Camelon adalah obat untuk mengatasi peradangan pada beberapa kondisi, mulai dari radang sendi, reaksi alergi berat, hingga gangguan autoimun. Obat yang mengandung methylprednisolone ini tersedia dalam bentuk tablet dan suntik, yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter.

Methylprednisolone dalam Camelon bekerja dengan cara menghambat respons sistem imun tubuh yang berlebihan dan menyebabkan peradangan. Berbekal cara kerja ini, Camelon dapat digunakan untuk meredakan gejala peradangan, seperti kemerahan, nyeri, bengkak, sampai gatal-gatal.

Camelon

Selain meredakan peradangan, Camelon juga memiliki efek imunosupresif. Obat ini dapat menekan reaksi sistem kekebalan tubuh yang berlebihan. Itulah sebabnya, Camelon juga dapat diberikan untuk mengatasi penyakit autoimun, alergi berat, lupus, serta reaksi penolakan dari tubuh setelah transplantasi organ. 

Produk Camelon

Camelon tersedia dalam 3 varian, yaitu:

  • Camelon 4 mg 10 Tablet, yang mengandung 4 mg methylprednisolone tiap tabletnya
  • Camelon 8 mg 10 Tablet, dengan kandungan 8 mg methylprednisolone tiap tabletnya
  • Camelon suntik, yang mengandung 125 mg methylprednisolone tiap vial

Apa Itu Camelon

Bahan aktif Methylprednisolone 
Golongan Obat resep
Kategori Kortikosteroid
Manfaat Mengurangi gejala peradangan
Mengobati reaksi alergi 
Menangani penyakit autoimun, seperti lupus, rheumatoid arthritis, hingga multiple sclerosis
Digunakan oleh Dewasa dan anak-anak
Camelon untuk ibu hamil Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada ibu hamil.
Obat ini hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.
Camelon untuk ibu menyusui Camelon umumnya aman dikonsumsi oleh ibu menyusui selama digunakan sesuai anjuran dokter.
Bentuk obat Tablet dan suntik

Peringatan sebelum Menggunakan Camelon

Camelon merupakan obat resep yang penggunaannya harus sesuai petunjuk dokter. Sebelum menjalani pengobatan dengan Camelon, Anda perlu memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Beri tahu dokter mengenai riwayat alergi yang dimiliki. Camelon tidak boleh digunakan oleh orang yang alergi terhadap methylprednisolone atau bat kortikosteroid lain, seperti prednison.
  • Sampaikan kepada dokter jika Anda pernah atau sedang mengalami penyakit infeksi, seperti cacingan, infeksi jamur, atau herpes. Beri tahu juga jika Anda baru saja melakukan kontak erat dengan penderita cacar, TBC, atau campak.
  • Informasikan kepada dokter jika Anda pernah atau sedang menderita hipertensi, diabetes, serangan jantung, gagal jantung kongestif, penyakit ginjal, neuritis optik, kejang, hiperglikemia, katarak, glaukoma, penyakit liver, atau penyakit tiroid.
  • Bicarakan dengan dokter perihal penggunaan Camelon jika Anda sedang atau pernah menderita sindrom Cushing, tukak lambung, divertikulitis, depresi, penyakit tiroid, osteoporosis, psikosis, kolitis ulseratif, sarkoma Kaposi atau myasthenia gravis.
  • Konsultasikan dengan dokter mengenai konsumsi Camelon jika Anda sedang menggunakan obat lain, termasuk suplemen dan produk herbal. Tujuannya adalah untuk menghindari interaksi obat yang tidak diinginkan.
  • Pastikan untuk memberi tahu dokter bahwa Anda sedang menggunakan Camelon bila direncanakan untuk menerima vaksinasi, operasi, atau prosedur medis apa pun.
  • Jangan langsung melakukan aktivitas yang membutuhkan kewaspadaan, seperti mengemudi atau mengoperasikan alat berat, setelah menggunakan Camelon. Obat ini dapat menyebabkan pusing.
  • Hindari konsumsi minuman beralkohol selama menjalani pengobatan dengan Camelon. Hal ini untuk mencegah terjadinya perdarahan saluran pencernaan.
  • Jangan melakukan kontak erat dengan penderita infeksi yang mudah menular, seperti cacar air, flu, atau campak, jika Anda menjalani pengobatan jangka panjang dengan Camelon. Hal ini karena konsumsi obat tersebut dapat membuat Anda mudah tertular infeksi.
  • Diskusikan dengan dokter mengenai konsumsi Camelon jika Anda sedang hamil, menyusui, atau berencana untuk hamil.
  • Segera ke dokter jika Anda mengalami reaksi alergi obat atau efek samping serius setelah menggunakan Camelon.

Dosis dan Aturan Pakai Camelon

Dosis Camelon tergantung pada sediaan obat yang digunakan dan kondisi pasien. Secara umum, dosis Camelon yang diberikan kepada pasien adalah:

Camelon tablet

Tujuan: Meredakan peradangan dan mengobati reaksi alergi

  • Dewasa: 4–48 mg, 1 hari sekali. Dosis dapat ditingkatkan hingga 100 mg, 1 hari sekali untuk peradangan atau reaksi alergi akut dan tergolong berat.
  • Anak-anak: dosis ditentukan oleh dokter berdasarkan berat badan anak.

