Dokter dapat mencurigai seorang pasien terkena epilepsi apabila dia telah mengalami kejang lebih dari satu kali. Selain itu dokter juga perlu mengetahui gejala dan ciri-ciri kejang yang dialami. Penelurusan kejang pasien juga dapat dilakukan dengan bertanya pada orang yang menyaksikan kejang tersebut.

Untuk memulai diagnosis, dokter perlu melakukan pemeriksaan fisik, terutama pemeriksaan kondisi saraf pasien, memantau perilaku, kemampuan motorik, dan fungsi mental. Dokter juga akan melakukan tes neuropsikologi, yang dilakukan untuk menilai kemampuan berpikir dan berbicara untuk mengetahui area otak mana yang terganggu. Penetapan diagnosis dilaksanakan setelah sejumlah tes penunjang dilakukan guna mengetahui kondisi abnormal pada otak. Tes tersebut berupa:

  • Pemindaian otak dengan MRI atau CT scan.Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat gambaran otak sehingga dapat mendeteksi kondisi yang abnormal.
  • Electroencephalogram atau EEG. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui adanya gangguan pada impuls atau aktivitas elektrik di dalam otak yang dapat menyebabkan kejang.
  • Tes darah. Pemeriksaan ini untuk mengetahui kondisi genetik, infeksi, atau kondisi lain yang terkait dengan kejang.

Diagnosis yang akurat perlu dilakukan guna menentukan pengobatan yang efektif.