Tirotoksikosis adalah sebuah kondisi di mana kerja dari hormon tiroid berlebihan yang disebabkan oleh kadar hormon tiroid yang berlebih dalam tubuh. Istilah lain yang sering didengar adalah hipertiroidisme. Sebenarnya, hipertiroidisme berbeda dengan tirotoksikosis. Hipertiroidisme merupakan bentuk tirotoksikosis akibat dari produksi hormon tiroid yang berlebihan dalam kelenjar tiroid. Tidak semua tirotoksikosis disebabkan oleh hipertiroidisme, sebagai contoh pada tiroiditis, yaitu peningkatan hormon tiroid dalam tubuh yang disebabkan oleh pelepasan cadangan hormon tiroid yang berlebihan. Keadaan ini tidak disebut sebagai hipertiroidisme. Penting untuk  membedakan tirotoksikosis akibat hipertiroidisme atau bukan, karena akan mempengaruhi pengobatannya.

Tirotoksikosis

Seseorang dapat dinyatakan menderita tirotoksikosis saat kadar hormon tiroksin (T4) dan triodotironin (T3) di dalam darah menunjukkan peningkatan. Sementara, kadar thyroid-stimulating hormone (TSH) yang dilepaskan hipotalamus dan menjadi pengendali kelenjar tiroid menunjukkan penurunan.

Tirotoksikosis lebih banyak dialami kaum wanita. Penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian obat antitiroid, terapi radioaktif iodine, atau operasi tiroidektomi jika memang dibutuhkan.

Gejala Tirotoksikosis

Hormon tiroid memengaruhi setiap jaringan dan organ, sehingga kerja hormon tiroid yang berlebihan dapat mengakibatkan gejala:

  • Jantung berdebar atau takikardia.
  • Kelemahan otot.
  • Tangan mengalami tremor.
  • Penurunan berat badan, namun selera makan meningkat.
  • Kelopak mata membuka lebih lebar dari biasanya sehingga bola mata terlihat menonjol.
  • Sering berkeringat dan merasa kepanasan.
  • Kulit terasa lembab dan
  • Gangguan siklus menstruasi.

Penyebab Tirotoksikosis

Tirotoksikosis dapat terjadi karena 4 hal:

  • Kelenjar tiroid dirangsang berlebihan oleh thyroid-stimulating hormone (TSH). TSH memang berfungsi untuk merangsang pembentukkan hormon tiroid (T3 dan T4). Namun dengan terbentuknya T3 dan T4, akan memberikan umpan balik ke kelenjar hipotalamus, yaitu kelenjar yang menghasilkan TSH, untuk segera menghentikan produksi TSH. Keadaan ini terjadi pada keadaan fungsi tiroid normal, maupun tirotoksikosis. Akan tetapi pada penyakit TSH-secreting pituitary adenoma, terdapat tumor pada kelenjar hipotalamus atau pituitary yang terus membentuk TSH dan mengakibatkan hipertiroidisme dan tirotoksikosis.
  • Aktivasi dari pembentukan dan pengeluaran hormon tiroid dari kelenjar tiroid. Hal ini dapat disebabkan oleh:
    • Penyakit Graves.  Penyakit Graves merupakan penyebab tirotoksikosis yang paling banyak terjadi. Gangguan autoimun menyebabkan pelepasan hormon tiroid yang terlalu banyak.
    • Toxic adenoma. Penyakit tumor jinak ini biasanya mengelurakan hormon tiroid yang sangat banyak seraya menekan kadar hormon stimulan tiroid (TSH), sehingga kadarnya menjadi sangat rendah.
    • Toxic multinodular goiter (penyakit Plummer). Terjadi pembesaran pada kelenjar tiroid yang memroduksi hormon tiroid secara berlebih. Penyakit ini umumnya diderita oleh orang-orang lanjut usia. Peningkatakan kadar hormon tiroid berlangsung secara lambat. Oleh karena itu, gejala baru terdiagnosis pada usia lanjut.
    • Jod-Basedow Syndrome (Iodide-induced thyrotoxicosis). Gangguan ini dapat terjadi pada pasien yang terlalu banyak mendapat asupan yodium Hal ini dikarenakan yodium atau iodine merupakan bahan baku penting untuk pembentukan hormon tiroid.

Selain penyebab di atas, terdapat penyebab lain yang mengakibatkan aktivasi dari kelenjar tiroid sehingga menghasilkan hormon tiroid berlebih, misalnya hamil anggur, atau choriocarcinoma yang merupakan salah satu jenis kanker rahim.

