Penyakit osteoporosis kerap baru terdiagnosis setelah terjadi keretakan tulang. Pemeriksaan dengan rontgen atau sinar-X berguna untuk mengidentifikasi keretakan tulang, tapi bukanlah metode yang tepat untuk mengukur kepadatan tulang. Jika Anda berisiko tinggi terkena osteoporosis, Anda disarankan untuk memeriksa kepadatan tulang dengan pemindaian DEXA (absorpsiometri sinar X dengan energi ganda).

Pemindaian DEXA: Mengukur Kepadatan Tulang

DEXA mengukur kepadatan mineral tulang (bone mineral density/BMD). Hasil DEXA Anda akan dibandingkan dengan hasil kepadatan tulang orang yang umumnya sehat, sesuai dengan usia dan jenis kelamin yang sama dengan Anda. Prosedur ini berdurasi sekitar 15 menit dan tidak menimbulkan rasa sakit.

Hasil pemindaian DEXA dapat diinterpretasikan sebagai berikut:

  • Di atas Standar Deviasi (SD) (-1) berarti normal
    Antara SD (-1) dan (-2,5) diklasifikasikan sebagai osteopenia. Osteopenia adalah  kondisi saat kepadatan tulang lebih rendah dari rata-rata, tapi belum serendah tulang osteoporosis,
  • Di bawah SD (-2,5) dikategorikan sebagai osteoporosis.
    Pemindaian DEXA dapat mendiagnosis osteoporosis, tapi hasil BMD bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan risiko keretakan tulang Anda. Dokter juga akan memperhitungkan usia, jenis kelamin, dan berbagai cedera yang Anda alami sebelumnya untuk menentukan apakah Anda membutuhkan perawatan untuk osteoporosis.

International Osteoporosis Foundation (IOF) mendeteksi bahwa akses terhadap fasilitas pindai DEXA scan menjadi persoalan utama di Indonesia. Setengah dari jumlah total mesin DEXA yang ada hanya berada di Jakarta. Harga pemeriksaan tes DEXA yang berkisar Rp 700.000 juga relatif sulit terjangkau oleh kebanyakan orang Indonesia.  Hal ini juga membuat angka pasti jumlah penderita osteoporosis di Indonesia sulit diketahui. Pemeriksaan yang lebih umum dilakukan adalah dengan ultrasound, tapi standarisasinya masih dipertanyakan.

FRAX: Memprediksi Keretakan Tulang

FRAX adalah program yang dapat memprediksi risiko keretakan tulang. Alat kalkulasi ini diperuntukkan bagi pasien berusia antara 40-90 tahun. FRAX dapat menghitung risiko keretakan tulang Anda untuk 10 tahun ke depan. World Health Organization (WHO) telah mengembangkan alat tersebut berdasarkan kriteria tiap negara termasuk Indonesia.

Anda dapat menggunakan FRAX untuk Indonesia dengan mengunjungi laman FRAX.

Anda Memiliki Kepadatan Tulang Rendah?

Rendahnya kepadatan mineral tulang tidak selalu berarti tulang Anda berisiko tinggi mengalami keretakan. Konsultasikan semua faktor yang dapat meningkatkan risiko keretakan tulang Anda. Dokter akan membantu Anda mengambil langkah-langkah positif untuk menjaga kesehatan tulang Anda.