Besi

Pengertian Besi

Zat besi adalah salah satu mineral penting yang memiliki berbagai peranan utama di dalam metabolisme tubuh. Tubuh membutuhkan zat besi untuk membentuk hemoglobin dalam sel darah merah, yang bertugas mengikat dan mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh.

Besi-Alodokter

Kekurangan zat besi dalam tubuh bisa menyebabkan anemia defisiensi besi. Penderita kondisi ini akan mengalami gejala-gejala, seperti letih, sesak napas, pusing atau sakit kepala, serta denyut jantung meningkat, akibat berkurangnya pasokan oksigen ke seluruh tubuh.

Zat besi bisa didapat dari makanan untuk memenuhi kebutuhan harian. Sumber zat besi pada makanan antara lain:

  • Kacang-kacangan.
  • Daging merah tanpa lemak.
  • Hati ayam dan sapi.
  • Kacang dan susu kedelai.
  • Tahu.
  • Tempe.
  • Beras merah.
  • Sayuran dengan daun hijau gelap, misalnya
Namun, jika asupan zat besi dari makanan tidak cukup, maka diperlukan suplemen penambah zat besi.

Tentang Zat Besi

Golongan Kelompok mineral
Kategori Obat bebas
Manfaat Mencegah dan mengobati defisiensi besi
Dikonsumsi oleh Dewasa dan anak-anak
Nama lain Ferrous sulfate, ferrous gluconate, sodium feredetate, ferrous fumarate
Bentuk obat Tablet, kapsul, sirup

Angka Kecukupan Gizi Zat Besi

Zat besi umumnya didapatkan oleh seseorang dari makanan. Suplemen baru dianjurkan untuk dikonsumsi jika tubuh kekurangan zat besi. Berikut ini adalah tabel tentang angka kecukupan zat besi untuk tiap orang:
Pria Dewasa
19 tahun ke atas 8 mg/hari
14-18 tahun 11 mg/hari
Wanita Dewasa
Hamil 27 mg/hari
Menyusui dengan usia di bawah 19 tahun 10 mg/hari
Meyusui dengan usia di atas 19 tahun 9 mg/hari
51 tahun ke atas 8 mg/hari
19-50 tahun 18 mg/hari
14-18 tahun 15 mg/hari
Anak-anak
9-13 tahun 8 mg/hari
4-8 tahun 10 mg/hari
1-3 tahun 7 mg/hari
7-12 bulan 11 mg/hari
Dosis maksimal konsumsi zat besi harian untuk dewasa dan anak-anak di atas 14 tahun adalah 45 mg/hari. Sedangkan bagi anak-anak di bawah 14 tahun, dosis maksimal adalah 40 mg/hari. Zat besi yang berasal dari makanan hewani lebih mudah diserap oleh tubuh dibanding makanan nabati. Mengonsumsi vitamin C dapat membantu penyerapan zat besi oleh tubuh.

Peringatan:

  • Harap berhati-hati bagi penderita penyakit kronis.
  • Jangan mengonsumsi suplemen zat besi dan suplemen kalsium secara bersamaan. Setidaknya berikan jeda waktu yang cukup, yaitu sekitar satu hingga dua jam.
  • Suplemen zat besi sebaiknya dikonsumsi satu jam sebelum makan. Tapi jika menyebabkan efek samping gangguan pencernaan, bisa dikonsumsi setelah makan.
  • Obat antasida bisa menghambat penyerapan suplemen zat besi, jadi sebaiknya dikonsumsi pada waktu yang berbeda.
  • Suplemen zat besi bisa membuat tinja berwarna jauh lebih gelap dari biasanya. Jangan khawatir atau panik, karena hal ini umum dialami oleh mereka yang mengonsumsi suplemen zat besi.
  • Suplemen zat besi dapat dikonsumsi oleh wanita hamil, menyusui, atau yang mencoba memiliki anak. Meski demikian, pastikan penggunaan suplemen ini sesuai dengan anjuran dokter agar aman.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

Dosis Zat Besi

Dosis umum untuk mengobati defisiensi zat besi adalah 130-195 mg per hari. Sedangkan dosis untuk mencegah defisiensi zat besi umumnya adalah 65 mg per hari.

Dosis suplemen zat besi disesuaikan dengan tingkat keparahan defisiensi zat besi dan kondisi kesehatan. Dosis bisa disesuaikan lagi setelah jangka waktu pemakaian tertentu dan pemeriksaan kadar zat besi di dalam tubuh dilakukan. Pada anak-anak, dosis juga akan disesuaikan dengan barat badan mereka.

Mengonsumsi Zat Besi dengan Benar

Bacalah petunjuk yang tertera pada kemasan suplemen zat besi dan ikuti anjuran dokter dalam mengonsumsinya.

Beri jarak waktu 2 jam setelah Anda mengonsumsi suplemen zat besi jika ingin mengonsumsi antasida.

Suplemen zat besi lebih mudah diserap aliran darah jika dikonsumsi satu jam sebelum makan atau saat perut masih kosong. Tapi jika Anda mengalami mual atau gejala gangguan pencernaan lainnya akibat suplemen ini, disarankan untuk mengonsumsinya setelah makan.

Hindari makanan atau minuman yang bisa menurunkan penyerapan zat besi oleh tubuh, seperti produk olahan susu, roti gandum, sereal, teh, kopi, atau susu.

Pastikan ada jarak waktu yang cukup antara satu dosis dengan dosis berikutnya. Bagi pasien yang lupa mengonsumsi zat besi, disarankan untuk segera melakukannya jika jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya tidak terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.

Interaksi Suplemen Zat Besi

Zat besi seringkali mengganggu penyerapan obat-obatan oleh tubuh dan menurunkan efektivitas obat-obatan tersebut. Beberapa obat yang dapat berinteraksi dengan suplemen zat besi adalah:
  • Antibiotik golongan tetracycline. Contohnya adalah minocycline, tetracycline, dan demeclocycline.
  • Antibiotik golongan quinolone. Contohnya adalah, enoxacin, trovafloxacin , norfloxacin, sparfloxacin, grepafloxacin, dan ciprofloxacin.
  • Bisphosphonate. Contohnya adalah etidronate, alendronate, etidronate, tiludronate, dan risedronate.
  • Penicillamine.
  • Levothyroxine.
  • Levodopa. 
  • Methyldopa.
  • Mycophenolate mofetil.

Kenali Efek Samping  dan Bahaya Zat besi

Reaksi orang terhadap sebuah obat berbeda-beda. Meskipun suplemen zat besi memiliki manfaat yang baik bagi tubuh, tapi suplemen ini bisa juga menimbulkan efek samping. Beberapa efek samping yang biasa terjadi adalah:
  • Tinja berwarna lebih gelap dari biasanya.
  • Konstipasi.
  • Mual, kram, atau sakit perut.
Diare.Overdosis zat besi merupakan kejadian yang cukup sering terjadi, terutama pada anak-anak. Perlu diperhatikan bahwa overdosis akibat zat ini sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Beberapa tanda-tanda overdosis zat besi yang harus diperhatikan adalah:
  • Muntah berat.
  • Diare.
  • Kram perut.
  • Kulit dan kuku pucat atau kebiruan.
  • Lemah dan letih.