Kadar gula darah yang tinggi bisa menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah, saraf, dan organ tubuh. Karena itu, diabetes bisa memicu sejumlah komplikasi jika tidak dikendalikan dengan baik. Peningkatan kadar gula darah yang tidak signifikan dan tidak memicu gejala pun dapat mengakibatkan dampak jangka panjang.

Diabetes Retinopati

Diabetes dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah pada retina (retinopati). Pembuluh darah tersebut bisa tersumbat, bocor, atau tumbuh secara acak sehingga menghalangi cahaya untuk mencapai retina. Komplikasi ini dapat mengakibatkan kebutaan jika dibiarkan.

Memeriksakan mata Anda tiap tahun akan membantu pendeteksian dini retinopati sehingga dapat ditangani secepatnya.

Retinopati diabetik yang terdeteksi sejak dini dapat ditangani dengan operasi laser. Tetapi, prosedur ini hanya untuk mempertahankan daya penglihatan dan bukan menyembuhkan.

Diabetes Neuropati (Kerusakan Saraf)

Kelebihan glukosa darah dapat merusak pembuluh darah halus dan saraf. Hal ini dapat memicu sensasi kesemutan atau perih yang biasa berawal dari ujung jari tangan dan kaki, lalu menyebar ke bagian tubuh lain. Neuropati yang menyerang sistem pencernaan dapat menyebabkan mual, muntah, diare, atau konstipasi.

Sesuatu yang biasa terlambat kita sadari, yaitu kerusakan pada saraf atau terhambatnya aliran darah pada kaki bisa meningkatkan risiko terjadinya komplikasi kesehatan kaki. Jika dibiarkan, luka serta goresan kecil pada kaki penderita diabetes dapat berkembang menjadi infeksi serius.

Penderita yang telah mengalami kerusakan saraf sebaiknya mengecek kondisi kakinya tiap hari. Apabila terjadi perubahan, konsultasikanlah dengan dokter. Pemeriksaan kondisi kaki oleh dokter juga dianjurkan setidaknya sekali dalam setahun. Komplikasi pada kaki yang harus Anda waspadai adalah:

  • Luka yang tidak kunjung sembuh.
  • Kulit yang terasa panas saat disentuh.

Penyakit Jantung serta Stroke

Penderita diabetes memiliki risiko lima kali lebih tinggi untuk terkena penyakit jantung atau stroke. Kadar gula darah yang tidak seimbang dan dibiarkan cukup lama akan meningkatkan risiko atherosklerosis, yaitu penyempitan aliran pembuluh darah yang biasanya terjadi akibat akumulasi kolesterol. Komplikasi ini memiliki risiko-risiko berikut:

Menghambat aliran darah ke jantung dan menyebabkan serangan angina (dikenal dengan istilah angin duduk). Serangan angina diindikasikan dengan adanya sakit dada yang terasa menekan.

Menyebabkan serangan jantung atau stroke karena meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah pada jantung atau otak.

Diabetes Nefropati (Kerusakan Ginjal)

Ginjal memiliki jutaan pembuluh darah halus yang menyaring limbah dari darah. Jika pembuluh darah halus tersebut tersumbat atau bocor, kinerja ginjal Anda akan menurun.

Kerusakan parah pada ginjal dapat menyebabkan gagal ginjal. Apabila mengalami gagal ginjal, Anda akan membutuhkan dialisis (cuci darah) atau bahkan transplantasi ginjal.

Disfungsi Seksual

Diabetes dapat merusak pembuluh darah halus serta saraf. Karena itu, para penderita diabetes pria (terutama yang merokok) dapat mengalami disfungsi ereksi. Gangguan ini biasanya dapat diatasi dengan obat-obatan.

Sementara, penderita diabetes wanita juga berpotensi mengalami gangguan disfungsi seksual, seperti kepuasan seksual yang menurun, kurangnya gairah seks, gagal mencapai orgasme, rasa sakit saat berhubungan intim, serta vagina yang kering. Penanganan pada penderita diabetes wanita yang mengalami kekurangan cairan vagina atau merasa sakit saat berhubungan intim dapat menggunakan pelumas atau gel.

Keguguran dan Lahir Mati pada Janin

Penyakit ini dapat membahayakan sang ibu maupun janin. Risiko keguguran dan kelahiran mati akan meningkat apabila diabetes ibu hamil tidak ditangani dengan saksama. Kadar gula darah yang tidak dijaga dengan baik pada masa awal kehamilan sang ibu juga bisa mempertinggi risiko cacat lahir.

Ibu hamil yang menderita diabetes dianjurkan untuk memeriksakan kondisi diabetesnya secara teratur ke rumah sakit atau klinik. Konsultasi rutin ini akan mempermudah dokter untuk memantau kadar gula darah sang ibu dan mengendalikan dosis insulin yang harus diberikan.