Komplikasi yang dapat terjadi akibat disentri meliputi:

  • Dehidrasi
    Diare dan muntah yang parah dapat menyebabkan dehidrasi berat. Hal ini bisa membahayakan jiwa bila tidak segera ditangani, terutama pada anak-anak.
  • Kadar kalium rendah
    Kadar kalium dapat menjadi sangat rendah karena kalium keluar bersama air saat muntah atau diare. Kondisi ini bisa menyebabkan gangguan irama jantung yang mengancam nyawa.
  • Sindrom hemolitik uremik
    Sindrom hemolitik uremik dapat terjadi akibat racun yang dihasilkan bakteri Shigella masuk ke dalam aliran darah. Racun ini dapat merusak sel darah merah dan pembuluh pada organ tubuh, terutama ginjal.
  • Infeksi darah
    Bakteri atau ameba penyebab disentri dapat masuk ke aliran darah. Kondisi ini jarang terjadi dan umumnya hanya menimpa seseorang dengan daya tahan tubuh lemah, seperti penderita HIV/AIDS atau kanker.
  • Kejang
    Meski jarang terjadi, diarea terkadang dapat menyebabkan kejang pada anak-anak.
  • Postinfectious arthritis
    Kondisi ini dialami oleh sekitar 2% penderita disentri yang disebabkan oleh bakteri Shigella flexneri. Gejalanya meliputi iritasi mata, nyeri sendi, dan rasa sakit saat buang air kecil. Keluhan tersebut dapat dirasakan hingga beberapa bulan atau tahun.
  • Abses hati
    Ameba dapat menyebar dari usus dan menyebabkan abses hati. Pada kondisi yang lebih parah, ameba juga dapat menyebar ke otak dan paru-paru.
  • Megakolon
    Megakolon dapat terjadi jika infeksi menyebabkan peradangan yang berat. Peradangan ini dapat menyebabkan usus besar mengembang dan menipis, bahkan bisa sampai pecah.
  • Prolaps rektum
    Ketika disentri menyebabkan diare yang sangat parah, otot di bagian dubur dapat melemah. Hal ini dapat menyebabkan rektum atau bagian akhir dari usus besar keluar dari dubur.