  • Cadangan hormon tiroid dalam kelenjar tiroid dilepaskan perlahan akibat peradangan kelenjar tiroid (tiroiditis) yang dapat disebabkan oleh infeksi, autoimun, dan cedera. Tirotoksikosis yang terjadi bersifat sementara, setelah itu terjadi hipotiroidisme. Beberapa jenis tiroiditis di antaranya painless postpartum lymphocytic thyroiditis, painless sporadic thyroiditis, tiroiditis subakut, tiroiditis akut, dan palpation thyroiditis. Subacute thyroiditis atau de Quarvain thyroiditis merupakan jenis tersering. Beberapa obat yang juga dapat mengakibatkan kondisi ini yaitu interferon, tyrosine kinase inhibitor, dan lithium.
  • Paparan hormon tiroid berlebih yang didapatkan selain dari kelenjar tiroid. Hormon tiroid tersebut dapat dihasilkan oleh tubuh di luar dari kelenjar tiroid seperti pada tumor ovarium (struma ovarii) dan kanker tiroid yang telah menyebar ke jaringan lain. Selain itu hormon tiroid bisa didapat dari luar seperti pada thyrotoxicosis factitia, yaitu tirotoksikosis yang terjadi akibat menelan obat-obatan yang mengandung hormon tiroid.

Diagnosis Tirotoksikosis

Diagnosis tirotoksikosis dapat ditetapkan melalui pemeriksaan kadar thyroid-stimulating hormone (TSH) dan kadar hormon tiroid (T4 dengan atau tanpa T3) dalam darah. Pada pasien tiroiditis subakut, pemeriksaan penunjang seperti C-reactive protein dan laju endap darah juga dibutuhkan untuk melihat tanda peradangan.

Pemeriksaan autoantibodi dalam darah juga diperlukan guna mendeteksi penyakit Graves. Pemeriksaan ini terdiri dari pemeriksaan antimikrosomal, antitiroglobulin, serta antibodi reseptor TSH. Seluruh antibodi ini banyak ditemukan pada pasien penyakit Graves.

Selain pemeriksaan darah, pemindaian pada kelenjar tiroid seperti USG tiroid dan thyroid scan juga diperlukan guna melihat gambaran yang lebih detail.

Pengobatan Tirotoksikosis

Tujuan utama penanganan tirotoksikosis adalah untuk mengatasi gejala yang ditimbulkan, sambil berupaya mengembalikan kadar hormon tiroid hingga normal. Upaya mengatasi gejala berupa mengembalikan cairan pada pasien yang mengalami dehidrasi dan obat penghambat beta seperti propranolol atau atenolol.

Selain itu, upaya mengembalikan hormon tiroid ke kadar yang normal dapat dilakukan dengan pemberian obat antitiroid. Obat antitiroid dapat menurunkan kadar hormon tiroid secara bertahap selama 2 hingga 8 minggu. Pemberian dosis obat ini diturunkan bertahap tiap 4 minggu hingga fungsi tiroid kembali normal. Contoh obat antitiroid adalah propylthiouracil dan methimazole.

Obat lain untuk mengembalikan kadar hormon tiroid adalah larutan lugol yang berisi kalium iodide yang biasanya diberikan pada penderita tirotoksikosis yang parah. Pemberian obat ini dilakukan selama 4 minggu dengan dosis maksimal sebesar 12 gram/hari. Kendati demikian, obat-obatan ini tidak bisa diberikan pada pasien penyakit Plummer dan toxic adenoma.

Sedangkan untuk penderita penyakit Graves, umumnya diberikan terapi radioaktif iodine. Terapi ini cukup aman dan efektif meski efeknya lebih lambat dari obat antitiroid. Pemberian terapi ini bisa dalam bentuk cairan atau kapsul. Kendati demikian, terapi radioaktif iodine tidak bisa dilakukan pada wanita hamil karena dapat berpengaruh pada kelenjar tiroid janin, begitu pun pada ibu yang sedang menyusui.

Operasi

Tindakan operasi pembedahan pada kelenjar tiroid atau tiroidektomi dapat dilakukan pada kondisi-kondisi tertentu, di antaranya:

  • Pasien yang membutukan normalisasi kadar hormon tiroid dalam waktu cepat, seperti wanita hamil atau berencana hamil.
  • Pasien dengan kondisi jantung yang tidak stabil, mengalami gangguan mata parah, atau pasien hipertiroidisme berulang karena obat amiodarone.
  • Pasien yang tidak bisa menerima terapi radioaktif iodine atau tidak bisa mengonsumsi obat antitiroid.

Pasca tindakan operasi, fungsi tiroid akan diuji kembali melalui tes darah 3-4 minggu sesudah tindakan operasi. Dokter juga dapat memberikan obat hormon T4 (levothyroxine) karena sebagian besar pasien akan mengalami hipotiroidisme. Kejadian hipotiroidisme ini tergantung seberapa banyak jaringan tiroid yang diangkat.