Disentri bakteri ringan bisa sembuh sendiri dalam beberapa hari, dengan istirahat yang cukup dan menjaga asupan cairan tubuh. Penting untuk sering minum, meski dalam jumlah sedikit, terutama pada anak. Namun, hindari memberi anak jus buah atau minuman bersoda, karena bisa memperparah diare. Bila pasien mengalami dehidrasi berat, dokter akan memberikan cairan pengganti melalui infus.

Pada pasien usia lanjut atau yang rentan mengalami dehidrasi, dokter akan memberikan oralit. Oralit berfungsi untuk mengganti garam, gula, dan mineral yang hilang dari tubuh akibat dehidrasi. Perlu diketahui, meski mampu menangani dan mencegah dehidrasi, oralit tidak mengobati diare.

Selain menjaga cairan tubuh, penting untuk mengonsumsi makanan padat dan ringan dalam porsi kecil. Namun hindari makanan berat, berlemak, dan pedas. Pemberian makanan padat pada anak yang mengalami dehidrasi sebaiknya ditunda, sampai tanda-tanda dehidrasi sudah berhenti. Bila anak tidak mau atau sulit makan, tetap penuhi kebutuhan cairan anak hingga nafsu makan kembali normal.

Selain metode di atas, penderita juga bisa menggunakan obat-obatan yang dijual bebas. Beberapa jenis obat yang bisa digunakan, antara lain bismuth subsalisilat untuk meredakan kram perut dan diare, serta paracetamol guna meredakan nyeri dan demam. Hindari penggunaan obat yang memperlambat kerja usus, seperti loperamide, karena akan memperparah gejala.

Pada disentri bakteri parah, dokter akan meresepkan antibiotik seperti ciprofloxacin. Namun demikian, pemberian antibiotik berisiko membuat bakteri penyebab diare ini kebal terhadap antibiotik yang diresepkan. Segera hubungi dokter bila gejala tetap berlangsung, meski sudah mengonsumsi antibiotik. Sedangkan untuk menangani disentri ameba, dokter akan meresepkan obat seperti metronidazole, untuk membunuh parasit penyebab diare.

Komplikasi Disentri

Disentri pada bayi dan anak-anak cepat menyebabkan dehidrasi. Karena itu, disarankan banyak minum untuk mengganti cairan tubuh yang hilang. Penting untuk memperhatikan tanda dehidrasi, terutama bila anak masih berusia di bawah 1 tahun, atau di bawah 2 tahun tapi dengan berat badan lahir rendah. Waspadai kemungkinan dehidrasi bila anak sudah 5 kali diare dan 2 kali muntah dalam 24 jam, atau tiba-tiba berhenti menyusu.

Selain dehidrasi, komplikasi lain yang dapat terjadi akibat disentri adalah:

  • Sindrom hemolitik uremik. Sindrom hemolitik uremik terjadi akibat bakteri Shigella dysenteriae menghasilkan racun yang merusak sel darah merah.
  • Infeksi darah. Kondisi ini jarang terjadi, dan umumnya hanya menimpa seseorang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, seperti penderita HIV/AIDS atau kanker.
  • Kejang. Tidak diketahui mengapa dapat timbul kejang. Meski demikian, komplikasi ini jarang terjadi.
  • Postinfectious arthritis. Kondisi ini menimpa sekitar 2% penderita disentri yang disebabkan bakteri Shigella flexneri. Gejala dapat dirasakan hingga beberapa bulan atau tahun, meliputi iritasi mata, nyeri sendi, serta rasa sakit saat buang air kecil.
  • Abses hati. Meski jarang, disentri ameba dapat menyebabkan abses hati, yang juga dapat menyebar ke otak dan paru-paru.