Penyakit jantung koroner adalah kondisi ketika pembuluh darah jantung (arteri koroner) tersumbat oleh timbunan lemak. Pada awalnya, kondisi ini mungkin tidak menyebabkan gejala. Namun, sumbatan total pada arteri koroner dapat menyebabkan serangan jantung.
Arteri koroner adalah pembuluh darah yang mengalirkan darah kaya oksigen ke otot jantung. Penumpukan lemak di arteri koroner membuat pembuluh darah ini menyempit dan mengeras. Akibatnya, aliran darah dan asupan oksigen ke otot jantung berkurang.

Ketika asupan oksigen berkurang, otot jantung bisa rusak sehingga kemampuannya untuk bekerja juga menjadi terbatas. Hal inilah yang menyebabkan gejala serangan jantung, seperti nyeri dada kiri dan sesak napas.
Berdasarkan data WHO pada tahun 2022, ada 19,8 juta orang di dunia meninggal karena penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular), di antaranya akibat penyakit jantung koroner (PJK). Sementara di Indonesia, tercatat lebih dari 13 juta kasus penyakit kardiovaskular pada tahun 2022.
Penyebab Penyakit Jantung Koroner
Penyakit jantung koroner dimulai sejak terdapat penumpukan atau plak lemak (aterosklerosis) di dalam arteri koroner. Banyak faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya kondisi tersebut, antara lain:
- Merokok
- Menjalani pola makan yang tidak sehat, seperti tinggi lemak dan tinggi gula
- Menderita tekanan darah tinggi
- Memiliki kolesterol tinggi
- Menderita diabetes
- Mengalami obesitas atau kelebihan berat badan
- Kurang beraktivitas fisik
- Memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung koroner
Gejala Penyakit Jantung Koroner
Ketika plak lemak di arteri koroner belum terlalu tebal, penyakit jantung koroner bisa tidak menimbulkan gejala sama sekali. Gejala nyeri dada (angina) mungkin terjadi ketika jantung harus bekerja lebih keras, misalnya saat sedang berolahraga.
Jika arteri koroner sudah tersumbat sepenuhnya, penyakit jantung koroner dapat menyebabkan gejala serangan jantung, seperti:
- Nyeri dada yang menjalar ke lengan, dagu, atau punggung
- Keringat dingin
- Lemas
- Sesak napas
- Mual
Jika Anda merasakan gejala di atas, jangan tunda untuk memeriksakan diri ke dokter. Anda juga bisa memanfaatkan layanan Chat Bersama Dokter untuk mendapatkan informasi dan penanganan awal yang sesuai.
Kapan Harus ke Dokter
Segera cari pertolongan medis jika mengalami gejala di atas. Pemeriksaan secara berkala oleh dokter juga perlu dilakukan bila Anda memiliki faktor risiko penyakit jantung koroner. Hal ini karena sebagian penderita mungkin tidak mengalami gejala apa pun.
Diagnosis Penyakit Jantung Koroner
Diagnosis penyakit jantung koroner dilakukan oleh dokter melalui serangkaian pemeriksaan untuk menilai kondisi jantung serta mencari penyebab keluhan yang dialami. Pemeriksaan biasanya diawali dengan sesi tanya jawab.
Pada sesi tanya jawab, dokter umumnya akan menanyakan hal-hal berikut:
- Gejala yang dialami
- Waktu munculnya keluhan, termasuk apakah keluhan muncul saat beraktivitas atau saat istirahat
- Riwayat penyakit
- Riwayat penyakit jantung dalam keluarga
- Kebiasaan sehari-hari, seperti merokok, pola makan, dan aktivitas fisik
- Obat-obatan atau suplemen yang sedang dikonsumsi
Bila pasien berisiko terkena penyakit jantung koroner, dokter akan mengukur tekanan darah dan memeriksa kadar kolesterol pasien.
Guna memastikan diagnosis, dokter akan menjalankan metode pemeriksaan berikut:
- Elektrokardiografi (EKG), untuk merekam aktivitas listrik jantung serta menilai apakah detak dan irama jantung pasien tergolong normal atau tidak
- Stress test, untuk mendeteksi gejala penyakit jantung koroner yang sering muncul saat pasien sedang beraktivitas
- Kateterisasi jantung dan angiografi koroner, untuk melihat aliran darah menuju jantung dan mendeteksi penyumbatan di pembuluh darah koroner
Untuk memudahkan, Anda juga dapat melakukan booking dokter secara online agar mendapatkan jadwal konsultasi yang sesuai tanpa harus menunggu lama. Penanganan yang cepat dan tepat dapat membantu mencegah kondisi menjadi lebih serius.
Pengobatan Penyakit Jantung Koroner
Pengobatan penyakit jantung koroner umumnya melibatkan perbaikan pola hidup yang akan dikombinasikan dengan obat-obatan atau prosedur medis. Dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani pola hidup sehat, seperti:
- Mengonsumsi makanan bergizi lengkap dan seimbang
- Mengurangi atau berhenti mengonsumsi minuman beralkohol
- Berhenti merokok
- Menjaga berat badan ideal
- Berolahraga teratur
Dokter juga dapat meresepkan obat-obatan untuk mengatasi penyakit jantung koroner, misalnya:
- Pengencer darah, seperti aspirin (Cardio Aspirin) dan clopidogrel (Pladogrel), untuk membantu mencegah pembekuan darah
- Statin, seperti atorvastatin (Atofar), simvastatin (Selvim), dan rosuvastatin (Crestor), untuk menurunkan kolesterol darah
- Obat antihipertensi, seperti ACE inhibitors atau ARB, untuk menurunkan tekanan darah
- Obat penghambat beta, seperti bisoprolol (Concor) dan metoprolol (Loprolol), untuk mencegah angina dan mengatasi hipertensi
Jika obat-obatan sudah tidak efektif untuk mengatasi gejala, pasien akan disarankan untuk menjalani operasi, seperti:
- Pemasangan ring jantung di arteri koroner yang menyempit untuk melancarkan aliran darah dan mencegah penyempitan terulang
- Bypass jantung, untuk mengalihkan aliran darah pada arteri koroner yang menyempit ke pembuluh darah baru yang diambil dari bagian tubuh lain kemudian dipasang ke jantung
Komplikasi Penyakit Jantung Koroner
Jika tidak segera ditangani, penyakit jantung koroner dapat menyebabkan komplikasi berikut:
- Serangan jantung, karena arteri yang tersumbat total oleh tumpukan lemak atau gumpalan darah
- Gangguan irama jantung, akibat suplai darah ke jantung berkurang atau kerusakan pada jaringan yang bertugas menghantarkan aliran listrik jantung
- Gagal jantung, karena kondisi otot jantung yang tidak cukup kuat untuk memompa darah
Pencegahan Penyakit Jantung Koroner
Penyakit jantung koroner dapat dicegah dengan menjalani pola hidup sehat, seperti:
- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
- Berolahraga secara rutin
- Berhenti merokok
- Membatasi konsumsi minuman beralkohol
- Mengelola stres dengan baik
- Memeriksakan kondisi kesehatan ke dokter secara berkala, terutama jika berisiko terserang penyakit jantung koroner