIV pada pria. Namun, ada beberapa gejala HIV yang memang hanya ditemukan pada pasien wanita, misalnya gangguan menstruasi serta keputihan atau luka di organ intim yang sering kambuh dan sukar disembuhkan.

Di Indonesia, sekitar 250.000 wanita usia produktif terinfeksi HIV. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seorang wanita terinfeksi HIV, di antaranya hubungan seks bebas tanpa kondom dan memiliki lebih dari satu pasangan seksual.

Gejala HIV pada Wanita yang Tidak Boleh Diabaikan - Alodokter

Jika tidak segera diobati, HIV pada wanita bisa berakibat fatal karena bisa menular ke pasangan seksualnya, janin dalam kandungan, dan bayi yang disusuinya. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa saja gejala HIV pada wanita agar penyakit ini bisa terdeteksi sejak dini dan segera diobati.

Gejala HIV pada Wanita

Gejala HIV pada setiap wanita tidak selalu sama, tergantung kondisi tubuh dan tahapan infeksinya.

Gejala dan tanda HIV tahap awal biasanya muncul 1–2 bulan setelah terinfeksi. Namun, bisa juga lebih cepat, yaitu 2 minggu. Pada tahap ini, wanita yang terinfeksi HIV mungkin belum menyadari bahwa dirinya terinfeksi karena gejala awal yang muncul serupa dengan gejala penyakit flu.

Tahap awal ini dikenal dengan istilah window period. Jika seorang wanita masih berada pada masa window period, maka hasil tes HIV yang dilakukan kemungkinan besar negatif, walau sebetulnya virus HIV sudah berada di dalam darah dan dapat menular.

Gejala HIV pada wanita biasanya baru akan muncul ketika infeksi HIV memasuki tahap lanjut. Biasanya gejala ini bisa muncul dalam waktu 8–10 tahun setelah virus masuk ke dalam tubuh.

Berikut ini adalah gejala HIV pada wanita yang tidak boleh diabaikan:

1. Infeksi vagina berulang

Infeksi vagina ada bermacam-macam, yaitu kandidiasis vagina (infeksi jamur pada vagina) serta vaginosis bakterialis (infeksi bakteri pada vagina). Selain itu, infeksi vagina juga bisa disebabkan oleh virus dan parasit.

Infeksi vagina bisa dialami oleh setiap wanita, termasuk wanita yang tidak menderita HIV. Namun, infeksi vagina biasanya lebih sering kambuh dan sulit diobati pada wanita yang terinfeksi HIV. Sering kambuhnya infeksi pada vagina merupakan tanda bahwa sistem kekebalan tubuh mulai melemah.

Infeksi pada vagina dapat menimbulkan beberapa gejala berikut:

  • Keputihan dengan tekstur tebal berwarna putih
  • Gatal dan muncul ruam di vagina
  • Sensasi perih di area vagina
  • Nyeri saat buang air kecil dan berhubungan seks .

2. Nyeri di panggul atau perut bagian bawah

Rasa nyeri yang sering muncul di bagian bawah perut atau di panggul bisa jadi salah satu gejala radang panggul akibat adanya infeksi pada rahim, indung telur, atau tuba fallopi. Seperti halnya infeksi jamur vagina, keluhan radang panggul pada wanita penderita HIV biasanya lebih sulit diobati dan lebih sering kambuh.

Selain rasa sakit di bagian bawah perut, gejala radang panggul lain yang perlu diperhatikan adalah keputihan yang berbau tidak sedap, gangguan menstruasi, demam, dan nyeri ketika berhubungan seks atau buang air kecil.

3. Gangguan menstruasi

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gangguan menstruasi banyak terjadi pada wanita yang terinfeksi HIV, khususnya ketika infeksi HIV sudah memasuki tahap lanjut.

Gangguan menstruasi yang terjadi bisa berupa siklus haid tidak teratur, darah haid menjadi lebih banyak atau lebih sedikit, dan munculnya keluhan PMS yang lebih berat dari sebelumnya.

Meski demikian, gangguan menstruasi juga banyak terjadi pada wanita yang tidak terinfeksi HIV. Gangguan menstruasi baru patut dicurigai apabila muncul beserta beberapa gejala HIV lainnya.

4. Sering sakit atau terkena infeksi

Virus HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh dapat membuat penderitanya sering sakit atau rentan infeksi. Ketika terserang infeksi, penderita HIV bisa mengalami beberapa gejala berikut ini:

  • Demam
  • Batuk yang sulit sembuh atau sering kambuh
  • Sakit tenggorokan
  • Lemas
  • Berkeringat di malam hari
  • Diare kronis
  • Sesak napas
  • Nyeri otot
  • Sariawan di lidah, mulut, atau vagina
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Ruam-ruam di kulit
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas

Kemunculan gejala-gejala di atas, terlebih jika berlangsung cukup lama atau sangat sering kambuh, kemungkinan menandakan bahwa infeksi HIV sudah berkembang menjadi AIDS.

Saat daya tahan tubuh melemah, beberapa penyakit infeksi lain, seperti pneumonia, tuberkulosis (TB), toksoplasmosis, dan meningitis (infeksi selaput otak), akan sangat rentan terjadi. Selain itu, orang yang menderita HIV, baik pria maupun wanita, juga akan rentan terkena kanker, seperti limfoma dan sarkoma Kaposi.

Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?

Beberapa gejala HIV pada wanita tidak khas dan sering kali gejala awalnya menyerupai gejala flu biasa, sehingga banyak wanita yang tidak menyadari bahwa tubuhnya sudah terinfeksi HIV.

Oleh karena itu, wanita dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dan tes HIV ke dokter apabila berisiko tinggi terkena infeksi HIV, misalnya menjalani perilaku seks bebas tanpa kondom, menggunakan narkoba suntik dengan jarum yang dipakai bersama orang lain, atau sering menjalani transfusi darah.

Anda tidak perlu takut atau malu untuk berkonsultasi dengan dokter jika merasa berisiko atau sudah terinfeksi HIV. Saat ini, ada program khusus untuk konseling dan pengobatan HIV yang dikenal dengan VCT (Voluntary Counselling and Testing).

VCT dilakukan oleh tim dokter, konselor, dan ahli medis lain yang akan membantu Anda untuk mendapatkan informasi dan penanganan tentang HIV secara komprehensif. Kerahasiaan dalam konseling dan pengobatan HIV adalah salah satu tujuan utama dari program VCT.

Hingga saat ini, belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan HIV/AIDS. Namun, dengan pengobatan antiretroviral seumur hidup, orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) tetap bisa menjalani hidup normal.

Itulah sebabnya, penting untuk menjalani pemeriksaan kesehatan ke dokter guna mendeteksi dini HIV dan mendapatkan pengobatan HIV seawal mungkin. Dengan demikian, risiko terjadinya AIDS dan komplikasi lain yang berbahaya akibat infeksi HIV pun bisa berkurang.