Penanganan osteoporosis bertujuan untuk mencegah terjadinya patah tulang serta membantu mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang. Salah satu langkah utama yang dianjurkan adalah mengurangi risiko jatuh atau cedera, terutama pada penderita dengan kepadatan tulang yang sudah menurun.
Berikut ini adalah beberapa pengobatan untuk membantu menjaga atau meningkatkan kepadatan tulang. Jenis pengobatan yang diberikan dapat berupa terapi nonhormonal maupun hormonal, sesuai dengan kondisi dan tingkat keparahan osteoporosis yang dialami pasien.
Pengobatan Osteoporosis Nonhormonal
Pengobatan nonhormonal dapat meliputi pemberian suplemen maupun obat-obatan tertentu, antara lain:
1. Suplemen kalsium dan vitamin D
Kalsium dan vitamin D berperan penting dalam menjaga kekuatan serta kepadatan tulang. Vitamin D membantu penyerapan kalsium di usus sehingga pembentukan tulang dapat berjalan optimal.
Kekurangan kedua zat ini dapat mempercepat penurunan kepadatan tulang dan meningkatkan risiko patah tulang. Dokter akan menentukan jenis dan dosis suplemen sesuai usia, kondisi kesehatan, serta kebutuhan masing-masing pasien.
2. Bifosfonat
Bifosfonat bekerja dengan menghambat aktivitas sel perusak tulang (osteoklas), sehingga proses penguraian tulang dapat diperlambat. Dengan mekanisme ini, kepadatan tulang dapat dipertahankan dan risiko patah tulang berkurang.
Obat yang termasuk dalam golongan ini antara lain alendronate, etidronate, ibandronate, risedronate, dan asam zoledronat. Penggunaan bifosfonat perlu mengikuti aturan dokter karena dapat menimbulkan efek samping tertentu, terutama pada saluran cerna dan tulang rahang.
3. Denosumab
Denosumab merupakan obat suntik yang bekerja dengan menghambat protein tertentu yang berperan dalam proses penghancuran tulang. Obat ini membantu meningkatkan kepadatan tulang dan menurunkan risiko patah tulang, terutama pada tulang belakang dan tulang pinggul.
Denosumab diberikan melalui suntikan setiap 6 bulan. Terapi ini umumnya direkomendasikan bagi penderita osteoporosis dengan risiko patah tulang yang tinggi atau yang tidak dapat menggunakan bifosfonat.
Pengobatan Osteoporosis Hormonal
Pengobatan hormonal bertujuan untuk menggantikan atau menyeimbangkan kadar hormon tertentu yang berperan dalam menjaga kepadatan tulang.
1. Terapi hormon estrogen
Terapi penggantian hormon estrogen dapat diberikan pada wanita pascamenopause untuk membantu memperlambat penurunan kepadatan tulang. Estrogen berperan penting dalam menekan proses peluruhan tulang sehingga risiko patah tulang dapat berkurang.
Namun, terapi ini memiliki risiko efek samping, seperti peningkatan risiko kanker payudara, kanker ovarium, dan stroke. Oleh karena itu, penggunaannya harus melalui evaluasi dan pengawasan dokter.
2. Selective estrogen receptor modulators (SERMs)
SERMs merupakan obat yang bekerja menyerupai estrogen pada jaringan tulang tanpa memberikan efek yang sama pada jaringan lain. Salah satu SERMs yang digunakan untuk osteoporosis adalah raloxifene.
Obat ini membantu mempertahankan kepadatan tulang dan menurunkan risiko patah tulang belakang. Penggunaan SERMs umumnya direkomendasikan pada wanita pascamenopause dengan pertimbangan risiko dan manfaat yang sesuai.
3. Terapi hormon testosteron
Terapi hormon testosteron dapat diberikan pada pria dengan hipogonadisme, yaitu kondisi ketika tubuh tidak mampu memproduksi hormon testosteron dalam jumlah yang cukup.
Hormon testosteron berperan dalam pembentukan dan pemeliharaan kepadatan tulang pada pria. Pemberian terapi ini bertujuan untuk mencegah penurunan massa tulang dan mengurangi risiko patah tulang. Terapi harus dilakukan sesuai anjuran dan pemantauan dokter.
4. Obat perangsang pembentukan tulang
Obat perangsang pembentukan tulang digunakan pada kasus osteoporosis berat atau pada pasien dengan risiko patah tulang yang sangat tinggi. Obat ini bekerja dengan merangsang pembentukan jaringan tulang baru sehingga kepadatan tulang dapat meningkat.
Jenis obat yang termasuk dalam kelompok ini antara lain teriparatide, abaloparatide, dan romosozumab. Obat-obatan tersebut diberikan dalam bentuk suntikan dengan durasi penggunaan yang terbatas sesuai rekomendasi medis.
5. Kalsitonin
Kalsitonin merupakan hormon yang bekerja dengan menghambat aktivitas sel perusak tulang sehingga membantu memperlambat peluruhan tulang. Obat ini dapat digunakan sebagai terapi tambahan pada osteoporosis, terutama bila pilihan pengobatan lain tidak dapat diberikan.
Kalsitonin tersedia dalam bentuk suntikan atau semprot hidung (nasal spray). Namun, efektivitasnya lebih rendah dibandingkan obat osteoporosis lain sehingga penggunaannya perlu dipertimbangkan secara selektif.