Terdapat empat kondisi yang dapat menyebabkan jerawat, yaitu:

  • Produksi sebum berlebih. Sebum adalah zat yang diproduksi oleh kelenjar minyak untuk mencegah kulit kering.
  • Sumbatan pada folikel rambut. Jerawat muncul ketika folikel rambut tersumbat oleh campuran sel kulit mati dan sebum.
  • Bakteri. Jenis bakteri Propionibacterium acnes bisa berkembang dan menyumbat folikel rambut, serta menyebabkan peradangan.
  • Hormon. Aktivitas hormon androgen berlebih dapat menyebabkan jerawat.

Folikel yang tersumbat bisa membengkak dan membentuk komedo putih atau komedo hitam bila terpapar dengan dunia luar. Kondisi tersebut sebaiknya jangan dianggap remeh, karena bisa berkembang menjadi pustula, papula, nodul, atau bahkan kista, apabila terkontaminasi oleh bakteri kulit.

Faktor Risiko Jerawat

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami jerawat, di antaranya:

  • Perubahan hormon. 80% kasus jerawat pada wanita terjadi karena adanya perubahan hormon pada masa tertentu, misalnya menjelang menstruasi, tiga bulan pertama masa kehamilan, atau akibat PCOS.
  • Masa pubertas. Pada masa pubertas, aktivitas hormon testosteron akan meningkat. Akibatnya kelenjar minyak menghasilkan sebum dalam jumlah lebih banyak dari yang dibutuhkan kulit.
  • Keturunan. Seseorang dari keluarga yang bermasalah dengan jerawat lebih berisiko mengalami jerawat.
  • Gesekan kulit dengan benda, contohnya jerawat di wajah akibat terlalu sering mengenakan penutup kepala, jerawat di leher karena pemakaian baju yang terlalu ketat di bagian kerah, atau jerawat di punggung akibat sering menggunakan ransel.
  • Stres. Meski stres tidak menyebabkan jerawat, namun dapat memperburuk kondisi jerawat yang sudah ada.
  • Konsumsi obat-obatan, seperti penggunaan litium, kortikosteroid, atau obat antikejang.
  • Penggunaan kosmetik.
  • Merokok.