Anemia defisiensi besi terjadi ketika kadar zat besi dalam tubuh tidak mencukupi untuk membentuk hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh.

Jika tubuh kekurangan hemoglobin, kemampuan darah untuk mengangkut oksigen ke jaringan tubuh akan menurun. Kondisi ini membuat berbagai organ tidak dapat berfungsi secara optimal dan menyebabkan gejala anemia defisiensi besi, seperti lemas, pucat, serta mudah lelah.

Selain itu, ada beberapa kondisi yang bisa menyebabkan anemia defisiensi besi, yaitu:

1. Kurang asupan zat besi 

Kurangnya asupan zat besi menjadi penyebab utama seseorang mengalami anemia defisiensi besi. Perlu diketahui, makanan adalah sumber zat besi yang paling baik untuk tubuh. 

Jika asupan makanan yang mengandung zat besi mencukupi dan seimbang, kebutuhan tubuh dapat terpenuhi. Sebaliknya, jika asupan makanan ini tidak tercukupi dalam waktu lama, anemia defisiensi besi dapat terjadi.

Selain itu, pola makan yang tidak seimbang, seperti jarang mengonsumsi makanan tinggi zat besi atau terlalu sering mengandalkan makanan olahan, juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kekurangan zat besi dalam tubuh.

2. Gangguan penyerapan zat besi (sindrom malabsorpsi)

Zat besi dalam makanan yang kita konsumsi diserap di dalam usus halus. Jika usus halus tidak bisa menyerap nutrisi dengan optimal, misalnya akibat penyakit Celiac, infeksi Helicobacter pylori, maupun setelah menjalani operasi pada lambung atau usus, anemia defisiensi besi dapat terjadi.

Di samping itu, penyerapan zat besi dapat menurun jika dikonsumsi bersamaan dengan zat tertentu, seperti teh, kopi, susu, atau makanan tinggi fitat. Beberapa obat lambung tertentu juga dapat mengurangi penyerapan zat besi bila digunakan dalam jangka panjang.

3. Mengalami perdarahan

Perdarahan menyebabkan seseorang kehilangan darah yang juga berarti kehilangan zat besi dalam tubuh. Anemia defisiensi zat besi akibat perdarahan bisa terjadi pada kasus cedera berat atau pada wanita yang mengalami menstruasi dengan perdarahan berat atau lama, misalnya karena miom.

Anemia defisiensi besi juga dapat terjadi akibat perdarahan di dalam tubuh yang tidak disadari dan berlangsung dalam jangka panjang (kronis), misalnya akibat polip pada usus, luka di dalam lambung (tukak lambung), dan kanker usus.

Konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid, seperti ibuprofen atau diclofenac, secara terus menerus juga dapat menyebabkan perdarahan kronis pada lambung yang mengakibatkan tubuh kekurangan zat besi.

4. Kebutuhan zat besi meningkat 

Pada kondisi tertentu, tubuh membutuhkan zat besi lebih banyak dari biasanya. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, cadangan zat besi dalam tubuh dapat menurun dan berujung pada anemia defisiensi besi.

Hal ini sering terjadi pada masa kehamilan, masa pertumbuhan pada anak dan remaja, serta pada kondisi tertentu seperti pemulihan setelah sakit, di mana tubuh memerlukan produksi sel darah merah yang lebih tinggi dari biasanya.

Faktor Risiko Anemia Defisiensi Besi

Ada beberapa faktor risiko yang membuat seseorang lebih rentan terkena anemia defisiensi besi, yaitu:

  • Wanita usia subur, terutama yang sedang mengalami menstruasi berlebihan
  • Ibu hamil dan menyusui 
  • Anak-anak dan bayi yang terlahir prematur, memiliki berat badan lahir rendah, atau tidak mendapatkan cukup asupan zat besi 
  • Menjalani pola makan vegetarian atau tidak mengonsumsi daging 
  • Pernah menjalani operasi lambung atau usus
  • Mengalami gangguan penyerapan nutrisi di saluran cerna 
  • Menderita penyakit kronis, seperti gagal ginjal, kanker, atau penyakit autoimun
  • Mendonorkan darah secara rutin, terutama jika tidak diimbangi dengan konsumsi makanan yang kaya zat besi
  • Kurang asupan vitamin C yang dapat mengganggu penyerapan zat besi
  • Kebiasaan mengonsumsi teh atau kopi saat makan

Memahami penyebab dan faktor risiko ini penting agar anemia defisiensi besi dapat dicegah dan ditangani sejak dini. Jika Anda termasuk kelompok berisiko atau memiliki gejala, sebaiknya konsultasikan ke dokter lewat Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER, untuk evaluasi dan penanganan yang tepat.