Diagnosis cacar air dapat ditetapkan dokter melalui pemeriksaan fisik, terutama dengan melihat kondisi ruam pada tubuh penderita. Di samping pemeriksaan fisik, dokter juga dapat melakukan tes darah untuk memastikan terjadinya infeksi virus, dan kultur sampel cairan ruam atau luka pada tubuh penderita untuk mengetahui penyebabnya, namun kedua hal tersebut jarang dilakukan.

Pengobatan Cacar Air

Cacar air yang terjadi pada penderita dengan sistem kekebalan tubuh yang baik tidak memerlukan pengobatan khusus. Namun, untuk meringankan gejala yang dialami penderita, beberapa upaya berikut ini dapat dilakukan di rumah, yaitu:

  • Banyak minum dan dan mengonsumsi makanan yang lembut dan tidak asin atau asam, terutama jika ruam cacar tedapat pada mulut.
  • Jangan menggaruk ruam atau luka cacar air, karena meningkatkan risiko infeksi. Guna mencegahnya, potong kuku hingga pendek atau kenakan sarung tangan, terutama saat malam hari.
  • Kenakan pakaian berbahan lembut dan ringan.
  • Mandi dengan air hangat, 3-4 kali sehari, selama beberapa hari setelah timbulnya ruam. Setelah itu, keringkan dengan cara tepuk-tepuk dengan handuk hingga kering.
  • Kompres ruam atau luka dengan air dingin untuk meringankan gejala gatal.
  • Beristirahat cukup dan hindari kontak dengan orang lain untuk mencegah penyebaran cacar air.

Di samping upaya mandiri di rumah, dokter juga dapat memberi salep atau obat minum, seperti antihistamin, untuk mengurangi rasa gatal. Sedangkan untuk meredakan demam dan nyeri, dokter dapat meresepkan paracetamol. Sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter jika hendak membeli obat pereda nyeri yang djual bebas di pasaran. Pemberian aspirin pada penderita cacar air tidak dianjurkan karena dapat memicu penyakit sindrom Reye. Begitu pula dengan obat antiinflamasi nonsteroid, seperti ibuprofen, yang dapat memicu infeksi sekunder atau kerusakan jaringan.

Di sisi lain, bagi penderita yang menggaruk ruam cacar air, maka ruam tersebut rentan mengalami infeksi bakteri. Bila terjadi infeksi bakteri sekunder, dokter dapat  memberi antibiotik yang sebetulnya tidak perlu diberikan bila menderita cacar air tanpa infeksi sekunder.

Sedangkan untuk penderita cacar air yang berisiko mengalami komplikasi, maka dokter dapat memberi obat antivirus, seperti acyclovir, valacyclovir, atau famciclovir. Obat jenis ini tidak menyembuhkan cacar air, tapi dapat menghambat aktivitas virus, sehingga gejala yang muncul lebih ringan. Dengan demikian, sistem imunitas tubuh dapat memulihkan tubuh lebih cepat.

Pasca kesembuhan dari cacar air, penderita berisiko mengalami infeksi lanjutan dari Varicella zoster yang menetap di dalam tubuh, yaitu cacar ular atau herpes zoster. Setelah sembuh dari cacar air, virus Varicella zoster akan menetap di dalam sel saraf dan dapat aktif kembali beberapa tahun kemudian dalam bentuk penyakit herpes zoster. Kemunculan cacar ular ini dialami oleh orang dewasa yang sudah terkena cacar air, terutama orang dengan sistem kekbalan tubuh yang rendah.