Camelon suntik

Dosis Camelon bentuk suntik ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi yang diderita pasien antara lain:

  • Peradangan berat pada kulit (suntikan langsung ke bagian kulit yang sakit), seperti gejala lupus pada kulit, plak psoriasis, alopecia areata, lichen planus, granuloma annulare, atau lichen simplex
  • Radang sendi yang berat (suntikan langsung ke sendi), yang meliputi bursitis, osteoarthritis, atau rheumatoid arthritis
  • Reaksi penolakan tubuh selama transplantasi organ
  • Penyakit autoimun
  • Multiple sclerosis
  • Asma berat (status asmatikus)

Cara Menggunakan Camelon dengan Benar

Pastikan untuk mengikuti anjuran dokter dan membaca petunjuk pada kemasan obat sebelum menggunakan Camelon. Jangan memakai obat ini melebihi dosis yang dianjurkan.

Untuk mengonsumsi Camelon bentuk tablet, perhatikan hal-hal berikut ini:

  • Konsumsilah Camelon bersama makanan atau susu untuk mencegah terjadinya sakit maag.
  • Apabila Anda lupa minum Camelon, segera konsumsi obat ini begitu teringat. Namun, bila sudah mendekati jadwal minum selanjutnya, abaikan dosis yang terlewat dan lanjutkan minum obat ini seperti biasa. Jangan menggandakan dosis untuk menggantikan dosis yang terlewat.
  • Hindari kontak erat dengan penderita infeksi yang mudah menular, seperti flu, campak, atau cacar air, jika Anda menjalani pengobatan jangka panjang dengan Camelon. Hal ini karena penggunaan obat tersebut bisa membuat Anda mudah tertular infeksi.
  • Jangan berhenti menggunakan Camelon tanpa anjuran dokter karena bisa memperburuk kondisi dan menyebabkan gejala putus obat. Bila memang obat ini perlu dihentikan, dokter akan menggantinya dengan obat lain atau menurunkan dosis secara bertahap.
  • Bila Anda mengonsumsi Camelon dalam jangka panjang, ikuti jadwal kontrol yang diberikan dokter. Hal ini agar kondisi dan hasil terapi dapat terpantau dengan baik.
  • Simpan Camelon di tempat bersuhu ruangan dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak.

Sementara itu, Camelon bentuk suntik akan diberikan langsung oleh dokter atau petugas medis di bawah pengawasan dokter. Obat ini disuntikkan langsung ke area kulit yang sakit, pembuluh darah, otot, atau persendian. 

Interaksi Camelon dengan Obat Lain

Penggunaan produk yang mengandung methylprednisolone, seperti Camelon,  bersama obat lain dapat menimbulkan efek interaksi, misalnya:

  • Penurunan efektivitas Camelon bila digunakan dengan phenytoin, phenobarbital, atau rifampicin 
  • Peningkatan risiko terjadinya perdarahan jika digunakan bersama obat antikoagulan, seperti warfarin
  • Peningkatan risiko terjadinya perdarahan saluran cerna jika digunakan bersama obat NSAID, seperti aspirin atau ibuprofen
  • Peningkatan risiko terjadinya hipokalemia bila dipakai bersama obat diuretik
  • Penurunan efektivitas vaksin hidup, seperti vaksin BCG atau vaksin influenza
  • Peningkatan risiko terjadinya efek samping Camelon bila digunakan dengan ketoconazole, cimetidine, atau tacrolimus
  • Penurunan efektivitas dari obat isoniazid dalam mengatasi tuberkulosis

Bicarakan dengan dokter sebelum menggunakan Camelon bersama obat lain, termasuk suplemen atau produk herbal apa pun.

Efek Samping dan Bahaya Camelon

Beberapa efek samping yang mungkin terjadi setelah menggunakan Camelon adalah:

  • Siklus haid tidak teratur
  • Sakit perut
  • Nyeri atau lemah otot
  • Sakit kepala, pusing, atau sensasi seperti berputar
  • Pembengkakan pada tangan atau kaki akibat penumpukan cairan di area tersebut

Konsultasikan dengan dokter lewat Chat Bersama Dokter jika keluhan di atas tidak kunjung mereda atau malah memburuk. Segera cari pertolongan medis jika Anda mengalami reaksi alergi obat atau efek samping yang lebih serius, seperti:

  • Luka yang sulit sembuh
  • Gangguan penglihatan, yang meliputi pandangan buram, nyeri pada mata atau penyempitan lapang pandang (tunnel vision)
  • Sesak napas meski hanya melakukan aktivitas ringan
  • Muntah dengan ampas seperti bubuk kopi, BAB berdarah, atau batuk berdarah
  • Berat badan naik drastis karena tubuh membengkak
  • Perubahan perilaku atau depresi berat
  • Gejala hipokalemia, seperti detak jantung tidak teratur, tubuh terasa lemah, atau kram di kaki
  • Kejang