Untuk memperpanjang masa konsumsi, produk susu bisa diolah dengan proses ultra-high temperature atau proses pengolahan bertemperatur sangat tinggi. Produk susu yang telah menjalani prosedur ini lazim disebut dengan nama susu UHT.

Proses pengolahan susu agar lebih tahan lama ini disebut pasteuriasasi, dan salah satu tekniknya adalah dengan teknologi ultra-high temperature. Dalam prosesnya, susu akan dipanaskan hingga di atas 138 derajat Celsius selama 1-2 detik. Tujuan pemanasan menggunakan suhu sangat tinggi dalam waktu singkat tersebut guna membunuh bakteri di dalamnya.

Susu UHT: Ketahui Fakta dan Mitosnya di Sini - Alodokter

Setelah itu, susu akan dikemas secara steril dan memiliki masa konsumsi hingga 9 bulan tanpa perlu disimpan di lemari pendingin. Hanya saja, panjangnya masa konsumsi tersebut berlaku selama kemasan tidak dibuka.

Mitos dan Fakta Terkait Susu UHT

Karena susu UHT diolah secara khusus sebelum dipasarkan, ada yang meragukan  kandungan gizi dan tingkat keamanan susu UHT jika dibandingkan susu mentah biasa. Beberapa anggapan di bawah ini merupakan kesimpulan yang perlu diperjelas terkait kualitas susu UHT jika dibandingkan dengan susu segar:

  • Tidak efektif untuk mencegah osteoporosis
    Banyak yang menganggap bahwa susu segar jauh lebih efektif dalam mencegah penyakit osteoporosis. Namun, anggapan tersebut hanya mitos belaka. Belum ada literatur ilmiah yang mendukung klaim-klaim tersebut. Penelitian justru menyatakan bahwa baik susu yang telah diproses dengan teknologi UHT (pasteurisasi) tetap tidak mengubah kandungan kalsium di dalam susu. Setidaknya, hal ini sudah dibuktikan melalui eksperimen yang menggunakan tikus sebagai hewan percobaan. Selain itu, penelitian juga dilakukan kepada manusia dengan menggunakan air susu ibu (ASI). Hasil yang didapatkan, antara ASI yang dipanaskan dan tidak dipanaskan, tidak tampak adanya perbedaan dalam proses penyerapan asam amino, kalsium, fosfor, dan natrium pada bayi prematur.
  • Kandungan gizi berubah drastis
    Proses pemanasan dengan suhu tinggi dalam beberapa waktu telah memicu banyak pertanyaan, apakah teknik tersebut mengubah kandungan gizi dalam susu UHT? Faktanya, proses UHT tidak berakibat kepada penurunan nilai gizi pada susu.
  • Perubahan proporsi lemak dan protein susu
    Pengaruh proses pengolahan UHT yang dilakukan terhadap susu juga sering dipertanyakan, terutama terhadap kandungan lemak dan protein di dalam susu. Faktanya, proses pemanasan melalui UHT memang akan mengubah kandungan lemak dan protein pada susu. Namun, perubahan yang terjadi hanya sedikit saja. Sehingga tidak memengaruhi asupan gizi yang dapat diserap tubuh secara signifikan.
    Bahkan jika dibandingkan dengan susu murni, protein dalam susu yang dipanaskan dalam suhu tinggi lebih mudah dicerna oleh tubuh. Lemak susu sendiri memberi pengaruh yang signifikan terhadap nilai gizi susu karena di dalamnya terkandung sebagian besar vitamin A, B, D, dan kalsium. Untuk mengetahui kandungan gizi sebuah produk susu secara lebih lengkap, jangan lupa untuk membaca label nutrisi yang tertera di kemasan dengan saksama.
  • Susu segar lebih sehat dari susu UHT
    Anggapan ini tidak benar, susu segar dan susu UHT yang sudah diolah keduanya memiliki kandungan gizi yang tidak jauh berbeda. Pada susu UHT yang sudah disterilisasi, bakteri penyebab penyakit seperti E.coli dan Salmonella sudah dimatikan dengan proses pemanasan, sehingga risiko terkena penyakit akibat infeksi bakteri dalam susu justru berkurang jika mengonsumsi susu UHT.

Mengungkap fakta-fakta terkait susu UHT ternyata tidak seseram yang diduga. Maka dari itu, kini tidak perlu ragu untuk mengonsumsinya. Hanya saja, pada usia dan golongan tertentu, seperti bayi, balita, dan ibu hamil, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum mengonsumsinya.