Penyakit epilepsi tidak dapat disembuhkan. Kendati demikian, pemberian obat secara tepat dapat menstabilkan aktivitas listrik dalam otak, serta dapat mengendalikan kejang pada penderita epilepsi. Dalam meresepkan obat, dokter perlu mempertimbangkan usia, jenis kejang, kondisi pasien, serta obat-obatan lain yang dikonsumsi pasien.

Obat yang diresepkan dokter adalah obat antikejang (antikonvulsan), atau dikenal juga dengan obat Obat jenis ini dapat mengubah cara kerja dan pengiriman sinyal atau pesan dari sel otak. Contoh obat antiepilepsi adalah asam valproat, carbamazepine, lamotrigine, levetiracetam, dan topiramate.

Pemberian obat antiepilepsi diawali dengan dosis yang rendah, lalu dosis akan diitingkatkan secara perlahan. Untuk memantau respons tubuh terhadap pemberian obat, pasien perlu memeriksakan darahnya sebelum dan selama mengonsumsi obat. Di sisi lain, obat antiepilepsi juga dapat berinteraksi dengan pil KB. Oleh karena itu, dokter perlu menyesuaikan alat kontrasepsi yang dibutuhkan.

Sama seperti obat lainnya, obat antiepilepsi juga berisiko menimbulkan efek samping, baik yang tergolong ringan atau juga parah. Beberapa efek samping obat antiepilepsi yang tergolong ringan, di antaranya:

  • Kenaikan berat badan
  • Pusing
  • Lemas
  • Penurunan kepadatan tulang
  • Daya ingat berkurang
  • Bicara tidak lancar
  • Hilangnya koordinasi gerakan
  • Ruam kulit.

Sedangkan efek samping obat antiepilepsi yang tergolong berat, antara lain:

Selama pengobatan, pasien diharuskan untuk mengonsumsi obat antiepilepsi sesuai aturan yang ditetapkan dokter, dan tidak berhenti mengonsumsi obat tanpa sepengetahuan dokter.

Jika pemberian obat antiepilepsi belum bisa mengendalikan kejang pada penderita epilepsi, maka dokter dapat melakukan operasi epilepsi untuk menghilangkan bagian otak yang menyebabkan kejang. Pelaksanaan operasi ini dapat dilaksanakan jika kejang disebabkan masalah pada bagian otak yang dapat dihilangkan tanpa menimbulkan efek samping berarti, misalnya kemampuan bicara, bahasa, fungsi motorik, pendengaran, atau penglihatan.

Di samping pemberian obat dan operasi, sejumlah terapi juga dapat diterapkan pada penderita epilepsi yang mengalami kejang. Terapi tersebut berupa pemasangan stimulator saraf di bawah kulit daerah tulang selangka (saraf vagus), untuk mengurangi frekuensi dan intensitas kejang.

Terapi lainnya adalah pemasangan elektroda pada bagian otak yang disebut thalamus, yang disambungkan dengan stimulator di tulang dada atau tulang kepala, untuk mengirim sinyal listrik pada otak dan meredakan kejang. Terapi ini disebut deep brain stimulation.

Sedangkan terapi yang cukup efektif dalam mengatasi kejang pada penderita anak-anak adalah dengan diet ketogenik (pola makan dengan kadar lemak tinggi, kadar protein rendah, dan bebas karbohidrat). Sementara, terapi tambahan untuk menghindari pemicu kejang dapat dilakukan dengan aromaterapi yang membuat penderita merasa rileks dan meredakan stres.

Dalam kasus epilepsi idiopatik di mana penyebabnya belum diketahui, maka langkah yang bisa dilakukan adalah menghindari pemicu yang menimbulkan kejang.