Antiaritmia adalah kelompok obat yang digunakan untuk menangani kondisi aritmia. Aritmia merupakan kondisi yang mengacu ketika denyut jantung berdetak terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Kondisi ini terjadi akibat adanya gangguan pada impuls listrik yang mengatur detak jantung. Gejala-gejala yang dialami penderita aritmia berupa jantung berdebar, lemas, pusing, sesak napas, berkeringat, dan nyeri dada.

Beberapa contoh penyakit gangguan irama jantung atau aritmia, antara lain blok av, fibrilasi atrium, fibrilasi ventrikel, dan ventricular extrasystole. Beberapa jenis aritmia tersebut dapat disebabkan oleh kondisi-kondisi sebagai berikut:

  • Infeksi
  • Serangan jantung
  • Penyakit jantung koroner
  • Gangguan keseimbangan elektrolit di dalam tubuh.

Serangan Jantung - Obat Antiaritmia

Golongan obat antiaritmia tersedia dalam bentuk tablet atau cairan suntik (infus). Konsumsi tablet antiaritmia biasa digunakan untuk pengobatan jangka panjang, sedangkan cairan suntik diberikan pada kondisi gawat darurat.

Jenis-jenis obat antiaritmia dibagi ke dalam lima golongan yaitu:

  • Antiaritmia golongan I: Lidocaine, Propafenone
  • Antiaritmia golongan II: Propranolol
  • Antiaritmia golongan III: Amiodarone
  • Antiaritmia golongan IV: Diltiazem, Verapamil
  • Antiaritmia golongan V: Digoxin

Peringatan:

  • Wanita hamil, menyusui, atau sedang merencanakan kehamilan disarankan untuk berdiskusi dengan dokter terlebih dahulu mengenai manfaat dan risiko menggunakan obat antiaritmia.
  • Waspadai munculnya keluhan pusing setelah menggunakan obat ini. Pasien bisa bergerak secara perlahan-lahan beberapa saat usai menggunakan obat antiaritmia untuk mengurangi rasa pusing.
  • Hindari mengemudikan kendaraan atau mengoperasikan alat berat selama mengonsumsi obat ini.
  • Batasi konsumsi makanan yang mengandung garam dan cukupi asupan cairan, agar tidak menimbulkan penumpukkan cairan di salah satu bagian tubuh.
  • Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat-obatan lainnya, termasuk herba atau suplemen yang dapat menyebabkan interaksi obat tidak diinginkan.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

Efek Samping Antiaritmia

Tiap obat dapat menimbulkan efek samping, tergantung dari respons pasien terhadap obat. Konsultasikan kepada dokter jika muncul efek berupa:

  • Batuk
  • Nyeri dada
  • Penglihatan kabur
  • Hilang nafsu makan
  • Diare atau konstipasi
  • Bengkak pada lengan dan tungkai
  • Sensitif terhadap sinar matahari
  • Sakit kepala, pusing, atau ingin pingsan
  • Denyut jantung kian cepat atau melambat
  • Gangguan indera pengecap, seperti timbul rasa pahit atau rasa seperti logam.

Jenis-Jenis, Merek Dagang, serta Dosis Antiaritmia

Berikut ini dosis antiaritmia yang berguna untuk menangani aritmia, berdasarkan jenis-jenis obatnya. Sebagai informasi, penggunaan masing-masing jenis obat ini dilarang bagi kelompok usia yang tidak disebutkan di dalam kolom dosis.

Untuk mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai efek samping, peringatan, atau interaksi dari masing-masing obat antiaritmia, silahkan lihat pada Obat A-Z.

Lidocaine

Merek dagang Lidocaine: Bioron, Extracaine, Lidocaine Compositum, Lidocaine HCL, Lidocaine HCL (NAT) G, Lidodex, Lidox 2%, Pehacain, Vitamin B Complex (IKA), Xylocaine.

  • Suntik
    Dewasa: 1-1,5 mg/kgBB.
    Dosis maksimal: 3 mg/kgBB. Dalam keadaan darurat, dapat diberikan 300 mg disuntikkan ke otot bahu. Penyuntikkan bisa diberikan kembali setelah 60-90 menit dari penyuntikkan pertama, jika dibutuhkan.

