Untuk mendiagnosis diabetes pada pasien, dokter akan menjalankan tes hemoglobin A1C (HbA1C). Tes HbA1C dilakukan untuk mengukur kadar rata-rata gula darah pasien dalam 2-3 bulan terakhir. Bila hasil tes HbA1C menunjukkan angka 6,5 atau lebih tinggi, tandanya pasien mengalami diabetes.

Bila pasien sedang dalam kondisi yang dapat memengaruhi hasil tes HbA1C, misalnya dalam masa kehamilan, dokter akan menjalankan tes lain, seperti:

Tes gula darah puasa

Dalam tes ini, dokter akan meminta pasien berpuasa semalam, sebelum sampel darah diambil dan diperiksa di laboratorium. Kadar gula pasien dinilai normal bila kurang dari 100 mg/dL. Sedangkan bila kadar gula darah dalam kisaran 100-125 mg/dL, artinya pasien dalam kondisi pradiabetes. Pasien baru akan didiagnosis diabetes bila kadar gula darah 126 mg/dL atau lebih.

Tes gula darah sewaktu

Sampel darah pasien akan diambil kapan saja, tanpa memerhatikan kapan terakhir kali pasien makan. Hasil tes darah yang menunjukkan 200 mg/dL atau lebih, artinya pasien mengalami diabetes. Dokter mungkin akan mengulang tes untuk memastikan hasilnya.

Pada pasien yang didiagnosis diabetes, dokter dapat menjalankan tes antibodi, guna memastikan apakah dia menderita diabetes tipe 1 atau diabetes tipe 2. Selain tes antibodi, terdeteksinya keton pada tes urine lebih dicurigai menderita diabetes tipe 1 dibanding diabetes tipe 2.