Aspartam merupakan pemanis buatan yang rendah kalori dengan tingkat kemanisan 200 kali lebih manis dari sukrosa. Pemanis ini sering disebut sebagai gula diet serta digunakan sebagai pengganti gula bagi penderita diabetes.

Bahan utama aspartam adalah asam aspartat dan fenilalanin, yaitu asam amino alami yang dikenal sebagai komponen pembangun protein. Karena rasanya lebih manis daripada sukrosa, hanya dibutuhkan sedikit aspartam untuk menghasilkan tingkat kemanisan yang sama dengan sukrosa.

Aspartam dan Dampaknya bagi Kesehatan Tubuh - Alodokter

Aspartam dipercaya dapat membantu mengendalikan berat badan bagi penderita obesitas karena kadar kalorinya rendah. Selain itu, aspartam juga biasanya dikonsumsi oleh penderita diabetes untuk mencegah lonjakan kadar gula dalam darah.

Mengenal Aspartam Lebih Jauh

Aspartam merupakan bubuk berwarna putih yang tidak berbau. Pemanis buatan ini terkandung dalam beberapa produk di pasaran, seperti sereal, permen karet bebas gula, minuman bersoda, susu berperisa, teh kemasan, kopi instan, yoghurt kemasan, es krim, salad dressing, saos tomat, dan jus buah.

Produk-produk yang mengandung aspartam tersebut sering dilabeli dengan istilah bebas gula, tanpa atau rendah kalori, atau tanpa gula.

Di dalam tubuh, aspartam akan dipecah menjadi methanol, yang dalam jumlah besar beracun bagi tubuh. Namun, jika dikonsumsi sewajarnya atau tidak berlebihan, pemanis buatan yang satu ini tergolong aman. Batas konsumsi aspartam yang disarankan adalah 0–40 miligram per kilogram berat badan.

Dampak Aspartam bagi Kesehatan Tubuh

Jika dikonsumsi secara berlebihan, aspartam dapat memberikan dampak negatif bagi tubuh, seperti:

1. Memperburuk gejala migrain

Selain sebagai pemanis buatan, aspartam juga menghasilkan produk sampingan berupa glutamat. Apabila dikonsumsi berlebihan, produk sampingan aspartam ini dapat menyebabkan sakit kepala dan memperburuk gejala migrain.

2. Menyebabkan penambahan berat badan

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi aspartam dapat mengganggu proses metabolisme yang akan menyebabkan penambahan berat badan.

Hal ini terjadi karena tingkat kemanisan aspartam bisa ratusan kali lebih manis dari gula biasa, sehingga tidak sesuai dengan jumlah kalori yang terdapat dalam makanan.

Ketika rasa manis tidak diimbangi dengan jumlah kalori yang tepat, otak tidak dapat memproses informasi secara akurat sehingga metabolisme tubuh akan terganggu.

3. Meningkatkan risiko terjadinya diabetes

Konsumsi aspartam akan memengaruhi cara tubuh dalam membuang kelebihan gula dalam tubuh. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada pankreas dan gangguan produksi insulin yang memicu terjadinya diabetes.

4. Memicu komplikasi pada penderita fenilketonuria

Aspartam akan dicerna oleh tubuh sebelum diproses lebih lanjut. Oleh karena itu, aspartam harus dihindari oleh penderita gangguan metabolisme, seperti fenilketonuria.

Fenilketonuria merupakan penyakit bawaan langka yang terjadi ketika tubuh tidak dapat melakukan metabolisme terhadap asam amino fenilalanin. Jika tetap dikonsumsi oleh penderita fenilketonuria, aspartam akan menumpuk di dalam tubuh dan menimbulkan komplikasi.

5. Meningkatkan risiko terkena penyakit jantung

Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi aspartam dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit jantung. Oleh karena itu, orang dengan kelebihan berat badan, prediabetes, diabetes, atau memiliki risiko penyakit jantung secara genetik sebaiknya membatasi konsumsi pemanis buatan, termasuk aspartam.

Selain menyebabkan beberapa dampak tersebut, konsumsi aspartam juga diduga dapat meningkatkan risiko terkena kanker darah, termasuk leukemia dan limfoma. Namun, dugaan ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Aspartam dalam makanan atau minuman yang dikonsumsi secara berlebihan juga dapat memicu alergi, gangguan pada kulit, depresi, tekanan darah tinggi, penyakit Alzheimer, dan multiple sclerosis. Oleh karena itu, batasi konsumsi aspartam atau ganti dengan pemanis alami seperti stevia.

Jika Anda memiliki kondisi medis tertentu, konsultasikan ke dokter terlebih dahulu sebelum mengonsumsi aspartam untuk memastikan keamanannya. Hal yang tak kalah penting, selalu gunakan aspartam sesuai dengan petunjuk yang tertera di kemasan atau yang disarankan oleh dokter. Jangan mengonsumsi aspartam melebihi batas anjuran untuk mencegah efek samping yang tidak diinginkan.