Propafenone

Merek dagang Propafenone: Rytmonorm

  • Tablet
    Dewasa: dosis awal diberikan sebanyak 150 mg, tiga kali sehari.
    Dosis bisa ditingkatkan setiap 3-4 hari sekali, dengan dosis maksimal hingga 300 mg, tiga kali sehari.
    Lansia: diskusikan dengan dokter.

Propranolol

Merek dagang Propranolol: Farmadral 10, Libok 10, Propranolol

  • Tablet
    Dewasa: 30-160 mg per hari, dibagi ke dalam beberapa kali pemberian.
    Anak-anak: 0,25-0,5 mg/kgBB, 3-4 kali sehari

Amiodarone

Merek dagang Amiodarone: Amiodarone HCL, Cordarone, Cortifib, Kendaron, Lamda, Rexodrone, Tiaryt

  • Cairan suntik
    Dewasa: dosis awal 5 mg/kgBB, disuntikkan selama 20-120 menit. Dosis bisa diberikan lagi jika diperlukan dengan dosis maksimal 1.200 mg per hari.
    Lansia: Dosis akan dikurangi dari dosis dewasa.
  • Tablet
    Dewasa: dosis awal 200 mg, 3 kali sehari, untuk satu minggu. Dosis selanjutnya bisa dikurangi menjadi 200 mg, 2 kali sehari, diturunkan perlahan hingga kurang dari 200 mg per hari.
    Lansia: Dosis akan dikurangi dari dosis dewasa.

Diltiazem

Merek dagang Diltiazem: Farmabes 5, Herbesser

  • Cairan suntik
    Dewasa: dosis awal 250 mcg/kgBB, disuntikkan ke dalam pembuluh darah vena selama kurang-lebih 2 menit. Dosis bisa ditambahkan sebanyak 350 mcg/kgBB setelah 15 menit jika diperlukan

Verapamil

Merek dagang Verapamil: Isoptin, Tarka, Verapamil HCL

  • Tablet
    Dewasa: 120-480 mg per hari, dibagi ke dalam 3-4 kali pemberian.
    Anak usia 2 tahun atau kurang: 20 mg, 2-3 kali per hari.
    Anak usia 3 tahun atau lebih: 40-120 mg, 2-3 kali per hari

Digoxin

Merek dagang Digoxin: Digoxin, Fargoxin

  • Tablet
    Dewasa: dosis awal 0,75-1 mg diberikan dalam 24 jam sebagai dosis tunggal atau dibagi tiap 6 jam. Dosis pemeliharaan adalah 125-250 mcg per hari.
    Bayi dengan berat badan hingga 1,5 kg: dosis awal 25 mcg/kgBB per hari, dibagi menjadi 3 kali konsumsi Dosis lanjutan adalah 4-6 mcg/kgBB per hari, dibagi menjadi 1-2 kali konsumsi.
    Bayi dengan berat badan 1,5-2,5 kg: dosis awal 30 mcg/kgBB per hari, dibagi menjadi 3 kali konsumsi. Dosis lanjutan 4-6 mcg/kg/BB per hari, untuk 1-2 kali konsumsi
    Bayi dengan berat badan di atas 2,5 kg dan balita usia 1 bulan-2 tahun: dosis awal 45 mcg/kgBB per hari, dibagi tiga kali pemberian. Dosis lanjutan 10 mcg/kgBB per hari, untuk 1-2 kali konsumsi.
    Anak usia 2-5 tahun: dosis awal 35 mcg/kgBB per hari, dibagi menjadi 3 kali konsumsi. Dosis lanjutan 10 mcg/kgBB per hari, untuk 1-2 kali konsumsi
    Anak usia 5-10 tahun: dosis awal 25-750 mcg/kgBB per hari, dibagi menjadi tiga kali konsumsi. Dosis lanjutan 6-250 mcg/kgBB per hari, untuk 1-2 kali konsumsi.
    Anak usia 10-18 tahun: dosis awal 0,75-1,5 mg/kgBB per hari, dibagi menjadi 3 kali konsumsi. Dosis lanjutan 62,5-750 mcg per hari, untuk 1-2 kali konsumsi.
  • Infus
    Dewasa: 0,5-1 mg yang diinfuskan selama 2 jam sebagai dosis tunggal