Untuk mendiagnosis tipes, dokter akan melakukan tanya jawab terkait gejala yang dialami, tempat tinggal dan riwayat perjalanan, serta obat-obatan yang dikonsumsi pasien.

Selanjutnya, dokter akan menjalankan pemeriksaan fisik dengan mengukur suhu badan dan melihat bercak merah di kulit. Dokter juga akan menekan perut pasien untuk mendeteksi nyeri dan memeriksa kemungkinan pembengkakan di limpa dan hati (hepatosplenomegali).

Untuk menetapkan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Kultur darah, urine, atau tinja, untuk mendeteksi bakteri Salmonella typhi
  • Aspirasi sumsum tulang, untuk mendeteksi bakteri Salmonella typhi, untuk lebih memastikan hasil tes darah, urine, atau feses
  • Tes Widal, untuk mendeteksi antibodi yang muncul sebagai reaksi terhadap bakteri Salmonella typhi
  • Tes TUBEX TF, untuk mendeteksi antibodi terhadap bakteri Salmonella typhi dengan sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan tes Widal

Di Indonesia, tes Widal masih sering dilakukan untuk mendiagnosis tipes, tetapi dokter akan menerjemahkan hasil tes Widal secara hati-hati. Hal ini karena pada daerah endemik tipes, seperti Indonesia, hampir semua orang pernah terpapar Salmonella typhi. Kondisi ini membuat tubuh secara alamiah telah membentuk antibodi terhadap bakteri ini.

Oleh karena itu, ketika pemeriksaan Widal dilakukan, antibodi dalam tubuh pasien mungkin akan memberi reaksi positif. Hasil tes tersebut bukan berarti seseorang positif menderita tipes, melainkan bisa sebaliknya.